
Perjodohan yang ditetapkan dan hari pertunangan tidak bisa diganggu gugat membuat Keenan hanya bisa pasrah menerima jalan hidupnya.
Karena mengelakpun tiada guna untuknya, wanita yang dia cintai sudah milik sahabatnya, bahkan sekarang telah memiliki seorang anak.
Pria itu kini duduk di pinggir ranjangnya, sementara Dito, Rayhan, Ricky saling berebut makanan di depan Tv, dan Samuel sibuk memetik gitar di balkon kamar.
Kaributan di dalam kamar Keenan tak terelakkan. Teriakan Dito, Ricky dan Rayhan mendominasi tanpa tahu undangan kedatangan mereka karena wakil ketua Avegas telah galau sebab besok akan melangsungkan pertunangan.
"Bisa diam nggak sih?" tanya Keenan akhirnya ketika telinganya akan pecah.
Ketiga manusia yang masih saling berebut sepotong ayam goreng lantas menjauhkan diri sehingga ayam goreng tersebut mengenai kepala pemilik kamar.
"Anjir!" maki Keenan yang membuat ketiga palaku malah tertawa terbahak-bahak.
"Derita lo Keen, wkwkwkwk." Tawa Rayhan mengelegar.
"Udah jatuh ketimpa tangga pula," ledek Ricky.
"Teman nggak punya akhlak, nyesel gue ngundang kalian! Ngabisin makanan aja taunya!" gerutu Keenan.
Suasana seketika hening ketika wanita paruh baya membuka pintu secara tiba-tiba. Dito, Ricky dan Rayhan tentu akan bersikap cool di depan Kinanti-mamah Keenan.
"Tante cantik," sapa Rayhan.
"Kalau lapar atau butuh sesuatu ke bawah aja ya, di bawah banyak makanan," ucap Kinanti, lalu menatap putranya. "Jangan jahat sama teman sediri!"
"Iya Mah."
"Mampus," gumam Dito disertai cekikikan Ricky dan Rayhan.
"Oh iya, di depan ada Glora, katanya mau ketemu kamu. Dari tadi ditelpon nggak diangkat-angkat katanya," lanjut Kinanti.
Keenan mengangguk malas, beranjak dari duduknya. Tidak lupa melempar ayam goreng tersebut ke pangkuan Rayhan.
"Jangan lupa saran gue!" teriak Dito ketika Keenan hampir melewati pintu.
"Ngomongnya dari hati ke hati bro," timpal Rayhan.
"Jangan sampai ada kebohongan di antara kita, takutnya kayak Dito yang jadi duda," pekik Ricky langsung mendapat pukulan dari Dito.
Keenan hanya mengelengkan kepalanya, meninggalkan teman-temannya yang tidak waras. Dia berjalan dengan santai menapaki anak tangga dan melihat Glora sedang berada di dapur bersama mamah Kinanti.
"Gue mau ngomong sesuatu tapi berdua aja," sahut Glora menghentikan kegiatannya di dapur.
"Ke taman belakang kalau gitu," ajak Keenan dan dibalas anggukan oleh Glora.
Keduanya berjalan menuju taman belakang yang tampak sepi. Pertunangan yang sangat dadakan membuat keduanya tidak punya waktu banyak untuk bicara berdua saja.
Sebenarnya hari ini Keenan yang akan mengajak Glora bertemu lebih dulu, tapi gadis itu malah datang kerumahnya.
Dia duduk di kursi panjang bersama Glora.
"Mua ngomong apa?" tanya Keenan tanpa menatap calon tungannya. Tatapan pria itu tertuju pada balkon kamarnya di mana Samuel tengah bermain gitar tanpa terganggu oleh apapun.
"Lo yakin mau nerima perjodohan ini? Kalau lo keberatan gue bisa bilang sama papah," ucap Glora.
"Lo keberatan?" Keenan melirik Glora.
"Selama lo nggak keberatan gue juga nggak. Lagian lo baik dan kayaknya penyayang, gue yakin bakal hidup lebih baik setelah ngenal lo," jawab Glora.
Keenan tersenyum, suara Glora sangat lembut. Pembawaanyapun sangatlah menyenangkan dan tidak kaku pada orang baru.
"Gue nggak keberatan tapi gue mau jujur satu hal sama lo."
"Apa?" Kali ini Glora yang menatap Keenan, sehingga tatapan keduanya bertemu sebelum akhirnya Keenan memutus begitu saja.
"Gue punya cinta pertama yang sampai sekarang nggak bisa gue lupain. Dia ada di sekitar gue. Gue bahkan sering kali berkunjung kerumahnya dan memberi perhatian pada anaknya," jujur Keenan.
Pria itu sebenarnya ingin menyembunyikan fakta demi tidak menyakiti hati Glora. Namun, Dito tidak setuju dan menyuruhnya agar tidak menyembunyikan apapun.
"Sakit atau nggaknya, kejujuran lebih baik dari kebohongan Keen. Mungkin sekarang nggak, tapi suatu hari nanti pasti nyakitin orang yang mungkin suka sama lo."
Itulah yang Dito katakan yang membuat Keenan memutuskan untuk jujur.
"Dia udah nikah?" tanya Glora.
"Namanya Salsa, dia udah nikah sama sahabat gue. Tapi sahabat gue meninggal sebelum kelulusan. Gue cuma jalanin amanah aja buat jaga Salsa dan anaknya. Gue juga nggak bakal rebut dia dari sahabat gue meski udah nggak ada."
Keenan kembali menatap Glora, kali ini dia mengenggam tangan Glora yang saling meremas.
"Gue ngomong gini bukan buat lo mundur atau ragu tunangan, tapi gue jujur demi kebaikan kita nantinya. Gue nggak mau ada pertengkaran karena Salsa dan putranya. Gue juga janji bakal berusaha lupain dia dan cinta sama lo."