Love Scandal

Love Scandal
Part 44 ~Love Scandal



Entah Aurora harus bahagia atau sedih ketika teman-teman Dito datang berkunjung dan membuat keributan. Di satu sisi Aurora senang sebab bisa menghabiskan banyak waktu dengan putrinya tanpa adanya pantauan dari Dito. Namun, di sisi lain dia sedih sebab kesempatannya untuk bicara berdua lagi-lagi tertunda, padahal waktu mereka tidak lama lagi.


Aurora berharap sebuah keajaiban terjadi dalam rumah tangannya bersama Dito. Dimana dia tidak berpisah dengan suaminya.


"Ayo minum dulu, bentar lagi kuenya masak," ucap Aurora berusaha ramah pada teman-teman suaminya.


"Gue udah pesan!" sahut Dito cepat seakan tanpa minat.


Begitupun dengan Rayhan, Ricky dan Samuel yang tampak acuh. Berbeda dengan Keenan yang melempar senyum pada Aurora.


"Nggak usah repot-repot Ra, lagian Alana pasti nggak bisa ditinggal lama-lama," ucap Keenan.


"Kuenya bentar lagi jadi, tunggu ya." Aurora berlalu dari hadapan teman-teman suaminya. Menuju dapur, membantu bibi membuat kue untuk tamu mereka.


Karena terburu-buru, jari Aurora sampai menyentuh pancu panas tempat mencairkan coklat yang telah dia potong kecil-kecil.


"Sssssttttt."


"Neng duduk aja, biar saya yang lanjutin. Lagian pasti Neng lelah jalan-jalan mulu sejak tadi. Gimana kalau luka jahitannya ke buka?"


"Nggak papa Bi, cuma lecet dikit." Cengir Aurora melanjutkan pekerjaanya tanpa memperdulikan rasa sakit. Ini semua dia lakukan untuk mengambil hati suaminya kembali.


Jujur saja Aurora rindu perhatian Dito. Pria yang tidak membiarkannya mengerjakan apapun, selalu membela ketika ada orang yang menyalahkan dirinya meski orang tua pria itu sendiri. Namun, sekarang semuanya telah berbeda. Dito tidak lagi peduli padanya.


"Andai aja sikap lo kayak gini dari awal, gue mungkin nggak bakal jatuh cinta apalagi merasa bersalah, To." Batin Aurora memandangi suaminya yang tengah tertawa lepas di ruang tamu.


Dia ikut tersenyum, senyum yang mampu menutupi luka di hatinya. Menunduk untuk meletakkan nampang berisi kue yang masih hangat sebab baru di keluarkan dari Oven.


"Selamat menikmati, kalau butuh sesuatu panggil gue aja." Aurora berlalu pergi tanpa tahu sejak tadi perhatian Keenan tertuju padanya.


Keenan menatap Dito ketika punggung Aurora telah menghilang di balik pintu.


"Tangan Rora merah, keknya luka bakar deh. Sana obatin!"


"Dito! Dia masih istri lo terlepas kesalahan yang dia lakukan. Lagian kalian mutusin pisah kan? Terus apa salahnya baik saja dia?"


"Keen!" tegur Samuel ketika melihat raut wajah Dito tiba-tiba berubah.


Keenan lantas terdiam, sadar telah mengurusi urasan pribadi sahabatnya terlalu dalam.


"Tapi yang Keen bilang ada benarnya, El. Misahin Alana dari ibunya aja udah hukuman paling fatal menurut gue, masa iya dibuat menderita lagi anak orang," celetuk Rayhan.


"Nggak setuju gue! Kalau udah ada keputusan pisah ngapain perhatian lagi? Bukannya itu bakal lebih nyakitin karena memberi harapan?" cetus Ricky tidak setuju akan ide Rayhan dan Keenan.


Dito menghela nafas panjang, bukannya memberi solusi, teman-temannya malah semakin membuat dia bingung. Pria itu beranjak.


"Kalau pesanan gue datang langsung ambil ya, gue ke kamar bentar!"


"Sip dah." Ke empat pria tampan itu mengangguk cepat. Memilih seru-seruan daripada harus membahas hubungan Dito dan Aurora yang akan berpisah. Itu sudah keputusan muntlak dari Dito meski telah mendapatkan pencerahan dari ke empat temannya.


Sedangkan Dito yang baru saja membuka pintu kamar lantas menghampiri Aurora yang tengah duduk di lantai sambil mengolesi tangannya salep. Dito merebut salep tersebut dan menarik tangan Aurora. Membantu istrinya mengobati luka yang pastinya perih, terlebih kulit putih Aurora telah melepuh.


"Makasih!"


"Nggak perlu, udah kewajiban gue sebagai suami lo, tapi jangan berharap lebih karena percerain tetap terjadi!"


Aurora mengangguk sambil tersenyum, menatap wajah tampan Dito yang tengah fokus meniup-niup tangannya. Meski tahu akan berpisah, dia tetap senang mendapatkan perhatian dari pria yang dia cintai.


"Sebelum kecelakaan katanya lo mau ngomong sesuatu yang penting sama gue. Boleh gue tau sepenting apa?"


"Sekarang udah nggak penting." Dito berdiri setelah mengobati luka Aurora. "Nggak usah kebawah buat caper, urus aja anak gue!"


"Anak kita, Dito."


"Putri gue. Kalau dia putri lo bukan gue ayahnya tapi Aron!"