Love Scandal

Love Scandal
Part 46 ~ Love Scandal



"Gue jebak lo dengan bantuan orang yang ada di dalam club. Maaf," lirih Aurora, tidak sanggup untuk menatap manik Dito yang sejak tadi berkedip.


"Masih ada 10 menit," ucap Dito.


"Gue pernah ada niatan ngasih tau semua kebohongan ini sama lo, bahkan nggak terhitung berapa kali. Tapi setiap gue mau ngomong ada aja halangan, entah sahabat lo yang datang kerumah atau orang tua kita. Karena terus ditunda-tunda keberanian gue semakin menitipis."


Aurora mencoba mendongan ketika tangannya di genggam oleh Dito. Wanita itu menatap wajah suaminya yang datar. Tidak ada rasa kasihan ataupun amarah yang Dito perlihatkan.


"Masih ada lagi?"


Aurora mengeleng membuat Dito lantas berdiri dari duduknya. "Makasih udah mau jujur meski semuanya terlambat. Hati gue lega dengarnya, tapi maaf kita harus berpisah!" ucap Dito dan meninggalkan kamar istrinya.


"Maaf," lirih Aurora meski Dito telah pergi dari hadapannya. "Apa yang harus gue lakuin biar lo nggak cerain gue, Dito? Gue cinta sama lo."


Aurora terus terisak dan mengumamkan kata maaf meski Dito tidak ada lagi di hadapannya. Wanita itu sampai terlelap dalam tangisnya hingga tidak sadar telah dipindahkan ke ranjang oleh Dito.


Mungkin kecewa dan rasa marah ada dalam hati Dito. Namun, dia tidak pernah tega jika melihat wanita menderita.


Dito duduk di sisi ranjang, memperhatikan Alana dan Aurora secara bergantian. Wajah yang hampir mirip sedang tertidur dengan suasana hati berbeda-beda. Alana tidur dengan tenang, tapi tidak dengan Aurora yang isakannya sesekali terdengar.


"Maaf, gue juga salah karena terlalu percaya sama lo. Maaf karena harus misahin lo sama Alana, gue tau nggak ada ibu yang rela pisah sama anaknya, tapi ini hukuman buat lo Rora," gumam Dito.


Karena mulai mengantuk, pria itu membaringkan tubuhnya di sofa, jaga-jaga kalau saja Alana terbangun sebab merasakan lapar.


***


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, usia baby Alana telah memasuki bukan ke tujuh. Di mana semua keluarga besar Dito dan Aurora dibuat gemas oleh tingkah balita tersebut. Kesehatan Aurora pun mulai membaik meski ada drama luka jahitan yang hampir infeksi saat masa² penyembuhan.


Di usia demikian Alana tentu membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Alih-alih memperbaiki sebuah hubungan, Dito malah semakin menjauhi Aurora secara perlahan-lahan padahal wanita itu sedang memperjuangkan rumah tangannya agar tetap utuh.


Enam bulan bukanlah waktu yang singkat untuk Aurora berjuang, tapi tidak sekalipun Dito melihat perjuangannya. Dito telah dibutakan oleh rasa kecewa dan amarah.


Wanita itu kini sedang bermain dengan putrinya di ruang tamu hingga tidak menyadari kedatangan Dito yang tengah berdiri di belakangnya.


Hingga di mana Alana merangkak sedikit demi sedikit untuk meraih kaki Dito, saat itulah Aurora tersadar.


"Gimana sama kuliahnya?" tanya Aurora.


Dito tidak menjawab, pria itu hanya menyerahkan surat dari pengadilan. Surat yang masih membuat Aurora mempunyai alasan tinggal di rumahnya.


Aurora tidak ingin pergi dari rumah jika surat cerai yang resmi dari pengadilan belum keluar. Namun, hari ini dia tidak punya alasan apapun lagi untuk bersama Dito.


"Apa nggak bisa diperbaiki lagi Dito? Gu-gue udah berubah."


"Nggak ada, sana kemas barang-barang lo dan pergi!" ujar Dito yang langsung mengendong putrinya. Menjauhkan Alana dari Aurora.


"Gue berubah pikiran!" ucap Aurora membuat langkah Dito yang hendak menapaki anak tangga berhenti. Pria itu berbalik untuk menatap Aurora dengan kening mengkerut.


"Maksud lo?"


"Hak asuh Alana harus sama gue! Dia putri gue, darah daging gue! Lo nggak punya hak apapun tentangnya!" ucap Aurora dengan nafas memburu. Tangannya mengepal untuk mengumpulkan keberanian dalam dirinya.


Dulu dia mengiyakan semua keinginan Dito karena mengira suaminya akan berubah pikiran seiring berjalannya waktu, tapi ternyata tidak.


"Gue bakal pergi dari rumah ini tapi sama putriku!"


"Rora!" bentak Dito dengan mata memerah.


Teriakannya tentu membuat Alana takut dan menangis histeris.


"Sial," umpat Dito segera meninggalkan Aurora di lantai dasar.