Love Scandal

Love Scandal
Part 43 ~ Love Scandal



Mungkin membawa Alana bepergian padahal baru berusia 4 hari adalah hal yang sangat berbahaya, tapi Dito melakukannya sebab takut Aurora membawa putrinya pergi.


Dito bisa melepaskan Aurora untuk pergi dari hidupnya, tapi tidak bisa jika wanita itu akan membawa bayi yang sudah dia rawat sejak di dalam kandungan.


Membawa Alana terus bersamanya membuat Dito sedikit menjadi perhatian, terutama fans-fansnya yang langsung jatuh cinta karena melihat betapa tampannya Dito mengasuh seorang bayi. Beruntung saja Alana tidak rewel, hanya menangis jika lapar saja membuat Dito tidak kewalahan.


Pria itu baru kembali ke rumahnya setelah jarum jam menunjukkan angka 3 sore, terlebih panggilan dari berbagai pihak sudah menghantui sejak tadi. Dia menghela nafas panjang menatap rumah yang dulunya sangat nyaman kini terasa membosonkan untuk Dito.


Terlebih ada Aurora di dalamnya. Wanita tidak tahu diri yang terus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal kesahalannya sangat besar. Sampai sekarang Aurora belum juga mengatakan yang sebenarnya. Hanya terus meminta maaf, padahal Dito butuh kejujuran meski telah mengetahuinya sendiri.


"Akhirnya cucu mommy pulang juga," sambut mommy Aurora yang sudah datang sejak setengah jam yang lalu, sementara mamah Dito telah pergi karena ada urusan penting.


Dito senyum kikuk, menyerahkan Alana pada mertuanya, kemudian dia berlalu ke kamar diikuti oleh Aurora di belakangnya.


Tahu Aurora akan ikut masuk ke kamar, pria itu langsung menutupnya, membuat Aurora tersentak kaget.


"Lo udah makan? Gue baru aja masak sama mommy, ayo makan dulu," tanya Aurora berdiri di ambang pintu.


Senyumnya mengembang ketika Dito membuka pintu dengan pakaian santai.


"Masuk ...." Mendongak ketika Dito menarik tangannya memasuki kamar.


Aurora bergeming di sisi ranjang, menatap Dito yang berdiri di hadapannya.


"Gue beri lo setengah jam buat bicara sepuas yang lo mau, selama itu gue nggak bakal menyela apapun. Katakan kapan waktu itu mau kau gunakan?" tanya Dito bersedekap dada.


"Setelah Mommy pulang, boleh? Gue nggak mau dia tahu kalau kita ...."


Dito senyum sinis. "Bukannya cepat atau lambat orang tua bakal tau ya kalau rumah tangga kita nggak baik-baik aja? Terlebih kalau gugatan cerai yang gue ajuin keluar."


"Nggak ada jalan selain berpisah? Gue nggak mau pisah sama lo." Mencoba menarik tangan Dito, tapi pria itu seakan tidak ingin disentuh meski seujung kuku.


"Sayangnya gue mau pisah sama lo! Katanya gugatan cerai bakal keluar paling lambat 30 hari. Selama itu lo boleh dekat sama putri gue tapi nggak dengan membawanya pergi!"


Dito berbalik, hendak keluar dari kamar. Namun, langkahnya berhenti sebab pelukan Aurora dari belakang. Isakan mulai terdengar di telinga Dito bersamaan kaos oblongnya mulai basah akan air mata.


"Gue nggak mau pisah Dito, gue mau hidup bahagia sama lo dan anak kita. Gue tahu kesalahan gue besar banget dan gue siap membayar semuanya kecuali perpisahan. Gue cinta sama lo," lirih Aurora.


Dito bergeming, membuat Aurora semakin mengeratkan pelukannya. "Gue rela lo nyuekin gue di rumah ini. Gue rela lo suka sama orang lain, jalan sama siapa aja. Pacaran juga nggak masalah. Tapi gue harus jadi istri lo satu-satunya."


"Egois!" Dito tertawa hambar.


"Iya gue egois, dulu dan sekarang gue bakal terus egois demi mempertahankan apa yang jadi keinginan gue."


"Gue juga bisa egois!" Melepas paksa pelukan Aurora dan keluar dari kamarnya. Menemui mertuanya yang mungkin saja membawa Alana pergi.


Sekarang Dito sangat berhati-hati jika menyangkut putrinya. Karena sadar di luar sana ada ayah sebenarnya yang mungkin suatu hari ini ingin mengambil Alana dalam hidupnya.


Jika itu terjadi, Dito lebih ikhlas menyerahkan Aurora daripada putrinya, Alana.


"Sayang, kok mata sama hidung kamu merah? Kayak habis nangis," cetus Mommy Aurora ketika melihat putrinya menyusul Dito.


"Mata Rora kayaknya iritasi Mah, akhir-akhir ini sering merah, tapi Dito udah beliin obat tetas mata kok."