
Terlalu lama membujuk dan terjebak macet di jalan, Dito tidak dapat menyaksikan langsung pernikahan mantan istrinya.
Dia datang setelah akad selesai, wanita yang dia cintai tengah berdiri di atas pelaminan bersama Adam. Pasangan tersebut sedang menyambuat para undangan dan tampak bahagia satu sama lain.
Dito menghentikan langkahnya ketika tangannya ditarik oleh Alana.
"Ayo! Kita sapa tante cantik dulu sebelum makan. Lagian Kara belum datang Sayang," ucap Dito sedikit menunduk.
Namun, Alana mengelengkan kepalanya. "Alana nggak mau daddy," sahut gadis kecil itu.
"Baiklah."
Tidak ingin memaksa dan berujung Alana menangis di tengah-tengah kerumunan orang banyak, Dito akhirnya memilih duduk di meja bundar sambil menunggu Keenan dan Glora yang tidak kunjung datang.
Yang menghadiri pesta memang hanya Keenan dan Dito sebab yang mendapatkan undangan hanya keduanya.
Dito fokus pada ponselnya, Alana yang tatapannya tertuju pada pintu menunggu kedatangan seseorang. Sementara mempelai wanita yang berada di atas panggung tampak gusar menunggu seseorang.
Sejak pagi bahkan sebelum Akad dimulai, Aurora menunggu kedatangan putrinya yang tidak kunjung tiba. Cukup dijauhkan saja, jangan sampai putri satu-satunya malah membenci karena pernikahannya dengan Adam.
Wanita bergaun pengantin itu menoleh ke samping saat Adam mengenggam tangannya yang terasa dingin.
"Putri kita pasti datang Rora, aku yakin Dito membawanya. Selama Dito belum hadir, artinya masih ada harapan," ucap Adam yang menenangkan. Pria itu mengerti akan kegelisahan istrinya.
"Dia udah datang," lirih Aurora saat melihat seorang pria dan anak kecil duduk saling berhadapan. Senyuman di wajah wanita itu kian merekah.
Terlebih saat suara Adam kembali terdengar.
"Tamu kayaknya udah pada datang dan beri selamat. Mau disamperin nggak Alananya?"
Aurora lantas mengangguk, mengikuti langkah Adam yang berjalan lebih dulu sambil mengenggam tangannya. Dia cukup beruntung kali ini karena bisa bertemu pria yang benar-benar ingin menerima dia apa adanya.
Bahkan setelah tahu masa lalu yang kelam, Adam masih bersedia di sampingnya. Rela membagi waktu untuk bertemu putrinya tanpa ingin mengurusi apapun.
Tepat saat sampai di meja tempat Dito duduk, Aurora langsung mengambil kursi dan ikut duduk di samping putrinya, begitupun dengan Adam yang duduk di samping Aurora.
"Putri mommy kok telat datangnya? Mommy udah nungguin dari tadi loh," ucap Aurora, tapi yang diajak bicara tampak acuh.
Alana fokus membuat gambar abstrak menggunakan tangannya di atas meja.
"Alana lapar daddy."
"Ya udah, biar mommy yang ambilin ya?"
Alana mengeleng. "Ayo Daddy kita ambil makan! Terus kita tunggu Kara."
"Sapa tante cantiknya dulu, terus beri selamat!"
Gadis kecil itu lagi-lagi mengeleng, turun dari kursi dan naik ke pangkuan Dito, seakan engang disentuh oleh Aurora maupun Adam.
"Alana mau pulang," lirih gadis kecil itu dengan suara bergetar.
"Maafin mommy ya Sayang," pinta Aurora mengelu punggung Alana yang tengah menyembunyikan wajah diceruk leher Dito.
"Mommy jahat, mommy nggak mau jadi mommy Alana!"
"Alana, daddy nggak suka ya Alana teriak-teriak gitu. Daddy marah loh," bujuk Dito.
Sementara di sisi lain Adam terus mengenggam tangan Aurora seakan memberikan penenang.
"Ayo pulang," rengek Alana. Leher Dito mulai dibasahi oleh lelehan hangat yang jatuh dari manik indah putrinya.
Tidak tega jika Alana menangis, Dito akhirnya berdiri sambil mengendong putrinya.
"Selamat ya untuk pernikahan kalian," ucap Dito menyerahkan sebuah kotak pada Aurora.
"Tenang aja bentar lagi sikap Alana balik kok. Dia bakal senang ketemu sama kalian berdua, beri gue waktu buat ngejelasin semuanya."
"Alana tahu?" Adam angkat bicara setelah lama terdiam.
"Kalau dia tahu bukan gini reaksinya, soalnya dia posesif tentang orang yang dia sayang," sahut Dito lalu pergi begitu saja tanpa menunggu Keenan.
Di tengah-tengah perjalanan keluar dari gedung, Alana menyempatkan melirik wanita bergaun pengantin yang sempat berhasil mengambil hatinya meski hanya beberapa hari.
Gadis kecil itu juga tidak tahu kenapa harus marah mendengar mommy cantiknya tidak ingin tinggal berdua bersama daddynya, sementara mau tinggal dengan pria yang Alana kerap panggil om Adam.