
Aurora mendengus kesal, lantas meletakkan ponselnya di atas meja karena mengira Dito telah mematikan telpon, padahal yang terjadi malah sebaliknya.
Auroralah yang mematikan telpon tanpa sengaja sebab dikagetkan oleh celetukan Adam.
Wanita itu menghampiri Adam yang tengah memindahkan koper dan memperbaiki kerang wastafel sedikit bocor. Awalnya ingin mencari tukang, tapi Adam mengatakan bisa.
"Lo yang mau bantuin," ucap Aurora mendorong koper masuk ke kamarnya yang telah bersih.
Tanpa tahu Adam mendelik dan mengumpat dalam hati sebab Aurora tidak punya rasa terimakasih sama sekali.
Sementara yang diumpat sibuk merapikan pakaiannya ke lemari yang telah dibersihkan. Sebenarnya Aurora sedikit beruntung sebab mengenal seseorang di sini.
Lagi pula Aurora akan sedikit ke susahan nantinya karena tidak lancar berbahasa korea, terlebih dia bukan anak drama lovers, apalagi K-popers seperti wanita yang dicintai oleh mantan suaminya.
Bahasa yang Aurora kuasai hanya bahasa inggris. Berbeda dengan Adam yang dari SMA sekolah di korea.
"Rora!"
Aurora memutar bola matanya malas mendengar teriakan Adam yang langsung memancing emosinya.
Dulu saat mengenal Aron, Aurora dibuat tidak berkutik. Pertama takut ditinggalkan dan sangat mencintai pria itu. Setelah mengenal Dito, Aurora dibuat percaya diri sebab dijadikan ratu dan apa-apa Dito selalu bertanya pendapatnya.
Dan sekarang bertemu Adam? Kesabaran Aurora di uji terus menerus sebab pria itu hobi memancing keributan dengan katanya-katanya yang sedikit nyelik. Sayangnya benar semua.
"Apa lagi?" tanya Aurora setelah sampai di dapur.
"Semuanya udah selesai, gue mau pulang."
"Lah terus ngapain panggil gue? Lo kan bisa langsung pulang tanpa pamit."
"Gue butuh terimakasih!" ucap Adam penuh penekanan.
Aurora memutar bola mata malas, meski begitu tetap mengucapkan terimakasih. "Makasih Adam."
"Sama-sama," ucap Adam dan berlalu pergi.
Meninggalkan Aurora dengan segala kekosongan hatinya. Jika sudah sendiri, Aurora hanya akan berdiam diri tanpa tahu harus melakukan apapun. Seakan perhatiannya telah lenyap di berpindah entah kemana.
"Gue benar-benar udah pisah sama Dito. Dia benci nggak ya sama gue?"
Aurora memejamkan matanya karena memang merasa lelah setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam.
Tadi pagi, Aurora sangat berharap Dito datang untuk melihatnya. Mengucapkan salam perpisahan yang mungkin melegakan hati. Namun, penantian Aurora hanyalah angan. Dito tidak kunjung datang bahkan mengirim pesan pun tidak.
Perlahan-lahan lamunan Aurora berubah menjadi tidur yang lelap dengan posisi duduk. Berbeda dengan pria yang duduk di balkon kamarnya seorang diri.
Pria itu adalah Dito. Sejak bertelponan dengan Aurora, Dito belum beranjak bahkan saat mamahnya datang untuk mengambil Alana.
Dada pria itu terasa sesak setiap kali ada pria di sekitar Aurora, bahkan rasa sakitnya tidak lebih besar saat Alana menikah dengan Alvi.
"Kenapa harus merenung sih? Kan udah pisah juga. Lagian gue nggak cinta sama Rora. Perasaan sebelum kecelakaan gue yakin cuma rasa nyaman bukan cinta," gumam Dito berusaha menampik kenyataan yang sebenarnya.
Dito tidak cemburu sungguh! Karena orang cemburu adalah orang yang mencintai seseorang tapi Dito benar-benar tidak mencintai Aurora, percayalah.
***
Dua hati di negara yang berbeda saling merenung dengan perasaan tidak menentu, begitupun di ruangan yang sangat luas ini.
Dua keluarga besar tengah duduk saling berhadapan, di antaranya ada Keenan yang tepat berhadapan dengan gadis cantik bernama Glora.
Sejak tadi jantung Keenan berdetak tidak normal. Rasanya ia ingin berteriak bahwa ia tidak ingin dijodohkan oleh siapapun.
Namun, membangkan pada orang tua bukanlah keahlian Keenan, terlebih selama ini keinginan pria itu selalu dituruti oleh papah dan mamahnya.
"Kurang dari dua tahun anak-anak kita sudah selesai dengan pendidikannya. Nggak ada salahnya melakukan pertunangan sambil mereka dekat satu sama lain," ucap Dilan-Papah Keenan.
Papah Glora mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. "Selama anak-anak kita setuju untuk apa menunda lagi?"
Beberapa tawa mulai terdengar, begitupun tawa canggung Keenan dan Glora. Meski tidak mempunyai perasaan apapun pada calon tunangannya dan terpaksa menerima perjodohan. Keenan tidak akan membuat kesalahan sekecil apapun.
Kalian harus ingat, Keenan adalah anggota paling waras di Avegas. Memahami hati perempuan, pendengar yang baik dan mempunyai sabar seluas samudra.