Love Scandal

Love Scandal
Part 60 ~ Love Scandal



Bolehkan Dito sekarang menyesal telah melepaskan Aurora dalam hidupnya hanya karena mementingkan Ego dan harga diri? Memikirkan Aurora bersama dengan orang lain adalah hal yang paling menyakitkan bagi Dito.


Pria yang berniat akan mengantarkan kepergian mantan istrinya kini berakhir di sebuah dermaga tanpa memperdulikan terik matahari yang mulai menyengat hingga tulang-tulang.


"Bodoh!" teriak Dito dengan dada terasa sesak.


Dulu dia melepaskan wanita yang dia cintai karena tidak bisa jujur tentang perasaanya pada Alana. Sekarang, dia harus kehilangan Aurora karena Ego dan harga dirinya.


Sepertinya Dito memang ditakdirkan untuk tidak memiliki wanita dalam hidupnya.


Pria itu mengusap wajahnya kasar. Semakin hari, rasa kehilangan semakin menggunung di hatinya.


Lama Dito berada di pinggir dermaga, sebelum akhirnya pulang ketika teringat oleh putrinya di rumah. Dia membalik tubuhnya dan mematung saat tidak sengaja melihat wanita yang bersiap melompat dari pembatas dermaga.


Tidak ingin melihat orang bunuh diri, Dito berlari dengan kaki panjangnya untuk melolong perempuan tersebut. Namun, langkahnya kalah cepat dengan pria yang sangat Dito kenali.


Rayhan. Pria itu adalah Rayhan. Dito baru sadar jika perempuan yang hampir melompat dari pinggir dermaga adalah Giani.


Dia memundurkan langkahnya dan berlalu pergi, tidak ingin menganggu keduanya. Terlebih hati Dito sekarang tidak baik-baik saja.


Sepeninggalan Dito, kini yang berada di dermaga hanya Rayhan dan Giani saja. Rayhan terus memeluk tubuh Giani yang bergetar.


Kondisi gadis itu sangat kacau, air mata membasahi pipinya. Gadis yang sejak duduk di bangku SMA tidak pernah memperlihatkan air matanya kini menangis pilu.


"Bunuh diri bukan jalan satu-satunya keluar dari masalah Gi," bisik Rayhan di telinga mantan pacarnya.


"Lepasin gue! Lo nggak jauh beda sama pria diluar sana!" pekik Giani berusaha melepaskan dekapan Rayhan dari tubuhnya.


Rayhan adalah pria pertama yang membuatnya jatuh cinta setelah dikecewakan olah ayahnya. Namun, Rayhan adalah pria kedua yang telah mematahkan harapannya setelah ayah.


Karena keteguhan, segala tingkah konyol dan paksaan Rayhan, Giani dapat dengan mudah menjatuhkan hatinya. Namun, pria itu tidak pernah berubah sejak dulu. Gonta-ganti pasangan setiap harinya seakan menjadi makanan untuk Rayhan.


Padahal Rayhan pernah berjanji jika telah pacaran dia akan berhenti dari perbuatan bejatnya.


"Giani?"


"Pergi Ray, gue nggak mau liat muka lo lagi. Jangan halangin gue buat bunuh diri!" Tangisan pilu Giani semakin terdengar di telinga Rayhan.


Memeluk Giani semakin erat, menepuk-nepuk pundaknya agar berhenti menangis. Giani bukanlah gadis yang mudah menyerah pada kehidupan, dan jika Giani sudah menyerah, pertanda dunia gadis itu benar-benar telah hancur.


"Gi?"


"Sakit Ray."


"Kenapa hm? Ada yang mukul lo?"


Giani mengelengkan kepalanya, sulit dipungkiri Rayhan masih menjadi tempat ternyaman untuk dia pulang.


"Pa-pah," lirih Giani.


"Dia mukul lo?"


Giani mengelengkan kepalanya. "Su-suami Mamah." Giani semaki terisak.


Bibirnya bergetar, tidak sanggup untuk mengatakal hal menjijikkan pada Rayhan.


"Ayah tiri lo? Dia kenapa, Sayang?" Rayhan mengurai helai demi halain rambut Giani yang menempel di wajah sebab basah akan air mata campur keringat.


Saat itulah Rayhan dapat melihat luka lebab di wajah mantan pacarnya. Luka bekas tamparan, luka bekas gigitan di bibir bahkan cekikan di bagian leher.


"Giani, jangan bilang dia!" Tangan Rayhan terkepal, dadanya bergemuruh hebat membayangkan apa yang telah dialami oleh wanita yang dia cintai.


"Ray!" Giani semakin meraung. "Gu-gue gadis paling kotor di bumi ini! Gue-gue mau mati. Gue nggak sanggup Ray."


"Nggak, lo gadis paling kuat yang gue temui. Lo gadis paling cantik, paling baik dan sempurna di mata gue Gi."


"Jangan nangis ya Sayang? Jangan merasa kecil hati. Gue bakal balas rasa sakit lo."


Giani mengelengkan kepalanya. "Ja-jangan sakiti suami mamah, Ray. Gu-gue nggak mau mamah sedih."


"Tapi dia udah perko ...." Rayhan memejamkan matanya. Tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.