
Aurora menepuk-nepuk pipinya yang memerah setelah kepergian Dito ke kamar sebelah. Kata-kata pria itu berhasil membuat detakan jantung Aurora berpacu sangat hebat.
Lalu kenapa kalau seumur hidup itu lama? Bukannya bakal singkat kalau kita jalani dengan bahagia? Udahlah, jangan pikirin hal yang belum terjadi, yang ada cape sendiri.
Itulah yang Dito katakan sebelum meninggalkan kamarnya.
Aurora lantas keluar kamar, melirik pintu kamar Dito yang masih tertutup. Tidak ingin menganggu, Aurora akhirnya turun ke lantai dasar sebab merasakan perutnya nyeri minta diisi.
Senyumnya merekah melihat dua lobster ukuran besar ada di atas meja.
"Enak banget pasti," guman Aurora langsung duduk di meja makan, bertepatan datangnya Dito.
Pria itu ikut duduk, merebut lobster di hadapan Aurora.
"Kok diambil? Dito, gue pengen banget makan itu." Memanyungkan bibirnya.
"Tau, gue cuma mau misahin ekornya biar ambil daginya lebih mudah. Duduk yang ateng biar gue ngasih daging aja!"
"Makasih." Tersenyum lebar, menatap Dito yang dengan telaten mengambil semua daging yang berada di badan lobster lalu meletakkan di piringnya. Sesekali wanita itu menj*ilat bibirnya karena tidak sabar mencicipi.
"Makan aja Ra, gue udah kenyang kok!" Bohong Dito.
"Serius?"
"Hm."
Lantas saja Aurora menyantap daging lobster tersebut dengan lahap yang membuat Dito tersenyum senang. Pria itu merasa tidak sia-sia menghabiskan waktunya menunggu lama di restoran.
Atensi keduanya teralihkan pada bel pintu yang tiba-tiba berbunyi.
"Biar gue ...."
"Gue aja!" Aurora mendahului Dito bangkit, berjalan menuju pintu utama. Aurora takut kalau saja yang datang adalah Aron.
Wanita itu mengedarkan pandangannya pada lingkungan rumah ketika tidak mendapati siapapun di depan pintu. Tatapannya tertuju pada amplop putih yang tergeletak di teras rumah.
Aurora mengambilnya dan membuka untuk mengetahui isinya. Tangan wanita itu bergetar, keringat dingin tiba-tiba melanda melihat beberapa foto yang ada di amplop tersebut.
Foto saat dia tidur dengan Aron tanpa mengenakan sehelai benapung, bahkan di dalamnya Aurora tersenyum sangat manis karena paksaan dari Aron.
Kira-kira kalau Dito liat ini reaksinya gimana?
Itulah isi pesan yang ada dibalik foto. Aurora meremasnya kuat-kuat lalu berlari menuju pagar untuk membuangnya. Tidak lupa merobeknya hingga kepingan paling kecil agar tidak dikenali oleh siapapun.
Aurora membalik tubuhnya ketika mendengar suara Aron. Wanita itu menatap tajam mantan pacarnya. Tanpa sadar melangkah mendekat lalu menarik kerah kemeja pria itu.
"Mau lo apa sialan? Gue bilang berhenti ganggu hidup gue, Aron! Gue mau hidup bahagia bentar aja!" Histeris Aurora dengan air mata membasahi pipinya.
Aron tertawa. "Gue mau lo! Tapi gugurin ...."
Plak
Aurora menampar wajah tampan Aron. "Nggak bakal!"
"Beraninya lo nampar gue!" Mendorong tubuh Aurora hingga membetur tembok pagar yang tidak terlihat oleh CCTV. Mencekik leher wanita tersebut.
"Sekarang lo berani ngebatah gue, hm? Mana Rora penurut dan cinta sama gue? Lo lupa kalau gue bisa aja sebarin video bu*gil lo!" ancam Aron dengan wajahnya yang memerah.
Aurora membuka mulutnya karena kesulitan bernafas. "Le-lepasin Ron, gu-gue nggak bisa nafas," lirihnya.
"Gimana kalau sekalian aja gue gugurin anak kita?" Aron mengambil belatih di saku jaketnya. Mengangkat untuk menancapkan di perut Aurora yang mulai terlihat meski samar-samar.
"Ja-jangan Ron!" Aurora memejamkan matanya, berteriak saja dia tidak bisa.
"Rora!"
"Sialan!" Dengan kasar Aron melepaskan cekikanya dan berlalu pergi. Sedangkan Aurora menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil mengatur nafas yang memburu.
"Rora!" Suara Dito kembali terdengar. Pria itu menyusul Aurora ketika lama menunggu, bahkan sudah membuka semua lobster yang ada di atas meja.
Dito terus melangkahkan kakinya menuju gerbang setelah memeriksa di lingkugan rumah.
"Rora, jangan buat gue panik!"
"Dito."
Tubuh Dito terhuyung, untung saja tidak terjatuh saat Aurora langsung memeluknya tiba-tiba. "Gu-gue takut," lirihnya.
"Kenapa, hm? Siapa yang datang?"
"Nggak tau, gue nggak sempat liat wajahnya. Tapi dia hampir aja nusuk perut gue."