
Terjadi keheningan antara Aurora dan Dito yang duduk saling bersampingan dengan jarak kurang lebih setengah meter yang membentang. Keduanya memfokuskan atensi pada layar yang terus menampilkan berbagai tayangan iklan yang terus berganti setiap menit.
Rasa canggung melanda keduanya setelah lama tidak bertemu. Terutama untuk Dito yang tiba-tiba menyusul Aurora ketika mendengarnya sakit dan dirawat oleh pria asing.
Entahlah, tapi langkah kaki Dito seakan tidak ingin berhenti sebelum sampai di apartemen Aurora. Pria itu mendapatkan alamat Aurora berbekal mencari informasi hingga tuntas.
Dito tipe orang yang bisa mendapatkan informasi siapa saja jika ingin. Namun, rasa malas dan penasarannya yang tidak terlalu besar membuat dia bodoh amat akan sekitar.
"Gimana keadaan lo?" tanya Dito tanpa menatap Aurora.
Percayalah, hati Dito terasa lega setelah melihat mantan istrinya baik-baik saja secara langsung.
"Seperti yang lo liat, semuanya baik-baik saja. Kenapa ke sini? Ada urusan atau memang nyusulin gue?"
"Ada kerjaan dari papah, sekalian mampir bawa Alana," jawab Dito tentu berbohong.
Padahal pria itu rela meninggalkan teman-temannya yang sedang menjalankan misi di markas.
"Gue kira nggak bakal liat Alana lagi. Makasih Dito karena udah bawa putri gue ke sini." Kali ini Aurora memberanikan diri untuk menatap Dito yang ternyata sejak tadi memandanginya.
Dito baru membuang muka setelah Aurora menoleh. "Tinggal berdua?"
"Hah?"
"Sama pria tadi."
"Nggak, apartemennya tepat di sebelah gue. Tadi dia cuma nemenin karena gue demam dari pagi."
"Kirain," gumam Dito.
Sungguh perasaan Dito sedikit kesal ketika mendapati pria lain ada di apartemen Aurora padahal sudah tengah malam.
"Harusnya di negara orang lo bisa jaga diri. Demam udah pasti karena kurang tidur dan malas makan."
"Gue udah berusaha tapi nggak bisa To. Gu-gue kangen sama kalian berdua, dan dengan lo datang sekarang gue jadi ada harapan lagi padahal ...."
Apapun yang terjadi keduanya tidak akan pernah bisa bersama karena kegoisan Dito yang tidak memikirkan sebab-akibat sebelum mengambil keputusan.
Langkah Dito berhenti ketika tangannya ditarik oleh Aurora. Wanita itu mendongak menatap manik indah Dito meski hanya sesaat.
"Boleh gue meluk lo bentar aja?"
"Rora!"
"Untuk terakhir kali. Setelah ini gue janji nggak bakal suka sama lo lagi. Gue janji bakal lupain lo, terlebih sekarang Alana udah punya calon mommy." Mata Aurora berkaca-kaca, membuat Dito menghela nafas panjang.
Pria itu kembali duduk, mengizinkan Aurora bersandar di dadanya sambil memeluk.
Jika boleh jujur, Dito senang dan rindunya sedikit terobati merasakan pelukan hangat dari mantan kekasihnya.
Dito menepuk-nepuk pundak Aurora secara perlahan. Keheningan kembali melanda bedanya Aurora berada dalam pelukan Dito.
Sakin nyamannya, wanita itu sampai terlelap, membuat Dito mempunyai banyak kesempatan untuk memandangi wajah cantik yang sayangnya terlihat sangat pucat.
"Semoga bahagia Rora meski bukan gue alasannya. Gue bakal nyari tahu siapa Adam, apa dia pantas milikin cinta tulus lo atau nggak. Gue nggak bakal biarin lo ketemu pria bren*gsek kayak gue ataupun Aron," bisik Dito.
"Andai gue bisa mutar waktu, gue pengen balik ke masa dimana kita hidup bahagia meski tanpa cinta. Gue tau, lo juga pasti berharap waktu bisa diputar kembali dan memperbaiki kesalahan yang ada." Dito menyentuh pipi Aurora yang terasa sangat lembut.
"Tapi apa lo tau? Kita nggak bakal dewasa ketika jalan hidup kita mulus-mulus aja, Ra. Mungkin ini proses pendewasaan buat kita berdua."
Dito terus memandangi wajah Aurora, hingga akhirnya memutuskan untuk membawa wanita itu ke kamar dan membaringkannya tepat di samping Alana yang masih terlelap.
Balita berusia 7 bulan itu sudah bersih dan makan di hotel sebelum berkunjung ke apartemen Aurora.
"Selamat tidur dua bidadariku," gumam Dito dan meninggalkan dua perempuan berbeda generasi tersebut.
Dito kembali ke hotel yang tidak jauh dari gedung apartemen Aurora jika ditempuh dengan jalan kaki. Beda cerita kalau harus naik kendaraan.
Dito harus putar balik agar sampai di hotel tempatnya menginap.