Love Scandal

Love Scandal
Part 85 ~ Love Scandal



Alana terus berlarian di koridor perusahaan dipantau oleh asisten papah Dito atas perintah Dito sendiri.


Gadis kecil itu tertawa riang setiap kali ada karyawan yang menguyel-uyel pipinya gemas. Langkah kaki kecilnya berhenti tepat di depan karyawan wanita yang menyapa dengan ramah.


"Nona Muda kenapa lari-larian sendiri? Gimana kalau jatuh?" tanya sang karyawan.


"Kalau jatuh Alana berdiri dan nggak boleh manangis kata daddy. Alana mau nyari mommy," sahut Alana dengan wajah polosnya.


"Mommy?"


Alana mengangguk antusias. "Alana mau mommy."


"Kalau begitu Nona muda bisa ...."


"Alana!"


Panggilan seseorang di ambang pintu perusahaan berhasil mengalihkan perhatian Alana yang berada di tengah-tengah lobi.


Diajarkan sopan santun yang baik oleh daddy dan omanya, tentu Alana akan menyahut jika ada yang memanggil.


"Tante cantik panggil Alana?" tanya gadis kecil itu berlari menghampiri wanita yang hampir mirip dengannya.


Wanita itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil yang baru saja dia panggil.


"Gimana kabar kamu, Sayang? Mom ...." Aurora mengigit bibir bawahnya, hampir saja keceplosan memanggil dirinya mommy. "Tante nggak nyangka Alana udah sebesar ini, mana cantik banget lagi," lanjut Aurora mengelus pipi Alana.


Wanita itu baru saja sampai di indonesia, langsung berkunjung kerumah Dito untuk menemui putrinya, tapi pelayan mengatakan Dito dan Alana berada di perusahaan, itulah mengapa dia mampir ke sini sebelum pulang kerumahnya.


Rasa rindu Aurora terlalu mengunung untuk putrinya. Hanya melihat Alana dari postingan Dito tidak membuat rindu Aurora berkurang, yang ada semakin menumpuk.


Aurora terus memandangi Alana, sementara gadis kecil itu tidak bergeming, ada rada nyaman yang menjalari hati Alana melihat senyuman Aurora.


"Tante cantik kenal Alana?"


"Banget Sayang. Tante temannya Daddy dan daddy sering ceritain Alana."


"Benarkah? Tante mommy Alana?" Mata gadis kecil itu berbinar bahagia, tapi dipatahkan oleh gelengan Aurora.


"Bukan Sayang," jawab Aurora dengan berat hati. Dia teringat janjinya juga perkataan Dito ketika mereka memutuskan berpisah.


Aurora tidak boleh mengaku sebagai mommy Alana sebelum gadis kecil itu dapat mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.


"Mau peluk tante nggak?"


Alana mengangguk, bagai disihir Alana lantas memeluk tubuh Aurora yang terasa sangat nyaman.


"Alana mau nyari mommy, Tante. Kara punya mamah, Alana juga mau."


Deg, hati Aurora mencelos mendengar putrinya yang sangat menginginkan sosok mommy. Andai saja bisa, dia ingin mengaku menjadi mommy, tapi jika itu terjadi.


Bagaimana jika Alana menyuruhnya dia dan Dito tinggal bersama?


"Nona, jangan peluk-peluk orang asing," ucap asisten papah Dito, lantas menarik Alana agar menjauh dari Aurora.


"Tante cantik temannya daddy, Om!"


"Bisa aja dia bohong Nona. Tuan Dito nggak suka Nona akrab sama ...."


"Dia teman saya." Suara berat yang terdengar membuat atensi Aurora, Alana dan sang asisten menoleh ke sumber suara.


Di sana Dito tengah berdiri dengan beberapa tumpukan berkas di tagannya. Pria itu menyerahkan tumpukan berkas pada asisten papahnya, lalu menghampiri Aurora dan Alana.


"Daddy beneran kenal tante cantik?"


"Iya Sayang, dia teman daddy," jawab Dito tersenyum, membuat perasaan Aurora kian melega.


Sejak tadi wanita itu takut kehadirannya tidak disambut dengan baik oleh Dito. Atau mungkin saja pria tersebut benar-benar ingin mengambil Alana darinya.


"Apa kabar? Belum nikah?" tanya Aurora.


"Seperti yang kamu lihat." Bahasa Dito mulai berubah, tidak lagi memakai lo-gue pada orang selain teman-temannya.


"Dari kata-kata Alana, sepertinya belum." Aurora tersenyum. "Boleh aku bawa dia jalan-jalan besok? Aku kangen sama dia."


"Boleh tapi aku ikut."


"Nggak papa." Aurora kembali berjongkok, mengecup pipi Alana berulang kali. "Besok Alana mau jalan-jalan sama tante dan daddy? Kita keliling wahana permainan setelah pulang sekolah. Besok tante juga jemput di sekolah."


Alana mengangguk antusias. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Dito membiarkan Alana bicara, berteman bahkan jalan-jalan dengan perempuan selain Glora dan Salsa.


Sepeninggalan Aurora, Alana mendongak untuk menatap daddynya yang terfokus pada punggung Aurora.


"Alana suka sama tante cantik, Daddy. Dia baik sama Alana. Daddy!" Menarik-narik tangan daddynya.


"Kenapa Sayang?"


"Tante cantik bisa jadi mommy Alana?"