
Jarum jam telah menunjukkan angka 12 malam, tapi tidak satupun dari mereka berlima ada yang beranjak dari ruangan yang lumayan tertutup itu.
Kelimanya benar-benar serius mengerjakan misi yang diberikan oleh polisi, bukan karena tentang uang, melainkan kesejahteraan bersama.
Tidak ada orang tua yang rela kehilangan putri-putri cantik mereka, begitupun dengan inti Avegas yang nantinya akan menjadi orang tua.
Helaan nafas berkali-kali terdengar dari mulut Dito yang berhasil mengambil atensi teman-temannya.
"Dahlah gue lapar njir," guman Dito lantas membaringkan tubuhnya di kasur. Pria itu baru saja berhasil membobol latar belakang Aron yang sebenarnya.
"Nggak nyangka sih ayah Aron juga berada di dunia hitam. Tega banget cok ayah menjarain anaknya," gumam Dito dan dijawab anggukan oleh Ricky, Rayhan, Samuel dan Keenan.
Mereka tidak menyangka kalau Aron dipenjara bukan karena keinginan sendiri, melainkan dijebak oleh ayahnya yang tidak punya akhlak dan hati nurani.
"Tega benar tuh bapak tua. Perlu di serahin ke polisi nggak sih?" tanya Keenan.
"Gue nggan setuju! Biarin aja Aron dipenjara, seengaknya musuh kita berkurang satu," sahut Rayhan ikut membaringkan tubuhnya di samping Ricky.
Mareka hampir mencapai finis, beberapa bukti tentang kebusukan kaki tangan pria yang mendalami penculikan telah inti Avegas dapatkan. Yang harus mereka fokuskan kali ini adalah mencari siapa tetua yang sebenarnya.
Berkutat dengan laptop selama berjam-jam belum bisa mencapai tetua yang sebenarnya karena terlalu banyak kaki tangan yang terlibat.
"Kalian mau makan apa nih? Gue mau keluar cari angin segar," celetuk Ricky memasang jaket di tubuhnya. Selalu saja pria itu siap jika soal membeli makanan.
"Apa aja dah yang penting ada cuci mulutnya," sahut Rayhan.
"Rokok?" Ricky memastikan.
"Gue nggak," sahut Keenan dan Dito secara bersama.
Alasan keduanya cukup berbeda tapi hampir sama. Dito perlaha-lahan meninggalkan benda bernikotin meski belum sepenuhnya dengan alasan dia tidur dengan putrinya.
Dito tidak ingin nafas tidak sehatnya menganggu kesehatan putri kecilnya. Sementara Keenan, mematuhi larangan Glora. Sebenarnya bukan melarang, hanya saja Glora mengatakan ....
Hanya itu kalimat yang Glora keluarkan tapi Keenan memutuskan untuk berhenti merokok, bukan untuk dirinya. Tapi tidak ingin Glora menangis kalau saja dia sakit.
Sungguh idaman bukan? Tentu Keenan sangat idaman, sayangnya perhatian ke semua peremuan yang dekat dengannya. Perlu kesabaran dan hati yang luas untuk menjadi pendamping Keenan.
Kembali pada topik, di mana Ricky meninggalkan markas dengan sejuta pesanan dari teman-temannya. Terutama Samuel si raja makan jika sedang lelah.
"Lanjut besok aja dah," gumam Dito mulai memejamkan matanya.
"Ini nggak ada sentuhan fisik kan? Polisi yang bakal gerak? Kita cuma nyari bukti," tanya Samuel memastikan dan dijawab anggukan oleh Keenan.
"Kita cuma di suruh nyari bukti siapa dalangnya, di mana dia berada. Biar polisi dan hukum yang memutuskan," sahut Keenan.
"Tau nggak sih, sampai sekarang gue nggak percaya sama sistem hukum negara kita," ucap Rayhan.
"Sama, tapi sekarang jauh lebih baik setelah Azka berhasil membongkar kebusukan beberapa pejabat tinggi. Apalagi sekarang maminya Azka punya firma hukum yang siap bela kebenaran," jawab Dito.
"Ah andai aja ketua kita masih ada," imbuh Keenan.
"Udah tenang nggak usah dibicarain," guman Samuel yang selalu sibuk dengan gitar kesayangannya jika istirahat.
Sambil menunggu kedatangan Ricky. Rayhan, Dito dan Keenan memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa kantuk yang menyapa, berbeda dengan Samuel yang kembali fokus pada layar komputer.
Kali ini pria itu bukan mencari bukti, melainkan mencari seorang gadis yang menghilang bagai ditelan bumi dalam hidupnya.
Siapa lagi jika bukan Ara, akan tetapi sekuat apapun mencoba, Samuel tidak bisa menemukan keberadaan kekasihnya.
Harapan Samuel kali ini hanya satu, bertemu saat membawa ratusan orang melintasi kota ataupun negera.
"Makanan sudah datang!" pekik Ricky setelah membuka pintu. Namun, yang dia dapati adalah keheningan dalam kegelapan.
"Enak banget njir ngambil jatah tidur!" omel Ricky menendang kaki Rayhan, Keenan dan Dito yang tidur sambil menjuntaikan kakinya di ranjang.