Love Scandal

Love Scandal
Part 49 ~ Love Scandal



Kedatangan Dito dan Aurora tentu saja disambut dengan senyuman oleh mamah dan papahnya. Wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dapur lantas mengambil Alana dari gendongan Aurora.


Mengecup pipi cubi Alana berulang kali sehingga kekehan kecil dari balitan mengemaskan itu terdengar. Puas bermain dengan cucunya mamah Dito memperhatikan anak dan menantunya yang masih saja berdiri, seakan keduanya mempunyai salah dan siap untuk dihukum.


"Kenapa kalian masih berdiri? Ayo duduk, mamah mau main sama cucu dulu," ucap mamah Dito.


Aurora dan Dito mengangguk, mengukuti langkah mamahnya menuju ruang keluarga. Duduk saling berhadapan tapi wanita paruh baya itu masih fokus pada Alana.


"Mamah?" panggil Aurora dengan suara lirihnya.


Mamah Dito lantas menatap Aurora sehingga mendapati mata sembab dan hidung yang memerah. Sangat jelas kalau Aurora habis menangis cukup lama.


"Ya ampun mamah nggak tau kalau kamu habis nangis Sayang." Mamah Dito menyerahkan Alana pada suaminya lalu memeluk sang menantu. Di mana Aurora semakin tidak bisa menahan isakannya.


"Putri mamah kenapa nangis hm? Dito mukul kamu Nak?" bisik mamah Dito mengelus punggung bergetar Aurora, terlebih ketika pelukan menantunya semakin erat.


Tatapan mamah Dito tertuju pada putranya yang bergeming. "Kamu ngapain Aurora sampai nangis gini? Kalian bertengkar?"


"Lebih tepatnya berpisah Mah, surat cerai dari pengadilan baru keluar hari ini. Maaf karena nggak beri tahu mamah dan papah tentang masalah rumah tangga Dito."


Mata mamah Dito membulat, nafasnya memburu mendengar penjesalan sang putra. "Apa-apaan ini Dito? Kamu mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan kami? Apa kesalahan Aurora sampai kamu tega seperti ini? Apa perjuangannya melahirkan putrimu belum cukup!" bentak mamah Dito dengan amarah membuncah.


Aurora mengenggam tangan mamah Dito. "Bukan Dito yang salah Mah, tapi Rora. Rora datang ke sini cuma mau pamit bukan meminta pembelaan ...."


"Jawab!" bentak mamah Dito menatap putranya penuh kekecewaan, membuat Aurora tidak sanggung melanjutkan kalimatnya.


"Karena Dito nggak cinta lagi sama Aurora! Dito punya wanita lain di luar sana!" jawab Dito dengan tangan mengepal.


Lantas saja sebuah pukulan mendarat di wajahnya . Pelakunya tidak lain sang papah yang baru saja menyerahkan Alana pada pelayan di rumah tersebut.


"Anak sialan! Papah nggak pernah ngajarin kamu jadi pengecut! Bangun!" Menarik ke baju Dito yang terhempas ke lantai.


Aurora yang melihatnya langsung memeluk Dito. Melindungi mantan suaminya dari amukan sang mertua.


"Dito nggak salah Pah, Rora juga selingkuh. Rora yang lebih dulu selingkuh. Rora yang ...." Aurora mengigit bibir bawahnya ketika Dito mencengkram tangannya sangat kuat, seakan-akan pria itu tidak membiarkannya berbicara lebih jauh lagi.


Kini di ruang tamu tinggalah Aurora yang memeluk Dito dengan air mata berderai. "Kenapa ngorbanin diri sendiri? Lo udah cukup berkorban Dito!"


"Bukan buat lo, tapi putri gue! Dia nggak salah apa-apa sampai harus dibenci semua orang!"


"Tapi nggak gini caranya. Lo bisa ngomong gue selingkuh sama Aron. Gue memang selingkuh kan? Gue setiap bulan nemuin dia di belakang lo."


"Itu urusan lo Rora, bukan urusan gue!"


Dito mendorong tubuh Aurora, mengusap bibirnya yang berdarah akibat pukulan keras sang papah. Pria itu berdiri, merapikan rambut juga bajunya.


"Temui mamah, gue tunggu di luar!" ujar Dito dan berlalu pergi.


Sementara Aurora langsung menemui mertuanya yang ternyata ada di dalam kamar Dito bersama Alana. Wanita paruh baya itu menangis. Meratapi nasib cucunya yang akan hidup dengan keluarga tidak utuh.


"Mamah?"


"Kenapa kalian tega sama anak kalian? Apa semuanya nggak bisa diselesaikan baik-baik sampai harus berpisah? Kalian egois!"


"Maaf."


"Kalian sama-sama selingkuh kan? Lalu kenapa nggak saling memaafkan dan kembali bersama?"


Aurora mengeleng, langsung memeluk mertuanya karena tidak kuasa menahan tangis. "Maafin Rora karena udah ngecewain Mamah dan Papah. Ini salah Rora karena selingkuh dan membohongi Dito. Jangan marah sama Dito, dia nggak salah apa-apa."


"Meski Rora pisah sama Dito, Rora masih putri mamah kan?" tanya Aurora ketika pelukan terlerai.


Mamah Dito bergeming, hanya menemani cucunya yang tampak asik bermain.


"Meski Dito dan Rora udah pisah, Rora janji Alana nggak bakal kekurangan kasih sayang dari siapapun."


"Gimana nasib cucu mamah kalau kalian udah punya keluarga masing-masing?"