
Aurora, wanita berbadan dua itu tersentak ketika Dito menarik tangannya, membimbing agar melingkar di pinggangya.
"Kok?" Tiba-tiba Aurora merasa gugup.
"Ntat jatuh kan bahaya," sahut Dito. Mulai melajukan motornya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Tanpa Dito sadari sejak tadi dia tengah diperhatikan oleh Aron yang tidak sengaja melintas. Aron mengikuti laju motor Dito, berhenti tidak jauh dari warung sate pinggir jalan. Tangan pria itu terkepal melihat betapa cantiknya senyum Aurora.
Sementara yang diperhatikan tampak acuh pada sekitar, duduk di pinggir jalan menunggu satu pesanan mereka datang.
Sesekali Dito melirik Aurora yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Gue paling nggak suka kalau ngajak orang jalan, tapi orangnya sibuk sama hp," sindir Dito menatap lalu lalang kendaraan.
Aurora lantas meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan dari Aron, bahkan wanita itu sampi menonaktifkannya.
"Tadi cuma ngabarin mommy," cengir Aurora berbohong. "Ternyata asik ya kalau jalan malam-malam gini, rasanya nyaman."
"Anak rumahan keknya."
"Nggak kok." Aurora tertawa canggung. Asumsi Dito salah jika mengira dia adalah anak rumahan. Sebelum menikah dengan Dito, Aurora sering kali keluar rumah diam-diam tanpa sepengetahuan orang rumah.
Ketenangan yang tercipta karena pembicaraan mengalir antara Dito dan Aurora harus buyar akibat kedatangan pria dengan anting di telinganya.
"Boleh gabung nggak?" tanya Aron langsung duduk di hadapan Dito dan Aurora.
Dito tampak acuh, berbeda dengan Aurora yang jantungnya berdetak tidak karuan. Takut kalau saja Dito curiga padanya.
"Katanya Avegas istirahat dari jalan ya? Baguslah akhirnya kalian sadar diri."
"Maksud lo apa?" Dito menatap Aron tajam, Avegas baginya harga mati.
"Santai jangan ngegas gitu dong. Karena Avegas dah istirahat, maka gue nggak bakal nyari masalah lagi sama lo. Iya nggak, Rora?" Melirik Aurora.
Aurora bergeming, keringat dingin mulai membanjiri tubuh wanita itu padahal sedang berada di luar. Dia tersentak ketika tangannya tiba-tiba digenggam oleh Dito.
"Bang, satenya bungkus aja ya! Istri saya tiba-tiba mau pulang," ucap Dito.
"Sip Den." Penjual sate tersebut mengacungkan jempolnya pada Dito yang menarik Aurora pergi.
"Tunggu di sini, gue ambil pesanan dulu!" Titah Dito setelah membawa Aurora yang tampak tertekan manjauh dari Aron.
Bukan karena Aron adalah mantan Aurora, tapi lebih tepatnya sebab pria itu sudah menjadi musuhnya sejak sekolah dulu.
"Dito?" panggil Aurora di tengah-tengah laju motor lumayan kencang.
"Hm."
"Maaf, karena mantan gue, suasana hati lo buruk."
"Nggak papa, udah biasa kok."
Aurora mengangguk perlahan, semakin mengerakatkan pelukannya pada sang suami. Menikmati angin malam yang terasa sangat dingin. Namun, rasanya nyaman karena memeluk tubuh kekar Dito.
Aurora tidak menemukan detak jantung yang sama pada Dito, petanda pria tersebut benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun padanya.
Wanita berbadan dua itu turun dari motor setelah sampi di rumah. Menganbil alih sate di tangan Dito lalu berlari kecil masuk ke rumah. Dengan sigap menghidangkannya di meja makan karena tahu Dito belum makan malam.
Pria itu makan saat di kampus saja, itupun hanya sedikit karena fansnya datang menganggu.
"Tada udah siap. Untung tadi gue nggak lupa masak," cengir Aurora. Merasa senang karena bisa menyiapkan makanan untuk Dito.
"Nggak takut lagi?" tanya Dito duduk berhadapan dengan Aurora.
"Takut?"
"Hm, tadi pas Aron datang lo kayak ketakutan gitu. Memangnya pas kalian pacaran, dia kasar ya?"
"It-itu ...."
"Sekarang lo nggak perlu takut apapun, gue bakal lindungin lo dari dia. Ah ya, kalau boleh tau lo putus sama dia sejak kapan?"
Sungguh pertanyaan Dito membuat lidah Aurora terasa keluh, wanita itu tidak tahu harus menjawab pertanyaan Dito bagaimana. Takut kalau saja salah dalam pengucapan.
"Ud-udah lama banget, To. Kira-kira 5 bulan yang lalu."
"Selama pacaran dia pernah nyentuh lo?"
Uhuk
Aurora tersedak ludahnya sendiri.