
Mulai mengemas semua barang-barangnya untuk bekal kabur bersama Dito adalah hal yang Aurora lakukan saat ini setelah mengurus cuti berdua di kampus.
Tidak lupa Aurora mengambil beberapa uang tunai untuknya hidup di luar sana. Memang Aurora tidak berani mengatakan bahwa hamil di luar nikah sebab takut diusir dan menjadi gelandangan di luar sana. Namun, melihat kesungguhan Dito, Aurora berani mempertaruhkan hidupnya untuk memulai hidup berdua dengan pria yang belum lama dia kenal.
Wanita berbadan dua itu memijit pangkal hidungnya ketika merasakan kepalanya nyut-nyutan entah karena apa. Yang ingin Aurora lakukan hanya berbaring saja, tapi pesan dan panggilan Dito sudah menghantuinya sejak tadi bahwa sudah siap kabur jam 2 dini hari.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" Panggilan Mommy Aurora terdengar di balik pintu membuat wanita itu buru-buru mendorong kopernya ke sisi tidak terlihat dari pintu kamar. Setelahnya membuka kamar dengan senyuman di bibir pucatnya.
"Belum Mom, ini mau ikut makan malam sama Mommy." Cengir Aurora tidak ingin menatap mommynya, takut kalau saja kebohongan yang berusaha dia sembunyikan terdeteksi.
"Ayo Sayang, Daddy udah nunggu dari tadi." Merangkul tubuh ringkih Aurora, sesekali mengecup keningnya.
Baru saja selesai menapaki anak tangga terakhir, keseimbangan Aurora mulai hilang karena sakit kepala yang tidak kunjung mereda.
"Nak, kamu baik-baik saja?"
"Ro-rora baik-baik ...."
Brugh
Tubuh Aurora terjatuh ke lantai karena tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Membuat sang mommy tentu saja berteriak histeris.
"Daddy, Rora pingsan!" teriak mommy Aurora yang panik bukan main melihat putri satu-satunya jatuh pingsan secara tiba-tiba.
Dengan sigap Daddy Aurora yang tadinya berada di meja makan langsung membopong tubuh lemah Aurora menuju kamar. Makan malam yang harusnya berlangsung harus di sia-siakan begitu saja.
***
Baru jam 11 malam, Dito memutuskan untuk menunggu di markas bersama anggotanya yang lain minus sahabat-sahabatnya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Terlebih Dito memang tidak memberitahukan pada siapapun bahwa akan kabur.
Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka setengah 2 dini hari, barulah Dito melajukan mobilnya menuju lingkungan rumah Aurora.
Duduk di dalam mobil sambil terus mengirim pesan dan menelpon berulang kali. Sayangnya Aurora menolak semua panggilan Dito, pesanpun hanya dilihat tanpa ada balasan.
"Ck, nih anak niat kabur nggak sih? Lo kira gue bakal rugi kalau nggak jadi? Yang malu bukan gue goblok, tapi lo!" omel Dito pada ponselnya yang menampilkan panggilan pada Aurora.
Lelah menunggu hingga jarum jam menunjukkan angka 3 dini hari membuat Dito terlelap di dalam mobilnya. Menjatuhkan ponsel entah kemana dan dengkuran halus mulai terdengar.
Sementara di sisi lain Aurora terus saja memejamkan matanya meski telah sadar berjam-jam yang lalu. Wanita itu takut membuka mata bahkan saat ponselnya terus bergetar.
Di dalam kamar kedua orang tuanya sedang berjaga bahkan telah mengetahui kehamilannya dari dokter yang memeriksa.
"Daddy, putri kita belum sadar juga. Mommy takut kalau aja terjadi sesuatu." Samar-samar Aurora masih bisa mendengar rengekan mommynya.
Namun, sepertinya daddy Aurora tidak seramah itu untuk memaafkan aib yang baru saja putrinya lempar di saat pria paruh baya itu memberikan kepercayaan penuh pada putri satu-satunya.
"Tenanglah dia bakal bangun cepat atau lambat!" ucap daddy Aurora penuh tekanan, setelahnya meninggalkan kamar. Mommy Aurora mengikuti langkah suaminya keluar kamar, meletakkan ponse putrinya di atas nakas.
Dengan sigap Aurora mengambil ponselnya setelah memastikan kedua orang tuanya telah pergi. Mencoba menghubungi Dito berkali-kali tapi tidak ada jawaban apapun. Ketakutan mulai menghampiri Aurora saat ini. Terlebih mommy sejak tadi sibuk menolak panggilan pria itu.
"Dito pasti mau tanggung jawab, terlebih orang tua gue udah tau. Gue nggak mau jadi gelendangan," gumam Aurora mengigit bibir bawahnya.
Tatapan wanita itu tertuju pada jendela yang sangat gelap meski jarum jam sudah menunjukkan angka 3 dini hari.