Love Scandal

Love Scandal
Part 33 ~ Love Scandal



Datang dengan tangan kosong, pulang membawa banyak barang. Itulah yang terjadi pada Dito dan Aurora. Setelah pulang dari rumah orang tuanya, mobil telah penuh dengan hadiah-hadiah lumayan mahal.


Pakaian untuk baby mereka juga pakaian untuk Aurora. Semuanya telah disiapkan oleh dua wanita paruh baya yang sangat kompak menanti cucu pertama mereka, tanpa tahu telah ditipu oleh Aurora.


Sepanjang jalan, Aurora hanya memfokuskan perhatiannya pada jalanan yang kian padat padahal sudah tengah malam. Dia melirik Dito ketika tangannya digenggam.


"Tumben diam," celetuk Dito.


"Ngantuk."


"Kalau gitu tidur aja!" Mengusap kepala Aurora pelan, tanpa tahu isi pikiran wanita itu.


Menjelang lahiran, Aurora sangat takut kalau saja ada drama tes DNA di antara Dito dan anaknya. Jika itu terjadi, tentu saja rahasia yang selama ini dia tutupi akan menguak ke permukaan.


"Nggak nyaman?"


Aurora mengeleng, wanita itu memejamkan matanya untuk menghindari perhatian Dito. Terlebih pria itu akhir-akhir ini sangat posesif dan hobi mengantur dirinya.


Dito mengelus pipi Aurora. "Akhirnya gue bisa suka sama lo meski belum sepunuhnya bisa lupain Alana," batin Dito.


Hal penting yang ingin Dito bicarakan besok malam adalah mengutarakan perasaanya pada Aurora. Memulai rumah tangga layaknya pasangan pada umunya yang saling mencintai.


Terlebih, Aurora sudah mengatakan isi hatinya lebih dulu tanpa ada rasa malu.


"Rora?"


Aurora bergeming, sepertinya wanita itu terlelap padahal awalnya cuma ingin pura-pura tidur. Dito segera turun karena telah sampai di rumah. Mengendong Aurora sangat pelan agar tidak menganggu tidur istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.


Membaringkan tubuh Aurora secara perlahan di ranjang, menutupnya dengan selimut tebal.


"Tidur yang nyenyak," bisik Dito tepat di telinga Aurora.


Baru saja akan beranjak, tubuh Dito terhuyung sebab kalung hadiah ulang tahun yang dia berikan pada Aurora menyangkut di kancing kemejanya.


"Jangan pergi," guman Aurora memeluk tubuh Dito, membuat pria itu benar-benar sudah tidak bisa bangun untuk saat ini.


Tatapan Dito tertuju pada leher Aurora, kalung yang dia berikan putus.


"Yah, padahal cantik banget di lehernya," guman Dito. Menarik kalung tersebut lalu meletakkan di dalam laci, tanpa memperhatikan isinya. Padahal di dalam sana ada buku diary Aurora. Buku yang halamannya hampir di penuhi permintaan maaf pada Dito.


***


Pagi menyapa, tapi tidak membuat sepasang suami istri yang saling berbagi kehangatan terbangun.


Baik Dito maupun Aurora masih saja memejamkan mata. Kalau bukan deringan telpon, mungkin Aurora tidak akan membuka mata.


Aurora meraba nakas untuk menjawab panggilan tanpa melihat siapa di seberang telpon.


"Siapa?" tanya Aurora dengan suara seraknya.


"Pagi Sayang, gue harap lo nggak lupa sesuatu," sapa Aron di seberang telpon. Pria itu sudah tidak sabar bertemu pujaan hatinya setelah satu bulan menunggu.


"G-gue ingat, gue bakal datang kok." Memutuskan sambungan sepihak ketika melihat Dito mengerjapkan matanya perlahan.


Bangun tidur saja pria itu terlihat sangat tampan, di tambah suaranya yang deep membuat jantung Aurora tidak karuan.


"Siapa?" tanya Dito belum melepaskan pelukannya di pinggang Aurora.


"It-itu teman gue semalam ngajak jalan soalnya baru putus cinta. Gue boleh pergi?"


"Harus banget, hm? Bentar malam kita ada acara berdua Rora. Takutnya lo kecapean dan nggak jadi."


"Jadi kok, gue janji bakal pulang cepat. Teman gue butuh hiburan sekarang." Mengerucutkan bibirnya.


Dito menghela nafas panjang. Setiap tanggal 10, ada saja kegiatan Aurora bersama teman-temannya. Ingin kesal, tapi sadar dunia Aurora tidak melulu tentang dirinya.


"Awas aja pulang lewat dari jam 4 sore."


"Nggak Dito," teriak Aurora ketika tubuh Dito menghilang di balik pintu kamar.


Sebenarnya hari ini Dito juga ada pertemuan bersama teman-temannya. Terlebih Samuel telah kembali.


Mereka ber lima kemungkinan akan merencanakan aktifnya Avegas kembali. Samuel telah kembali setelah menyelesaikan pendidikan pilotnya selama dua tahun.


Sekarang pria itu siap menerbangkan pesawat dan membawa ratusan nyawa terbang bersamanya. Berbeda dengan Keenan, Dito, Rayhan dan Ricky yang masih mempunyai dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan gelar sarjana, sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.