
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu, dan itu adalah Febby. Yana mempersilakannya masuk ke dalam, dan Febby memberikan rantang dalam genggaman tangannya.
"Apa ini?" Yana melirik ke arah rantang.
"Tebak saja, menurutmu apa." jawab Febby.
"Aku tidak tahu." ujar Yana.
"Itu adalah kue brownies buatan ku sendiri. Cepat coba sekarang!" Febby mengembangkan senyumannya.
"Pasti enak! Cobain sekarang ah!" ucap Yana.
"Iya, jangan lupa berikan komentar." jawab Febby.
Yana memotong kue dengan pisau kecil, lalu dikejutkan dengan sebuah tangan yang menyambarnya.
"Humm... enak banget kuenya." ujar Kaila.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mengambilnya. Ini tuh bagianku, dibawakan oleh Kak Febby." jawab Yana.
"Jangan pelit gitulah Kak." ucap Kaila.
"Kamu yang harusnya jangan mengemis! Pakai pasang muka melas lagi." jawab Yana.
Yana dan Febby berjalan kaki seperti biasa, karena jarak rumah dengan tempat kerja sangat dekat. Kali ini membawa kelinci Bubu, untuk inspirasi membuat sketsa.
"Eh, kok aku merasa kayak ada yang mengikuti iya." ujar Yana.
"Ah kamu, jangan membuatku parno deh." jawab Febby.
"Aku serius tau!" ucap Yana.
Febby menoleh ke arah belakang, ternyata hanya ada pohon pisang. "Cuma pohon pisang doang!"
Mereka melanjutkan perjalanan, sampai Yana merasa ada yang mengganjal. Dia seperti diikuti oleh seseorang, namun sengaja bersembunyi.
"Kamu ngelihat apa sih?" Febby melihat Yana, yang celingak-celinguk.
"Kok pohon pisang itu aneh, dia bisa mengikuti kita." jawab Yana.
"Apanya yang tidak mungkin, jelas-jelas jalan." jawab Yana.
Yana hendak mendekatinya dengan berjalan perlahan. Chaka yang bersembunyi, tidak sengaja menggigit daun pisang.
"Buek... pait... pait..." Chaka membuka mulutnya lebar-lebar.
Tiba-tiba saja ada yang memanggil nama Yana, jadi Chaka berhasil tidak ketahuan. Yana segera kembali ke posisi didekat Febby.
"Kau ngapain di sini?" tanya Yana.
"Hanya kebetulan lewat saja." jawab Ronal.
"Kau tidak tahu saja, meskipun buta dia rajin olahraga." sahut Febby.
"Wah benarkah, pantas saja punya badan seperti model." puji Yana sungguhan.
Chaka merobek daun, agar memberinya celah mengintip. Dia merasa kesal, lihat Yana bisa seakrab itu. Padahal dirinya harus dianggap, meski itu sedikit saja.
”Ah kau keterlaluan, bahkan aku juga bisa bertindak keterlaluan. Kau lihat saja nanti! Mengapa aku bisa terprovokasi, oleh omongan dua K tidak bermutu itu. Bisa-bisanya aku mengikuti Yana, bahkan menjadi tumbuhan berjalan sendiri.” batin Chaka.
"Mengapa gelas di pantry berminyak?" tanya Chaka.
"Sudah kami bersihkan tuan." jawab semua pekerja.
"Apa kalian tidak dapat membedakan, mana yang sudah dan belum. Kalian pandang baik-baik, mengapa berminyak seperti ini." gerutu Chaka.
Mereka menatap rinci, gelas yang ada dalam genggaman Chaka. Iya memang terlihat berminyak, namun tidak terlalu juga. Seharusnya tidak perlu dimasalahkan, pikir mereka semua.
"Cepat cuci ulang!" titah Chaka.
"Baik tuan muda." jawab mereka.
Chaka berjalan menuju ruangannya, lalu mengambil gelas di atas nakas. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat sebutir kopi di sana.
"Hah, aku benci dengan kotoran! Mengapa mereka tidak teliti si, dan selalu saja tuli. Setiap hari aku harus memperingati mereka." gerutu Chaka.
Seleranya untuk minum sudah hilang duluan, akibat sebutir kopi pada bibir gelas. Dia segera duduk di kursi putarnya, melanjutkan pekerjaan yang belum diselesaikan.