Love Scandal

Love Scandal
Part 20 ~ Love Scandal



Aurora mengira hari libur adalah waktu yang pas untuk menghabiskan waktu berdua dengan Dito. Namun, kenyataanya pria itu telah siap dengan kemeja putih dengan celana kain di tubuhnya.


Aurora mengerjap pelan, menatap Dito yang menapaki anak tangga satu persatu sambil memainkan ponselnya.


"Formal banget, mau kemana?" tanya Aurora setelah Dito berada di hadapannya.


"Ke kantor, papah menyuruh gue belajar mimpin perusahaan biar pas pelantikan nggak canggung. Mayan dapat uang sakut buat kita berdua," cengir Dito.


Tanpa memikirkan kemeja yang mungkin saja akan kusut, Dito berbaring di sofa ruang tamu sambil memejamkan matanya. Kabar papahnya terlalu mendadak membuat Dito tidak punya persiapan apapun, termasuk begadang semalam karena mengira hari ini libur.


Baru saja akan terjun ke dunia mimpi, suara keributan dan perdebatan kecil terdengar di telinganya. Dia melirik ke arah pintu dan mendapati mamah dan papahnya. Langsung saja Dito bangun, begitupun dengan Aurora.


"Lah katanya satu jam lagi?" Protes Dito yang masih ingin tidur.


"Tuh mamah kamu nggak sabar, katanya liat kondisi rumah. Pengen tau putra sama menantunya hidup kayak apa." Papah Dito melirik istrinya dengan lirikan mata.


Sementara yang dilirik sibuk memperhatikan aura rumah yang berbeda sejak ditinggali oleh putra dan menantunya. Mata mamah Dito memicing melihat kemeja putranya yang kusut bagian belakang.


"Kenapa kemejanya kusut gitu Dito? Mamah paling nggak suka liatnya!" omel wanita paruh baya itu.


"Tadi udah rapi Mah, tapi ditinggal tidur jadinya kusut. Ayolah kan mau dilapisin jas nggak bakal keliatan."


"Nggak boleh gitu, mamah paling nggak suka sama orang jorok ih. Ganti!" pintanya. Mamah Dito melirik Aurora yang berdiri mematung. "Harusnya kamu jadi istri perhatiin penampilan suami kamu Nak. Kalau diliat orang kan nama kamu yang jelek," ucapnya pada Aurora.


"Iya Mah, lain kali Rora lebih peka lagi."


"Mah, Rora tuh nggak tau apa-apa. Udah deh mamah selalu besarin masalah tentang kebersihan."


"Ck, pulang kerumah ajalah kalian berdua." Wanita paruh baya itu berjalan memasuki dapur karena merasa sangat haus.


Membuat Aurora menelan salivanya kasar.


"Dito!" teriak mamah Dito dari dapur.


"Mah udah, ini rumah Dito dan Dito udah punya istri. Kalau Mamah marah-marah kayak gini Dito yang nggak enak sama Rora," bujuk pria itu yang tidak ingin Rora tersinggung dengan mulut mamanya yang akan berubah cerewet jika tentang kebersihan.


"Gimana mamah nggak emosi Dito? Ini meja makan bukan tempat sempah. Masa cuma beresin meja makan aja dia nggak bisa? Bibi kapan datang?"


"Dito nyuruh bibi datang setiap jam 9 pagi. Udahlah Mah, namanya juga orang hamil pasti mageran. Rora juga gitu."


"Memangnya dia nggak pernah diajarin sama orang tuanya?"


"Mah udah plis, takutnya Rora dengar," pinta Dito memohon. Pria itu sangat menjaga perasaan Aurora, karena mengira masa depan wanita itu hancur karena kesalahannya.


Tanpa Dito sadari semua pembicaraan yang ada di dapur didengar jelas oleh Aurora. Dada wanita itu terasa sesak dan ada rasa bersalah sebab terlau fokus pada dunianya sendiri.


"Mommy sering ngajarin Rora kok Mah, tapi Roranya aja yang malas karena ngira ada bibi," ucap Aurora berjalan mendekati suami dan mertuanya.


"Baguslah nak kalau kamu sadar diri. Lain kali lebih rajin lagi, kalau nggak tau masak sama nyunyi mamah maklumin kok soalnya itu tugas pembantu. Tapi beresin makanan sendiri kayaknya keterlaluan!" ucap mamah Dito tanpa menyembunyikan apapun. Apalagi wanita itu bukan tipe munafik, dimana memuji seseorang yang memang tidak pantas dipuji.


"Mah!"


"Dito, mamah ngomong gini karena udah ngangep Rora putri mamah!"


"Maaf Mah, Rora bakal belajar lagi. Rora janji bakal perhatiin penampilan Dito sama bersih-bersih yang lainnya."


"Harus itu!"


"Udahlah Ra, mending lo ke kamar aja nggak usah dengerin Mamah!" pinta Dito mulai tidak enak.


Dito mengerti Aurora tidak tahu apa-apa karena memang terlahir dari anak orang kaya. Namun berbeda dengan mamahnya yang memang mendidik anak-anaknya mandiri sejak dini meski mempunyai banyak uang.


"Ah ya lupa, kamar gimana, udah bersih?"