
Jarum jam telah menunjukkan angka 11 malam, tapi yang ditunggu tidak kunjung pulang. Aurora mulai gelisah, wanita itu mengigit bibir bawahnya sebab Dito belum pulang padahal pergi jam 3 sore hari.
Dia meremas jari-jari tangannya sehingga terkelupas. Rasa takut menghampiri wanita itu. Dia tidak ingin mendengar kabar buruk apapun.
"Semoga Dito baik-baik aja," gumam Aurora dengan mata berkaca-kaca. Angin malam tidak membuat dia menyerah menunggu Dito di depan teras.
Ponsel Dito sejak pergi dari rumah tidak aktif, dan Aurora tidak tahu kontak teman-teman suaminya. Menelpon mertuanya bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini.
Jantung Aurora berdetak tidak karuan melihat segerombolan motor besar memasuki halaman rumahnya. Berhenti tanpa mematikan lampu sehingga membuat silau mata yang memandang.
"Di-Dito?" Aurora menghampiri Dito di antara teman-temannya. "Lo baik-baik aja kan? Nggak ada luka serius selain di wajah?" Memeriksa seluruh tubuh Dito membuat anggota Avegas yang berjumlah kurang lebih 20 orang mengulum senyum.
"Bisa nggak sih uwu-uwuannya setelah kita pulang? Panas tahu, apalagi gue jomblo," celetuk Ricky disertai tawa yang lainnya.
"Gue nggak papa. Ke kamar gih, teman-teman gue banyak banget," lirih Dito.
Merasa canggung karena sendirian perempuan, akhirnya Aurora menurut. Meninggalkan Dito bersama teman-temannya.
"Gimana, jadi nggak nih?"
"Sebenarnya sih nggak mungkin Aron datang malam ini, toh kita udah buat dia nggak bisa gerak. Tapi ...."
"Ck, santai aja kali." Keenan menepuk pundak Dito. "Lagian kita cuma seru-seruan aja sambil jaga. Takutnya Aron malah nyuruh orang lain lagi buat neror Rora."
"Thanks." Dito menatap teman-temannya yang bersedia berjaga secara bergantian sampai pagi.
Avegas berhasil melumpuhkan geng Aron, dan yang mereka takutnya pria itu mengirim orang untuk menyerang rumah Dito tanpa di duga, itulah mengapa Avegas berjaga-jaga kalau saja ada yang terjadi.
"Gue ke atas bentar."
"Awas lo nengokin calon anak lo!" teriak Rayhan.
"Nggaklah njir!" sahut Dito dengan tawanya.
Dito menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Ribut banget ya?" tanya Dito ketika mendapati Aurora duduk di balkon kamar memperhatikan teman-temannya.
"Nggak, suka malah rumah serasa hidup. Masuk dulu!" perintah Aurora menghampiri Dito dan menarik tangannya.
"Gue mau ...."
"Obatin lukanya dulu Dito. Lagian ini semua karena gue kan? Karena lo nikah sama gue makanya Aron ...."
"Tanpa nikah sama lo hidup gue udah seputar luka Rora. Entah dihati atau fisik. Tapi sekarang lukanya mulai berkurang karena punya rumah buat pulang. Rumah tempat jadi sendiri dan nyaman banget." Dito tersenyum. Berbicara tanpa adanya kebohongan dan dusta di dalamnya.
Berbeda dengan Aurora yang terus saja melakukan kebohongan-kebohongan kecil untuk menutupi kebohongan yang tidak termaafkan nantinya.
"Kenapa lo percaya banget sama gue? Lo nggak takut kalau selama ini gue bohongin lo?" tanya Aurora, tapi fokusnya pada luka di wajah Dito yang sedang dia obati.
Berbeda dengan Dito yang mengabsen setiap garis wajah Aurora yang sangat cantik dan unik. Sayangnya tidak bisa membuatnya jatuh cinta dalam waktu dekat. Dito memegang pergelangan tangan Aurora.
"Memangnya lo bohong apa sama gue? Lo berani bohongin gue?" tanya Dito masih meneliti wajah Aurora, membuat wanita itu sangat gugup.
"G-gue udah obatin lukanya. Sekarang pergilah, pasti teman-teman lo pada nunggu." Langsung beranjak dan menghindari tatapan Dito.
Aurora selalu ingin berkata jujur ketika ada kesempatan. Tapi keraguan dan tatapan lembut Dito seakan melemahkannya. Dia tidak ingin kehilangan tatapan penuh kasih sayang dari Dito.
Aurora tidak siap mendapatkan tatapan kebencian dari pria yang selama ini meratukan dirinya.
"Maaf," lirih Aurora setelah mendengar pintu tertutup. "Harusnya gue jebak orang lain aja. Harusnya lo nggak bersikap kayak gini Dito."
"Harusnya gue nggak dapat pria sebaik dia!" Mengacak-acak rambutnya frustasi.