
Pertemuan antara Alana dan orang tua Arurora tidak membuat Alana begitu bahagia. Terlebih saat gadis kecil itu tahu bahwa tante cantik yang sangat ingin dia jadikan mommy akan menikah dengan orang lain.
Sejak pulang dari rumah sakit, Alana lebih baik diam dibanding hari-hari biasanya, membuat Dito tentu heran dengan tingkah putrinya.
Tidak kunjung keluar kamar membuat Dito memutuskan untuk mengunjungi sang putri. Tersenyum ketika melihat Alana tengah duduk di kursi sambil menggambar sesuatu di sebuah kertas.
Dito ikut duduk di samping putrinya.
"Kok habis ketemu tante cantik jadi cemberut? Daddy kan nggak suka kalau Alana cemberut, daddy sedih liatnya," ucap Dito dengan bibir sengaja di kerucutkan, bertingkah seumuran putrinya.
Hal itu berhasil mengambil perhatian Alana.
"Alana sedih tante cantik mau pacaran sama om Adam, Alana mau tante cantik tinggal di rumah kita Daddy," sahutnya.
"Oh jadi karna itu Alana cemberut?"
"Iya." Mengangguk.
Dito lantas mengendong putrinya lalu membawa ke kamar sebelah, di mana balkonnya jauh lebih besar dan bisa menikmati angin malam yang masih sejuk.
Dia duduk sambil memangku putrinya.
"Alana nggak boleh ngatur-ngatur orang, Sayang. Tante cantik kan mau nikah, artinya dia mau bahagia dan nggak mau bobo sendiri."
"Tapi Daddy ...."
"Memangnya Alana benar-benar mau Mommy? Tau nggak kalau mommy tiri itu jahat banget?" Mulai, Dito menakut-nakuti putrinya.
"Memangnya Alana mau dicubit diam-diam kalau Daddy nggak ada? Alana mau kasih sayang daddy terbagi sama mommy baru? Nanti kalau daddy punya dedek gemes, Alana dilupain, Mau?"
Alana mengeleng sebagai jawaban. "Alana nggak mau daddy sayang sama orang lain."
"Kalau gitu jangan mau mommy baru," bisik Dito mengecup puncuk kepala putrinya. "Daddy bisa jadi mommy dan daddy yang baik buat Alana. Daddy janji bakal buat Alana bahagia sampai nggak merasa kesepian," lanjutnya dan hanya dijawab anggukan oleh Alana.
Hampir satu jam keduanya duduk hingga Alana tertidur dalam pangkuan Dito. Dengan sigap pria itu mengembalikan putrinya ke kamar sebelah, tidak lupa mengecup kening.
"Maafin Daddy karena belum bisa jujur Sayang. Daddy takut kamu benci sama mommy yang bakal nikah lagi. Kamu juga belum tahu masalah rumah tangga," bisik Dito dan meninggalkan kamar usai mematikan lampu.
Pria itu membaringkan tubuhnya setelah sampai di kamar. Menatap langit-langit berwarna moca dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya.
Jika dia hadir di pernikahan Aurora nanti, maka itu kali kadua dia datang ke pernikahan wanita yang dia cintai seperti beberapa tahun silam saat Alana menikah dengan pak Alvi.
Luka yang disembunyikan tanpa ada keinginan untuk mengobati berpontesi infeksi dan akan semakin sakit suatu hari nanti. Akan lebih baik kalau luka itu kembali dibuka dan obati dengan benar. Meski rasanya sakit, tapi sembuhnya sudah pasti.
Kalimat Keenan saat di markas tergiang-giang di telinga Dito untuk saat ini. Apa yang dikatakan Keenan benar, lebih baik membuka luka itu untuk diobati daripa menyimpannya.
Sama halnya dengan Dito, lebih baik dia menghadapi kenyataan dan menerima takdir, daripada harus menyembunyikan rasa yang setiap hari semakin menyiksa.
"Dahlah, emang gue ditakdirin peduli sama istri atau pacar orang," gumam Dito mulai memejamkan mata.
Sementara di tempat lain, yakni kamar yang tidak pernah berubah sama sekali, calon pengantin perempuan masih setia menatap langit yang terlihat sangat gelap. Tidak ada bintang yang besinar di atas sana.
"Apa keputusan aku sudah tepat untuk menikah? Aku baru aja buat putriku sedih," gumam Aurora.
Mengingat pembicaraanya tadi dan bagaimana respon Alana, membuat Aurora sedikit ragu.
Kalau mommy cantik nikah, Alana nggak mau kenal mommy lagi!
Itulah jawaban Alana atas rasa kecewa karena Aurora tidak memilih Dito sebagai pendamping hidupnya.
Aurora menghela nafas panjang, menyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, terlebih saat melihat pria tampan yang berdiri menghadapnya dari balkon dengan jarak cukup jauh.
"Tidur Sayang, diluar dingin!"