
Seperti pembicaraanya semalam dengan Alana sebelum tidur. Hari ini Dito dan putrinya akan jalan-jalan untuk membelikan Aurora kue ulang tahun.
Raut wajah Dito terlihat sangat bahagia. Bayangan Aurora yang tersenyum penuh haru bermunculan di pikiran pria itu.
Hari ini Dito tidak hanya pergi bersama Alana, ada Diandra yang menemani dengan alasan Canra sibuk dengan kuliahnya.
Ketiganya telah sampai di mall di mana kemarin Dito telah memesan kue tersebut.
Sepanjang jalan ada saja yang bisa membuat Alana tertawa. Balita itu duduk di troly yang sedang Dito dorong.
"Katanya pisah karena nggak cinta, tapi kok masih peduli?" sindir Diandra sambil meneliti kuku lentiknya.
Dito mendelik, Diandra selalu saja memancing untuk berdebat satu sama lain. Entah seluas apa kesabaran Canra hingga bertahan selama bertahun-tahun dengan Diandra.
"Bukan urusan lo! Gue ngajak biar nggak diganggu cewek aja," sahut Dito terus berjalan.
"Sok kegantengan," cibir Diandra.
"Emang gue ganteng!"
Keduanya terus saja berdebat hingga sampai di toko kue langanan Dito. Pria itu bukan hanya membeli kue, akan tetapi semua perlengkapan yang mungkin diperlukan untuk merayakan ulang tahun berbekal Diandra yang mungkin lebih pengalaman.
Dito juga meminta Diandra agar mendekor kamarnya supaya terlihat lebih menarik hanya untuk menyenangkan hati Aurora yang ada di negera orang.
Usai memilih-milih, ketiganya pulang tanpa berbelanja apapun karena Diandra tidak punya cukup waktu.
Waktu yang diberikan oleh Canra hanya sampai jam 2 siang.
"Gue masuk nih? Serius nggak?" tanya Diandra setelah sampai di rumah. Berdiri di ambang pintu kamar Dito dan engang untuk masuk.
"Terus lo mau ngapain? Nyulap di depan pintu? Ya kali bakal beres!"
Dito menarik paksa Diandra agar masuk ke kamarnya. Sementara Alana dia tinggalkan pada mamahnya yang berada di lantai bawah.
Membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk menyelesaikan dekorasi di dalam kamar.
Sepeninggalan Diandra, Dito membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengirim pesan pada mantan istrinya.
Dito harap-harap cemas menunggu balasan Aurora yang tidak kunjung terlihat. Pria itu sampai tertidur hanya menunggu balasan dari mantan istrinya.
Namun, selama itu pula Dito tidak mendapatkan balasan apapun dari Aurora bahkan saat bangun dari tidurnya.
"Apa cuma gue yang terlalu antusias?" gumam Dito memandangi ponselnya tanpa ingin beranjak dari ranjang, padahal dia belum cuci muka setelah tidur siang.
Gabut mulai menghampiri, akhirnya Dito melihat-lihat story teman-temannya yang berada di kontak.
Kadang-kadang dia tertawa layaknya orang gila melihat kekonyolan Rayhan yang di kejar-kejar oleh Angsa.
Ricky dengan status galaunya padahal tidak galau, melainkan mencari mangsa baru untuk dijadikan pacar jalan di malam minggu.
Senyuman dan tawa lebar Dito menghilang seketika saat melihat story Aurora beberapa menit setelah dia mengirim pesan.
Dito menghembuskan nafas kasar.
"Bisa-bisanya gue peduli sama dia," guman Dito. Entahlah, dia tidur cemburu hanya saja kecewa Aurora tidak membalas pesannya hanya karena sibuk dengan Adam.
Buru-buru pria itu menghapus pesan yang dia kirimkan tadi pada Aurora agar tidak terlihat seperti pengemis perhatian.
Namun, belum sempat dia hapus, pesan telah masuk ke ponselnya
Dito lantas menelpon teman-temannya agar segera kerumah untuk menghabiskan kue yang telah dia beli.
Rasanya dia sia-sia membuang tenaga hanya untuk membuat kejutan pada mantan istrinya yang telah bahagia bersama orang lain.
Dito mengepalkan tangannya. "Nggak, gue nggak boleh marah apalagi kesal dengar Rora bahagia," gumamnya. "Di berhak bahagia."
Pria itu keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Alana yang ternyata sedang berada di taman belakang bersama sang maman.
Alana tertawa memandangi omanya yang sejak tadi bernyanyi sambil menyiram bunga. Balita yang berada di atas troly terlihat sangat cantik.
Sudut bibir Dito ikut tertarik melihat putrinya sangat bahagia.
"Gue nggak bakal nikah sebelum Alana bisa ngurus dirinya sendiri," gumam Dito.