Love Scandal

Love Scandal
Part 97 ~ Love Scandal



Laju motor yang berada di atas kecepatan rata-rata tidak membuat Dito takut, karena di hati dan pikirannya sekarang hanya ada nama Alana yang terus terlintas.


Pria itu sangat menyesal telah meninggalkan putrinya dalam keadaam tertidur, andai tahu akan seperti ini Dito tidak akan beranjak meski satu langkah saja.


Tepat saat motor berhenti di depan rumah, Dito berlari dengan langkah lebarnya menuju kamar sang putri.


Memeluk putrinya yang terlihat sangat pucat dan hidung memerah. Mengecup kening Alana berulang kali sambil mengumamkan maaf.


"Maafin Daddy, harusnya daddy nggak maksa Alana buat pergi," lirih Dito. Tidak terasa air matanya mengalir.


Rasa sesak dia terima saat mendengar kabar putrinya demam tinggi usai bangun tidur.


"Alana mau mommy," lirih Alana hampir tidak terdengar.


"Iya Sayang, Daddy bakal nyari mommy buat Alana. Nggak harus tante cantik kok," bisik Dito mengusap surai panjang milik Alana.


Sementara gadis kecil itu terus bergumam tidak jelas. Sakit kepala melanda dan suhu tubuh yang sangat tinggi. Dokter telah memeriksa tapi suhu tubuhnya tidak kunjung turun.


"Alana udah minum obat, Mah?" tanya Dito tanpa menatap mamanya. Sibuk pada Alana yang terlihat tidak berdaya.


"Udah Sayang, mamah telpon kamu karena sejak tadi dia manggil-manggil kamu dan Mommy. Apa nggak sebaiknya kita suruh Rora buat ...."


"Nggak! Alana dan Aurora nggak boleh ketemu dalam kurung waktu yang nggak bisa Dito tentukan! Kalau aja sejak awal mereka nggak ketemu putri Dito nggak bakal sakit, Mah!" Tegas Dito.


Dada pria itu bergemuruh hebat, andai bisa memindahkan rasa sakit, maka Dito rela menanggung sakit yang diderita putrinya.


Jangankan organ tubuh, Dito rela menyerahkan nyawanya jika itu demi kebaikan Alana.


"Mommy," lirih Alana lagi.


"Iya, bentar lagi mommy datang Sayang. Alana bobo ya, daddy peluk sampai bangun," bisik Dito.


"Mau beri Alana mommy cantik?"


"Daddy bakal beri Alana mommy yang jauh lebih cantik dari mommy Rora."


"Daddy nggak bohong?"


Dito mengangguk cepat, memeluk putrinya sambil berbaring. Berharap demam Alana cepat mereda atau Dito benar-benar akan mengamuk pada Aurora.


Jarum jam terus berpindah angka seiring nafas hangat Alana mulai teratur, suhu tubuh tidak setinggi tadi. Namun, itu belum bisa menghilangkan kekhawatiran Dito akan kodisi putrinya.


Dito tidak ingin kejadian tiga tahun yang lalu terulang, dimana Alana harus terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.


Dito meletakkan jarinya tepat di bibir saat pintu kamar dibuka oleh mamahnya, seakan menyuruh agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat Alana terbangun.


"Udah tidur?"


Dito mengangguk.


"Di bawah ada Diandra, katanya kamu yang nyuruh ke rumah."


"Suruh naik aja Mah," sahut Dito dengan suara pelan.


Mamah Dito mengangguk dan meninggalkan putra beserta cucunya. Menemui keponakan tercinta yang berada di lantai bawah.


Ternyata Diandra tidak datang sendiri, ada sang pacar yang menemani.


"Nanti aku telpon kalau mau balik. Janji nggak macem-macem Sayang," ujar Diandra mendorong pundak Canra agar segera pergi.


Agaknya pria itu engang meninggalkan pacarnya sendirian.


"Ck, Dito itu sepupu aku, dan dilihat dari manapun kamu tetap tampan dan menawan."


"Serius ih," rengek Canra menarik-narik jari lentik Diandra.


"Tiga rius Sayangku!" Gemes Diandra.


Aksinya keduanya harus berhenti kerena kedatangan mamah Dito.


"Nak, langsung ke kamar aja!"


"Iya tante," sahut Diandra bertepatan dengan pesan yang dikirim oleh Dito.


Sama Canra sekalian! Gue tahu dia sama lo


Itulah isi pesan Dito yang kini berdiri di balkon kamar, sehingga bisa melihat motor Canra.


...****************...


Oh iya jangan lupa mampir di novel teman aku ya🤗