Love Scandal

Love Scandal
Part 24 ~ Love Scandal



Untuk pertama kalinya setelah menikah, Aurora bangun lebih awal dari Dito. Wanita itu bangun hanya untuk menyiapkan sarapan bersama meski tidak tahu apapun.


Aurora mencepol rambutnya yang sedikit bergelombang setelah memakai aprom. Wanita itu akan membuat sarapan berbekal tutorial yang dia dapatkan dari sosial media.


Sesekali Aurora melirik ponselnya untuk memastikan bahan yang dia ambil sudah sesuai dengan video. Memotong sayuran, sosis dan beberapa bahan nasi goreng persis seperti video.


"Auwwwww." Aurora meringis ketika pisau tajam mengenai tangannya hingga berdarah. Wanita itu buru-buru mencucinya agar tidak menodai bahan-bahan makanan yang telah dia cuci.


Wanita itu terkejut saat seseorang membantu dirinya mencuci tangan.


"Ngapain di dapur pagi-pagi sih? Kan bisa pesan, Rora!" omel Dito yang terbangun mendengar teriakan istrinya.


Rambut acak-acakan malah semakin membuat pria itu terlihat sangat tampan.


Aurora terpaku, jantungnya berdetak tidak karuan karena posisinya dengan Dito sangatlah intim. Tangan kiri pria itu bertumpu pada pinggiran wastafel, sementara tangan kanan mengenggam tangannya, sehingga posisi Dito seakan memeluk dari belakang.


"Kenapa diam?"


"Ng-nggak papa. Gue mau belajar masak aja biar jadi istri yang baik. Kan katanya kalau dijalain dengan baik, seumur hidup nggak bakal lama," jawab Aurora cepat.


"Ck, mau jadi istri idaman ternyata. Mau dibantuin nggak?" Dito mengulum senyum. Rasanya senang melihat Aurora antusias ingin memperhatikan dirinya.


"Andai aja dia Alana," batin Dito terus menatap Aurora dari samping tanpa wanita itu sadari.


"B-boleh. Lo tinggal ajarin aja cara masaknya gimana, biar gue yang ngerjain," sahut Aurora cepat.


Mengeringkan tangannya dan menjauhi Dito yang masih mematung di tempatnya.


Seperti permintaan Aurora, Dito dengan telaten membantu istrinya hingga sarapan jadi dan tersaji di meja makan.


"Seru ya kalau masak bareng gini," celetuk Dito mengunyah nasi goreng di mulutnya. Menatap Aurora yang juga tampak menikmati masakan pertamanya.


"Iya seru, lain kali kita lakuin gimana?"


"Setiap hari?" Alis Dito terangkat.


"Boleh." Aurora mengangguk antusias.


Sampai sekarang perasaan pria itu tidak berkurang sedikitpun pada Alana meski tahu wanita yang dia cintai telah bahagia bersama pilihannya. Dito tidak menyalahkan Alana dalam hal sakit hatinya, sebab dia yang bodoh tidak berani mengungkapkan rasa dan selalu bersembunyi dalam hubungan persahabatan.


***


Mengawali pagi dengan senyuman bersama sang suami tidak membuat hari Aurora akan bahagia hingga malam tiba. Baru jam 2 siang, mental Aurora telah terguncang akan teroror yang dia dapatkan di kamar mandi.


Wanita itu yakin yang melakukan semuanya adalah Aron.


Darahnya segar banget, Sayang. Kira-kira darah Dito sesegar itu nggak?


Nafas Aurora memburu, wanita itu lantas membuang botol mininum berisi darah dan suratnya ke tempat sampah kamar mandi. Dia tidak pernah menyangka bahwa Aron adalah pria gila. Selama ini wanita itu hanya terlena akan kata-kata manis dan paksaan Aron saja.


"Lama banget, Ra. Panggilan alamnya sepanjang apa sih? Rel kereta api?" tanya Dito yang bersandar pada daun pintu toilet perempuan dengan tangan berada di saku celananya.


Dito tidak dapat mendengar suara kecil sebab memaki Earphone.


"U-udah," ucap Aurora baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat.


Dito mengerutkan keningnya, menyentuh kening Aurora untuk memastikan apa istrinya baik-baik saja atau tidak.


"Are you oke, Rora?"


"K-kita pulang aja ya! Nggak usah jalan-jalan dulu. Gue tiba-tiba nggak mood."


Dito menghela nafas panjang. "Okelah." Mengenggam tangan Aurora untuk meninggalkan kampus karena kelas mereka telah selesai.


Sepanjang perjalanan pulang Aurora hanya berdiam diri tidak seperti biasanya membuat Dito mulai curiga akan tingkah wanita itu.


"Lo nyembunyiin sesuatu sama gue?" tanya Dito akhirnya.


"Nyembunyin apa?" tanya balik Aurora.


"Sejak semalam lo jadi aneh, setiap kali ditinggal sendiri selalu bertingkah aneh. Lo pasti tau orang yang neror tapi nggak mau ngomong ke gue!" tebak Dito tanpa menoleh pada Aurora yang wajahnya semakin pucat.


Keinginan untuk bunuh diri dalam pikiran Aurora semakin besar saat ini.