
Semua barang telah di kemas rapi, Alana telah cantik dan berada di gendongan mommynya yang sejak tadi cemberut sebab engang melepaskan kepergian sang putri.
"Kalian benar-benar mau pergi?" tanya Aurora dengan wajah cemberutnya.
"Hm, lo sekarang baik-baik aja kan? Jangan sakit lagi soalnya jarak lo sama Alana terlalu jauh," ucap Dito mengambil alih mengendong Alana.
"Gue antar sampai bandara ya?"
"Nggak Rora. Mending lo istirahat aja! Nggak usah banyak gaya, jangan lupa ganti sandi Apart biar nggak sembarang orang masuk."
"Kalau gue nggak baik-baik aja dan masih sakit, lo bakal tinggal? Gue sakit Dito, gue masih demam. Tinggal seenggaknya 3 hari lagi." Menarik tangan Dito yang sedang terkepal.
Pria itu berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak memeluk Aurora.
"Ada Adam yang bakal jaga lo. Dah." Melambaikan tangannya dan keluar dari apartemen Aurora bersama Alana.
Sesekali Dito menoleh ke belakang untuk menatap Aurora yang ternyata berlari hingga pintu untuk salam perpisahan.
"Nanti ketemu mommy beberapa tahun lagi ya Nak. Setelah Daddy mampu berdamai dengan rasa sakit dan rasa suka," bisik Dito pada Alana sebelum memasuki lift.
***
Pergi tanpa berpamitan pada siapapun, termasuk sang mamah, membuat Dito lantas mendapatkan sambutan cukup tidak mengenakkan hati ketika sampai di rumah tepat jam 7 pagi.
Bukan karena mamahnya mengkhawatirkan Dito, melainkan balita yang sedang tertidur dalam troly bayi sambil memeluk bonekanya.
"Bagus, udah berani bawa boneka mamah bepergian jauh. Ngabarinnya pas udah sampai korea. Kalau boneka mamah kenapa-napa kamu mau tanggung jawab hah!" omel mamah Dito sambil berkacak pinggang.
Dito hanya bisa meringis, senjata paling ampuh tentu saja jeweran terlinga, sementara Alana telah diamankan oleh nani yang berada di rumah orang tua Dito.
"Mah, Rora lagi sakit dan kangen sama Alana. Nggak mungkin dong Dito pergi sendiri."
"Tapikan bisa ngabari mamah Dito! Pulang-pulang kalian nggak ada di rumah! Mamah kan mau ikut!"
"Hah?" Dito mengerjapkan matanya, berusaha mencerna berharap tidak salah dengar. "Mamah mau ikut?"
"Iya, menantu mamah sakit masa iya mamah diam aja!"
"Mantan Mah, mantan!"
"Rora mantan istri kamu, tapi tetap mantu mamah! Sana mandi terus makan, jangan ganggu Alana!"
Pria itu akhirnya menuju kamar, bukan untuk mandi apalagi makan. Melainkan langsung tidur karena kurang tidur selama perjalanan.
Alana tidak rewel, hanya saja balita itu tidak ingin tidur membuat Dito tidak tenang jika harus tidur padahal putrinya belum memejamkan mata.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Dito untuk terbang ke alam mimpi. Namun, waktunya di alam mimpi hanya bertahan sejenak ketika hidungnya terasa sangat gatal.
Pria itu terus mengusap hidupnya sambil merubah posisi tidur, tapi tetap saja rasa geli menjalari. Tadi dihidung, sekarang malah terasa di telinga.
Cekikikan mulai terdengar ketika Dito mulai terganggu dalam tidurnya. Meski berusaha mati-matian untuk tidak tertawa, tetap saja Rayhan dan Ricky bersuara.
Keduanya adalah pelaku kenapa telinga dan hidung Dito terasa geli. Kuas make up yang berada di atas meja adalah alat yang digunakan keduanya. Mungkin itu kuas make up Aurora yang tidak Dito pindahkan.
"Sudah woy!" tegur Keenan duduk di sofa bersama Samuel.
"Lucu njir, ekspresinya kek kebelet boker," sahut Rayhan.
"Anji*ng!" umpat Dito.
Brugh
"Anjir!" ringis Ricky ketika tubuhnya mendarat di karpet bulu karena tendangan Dito yang cukup kuat.
Dengan mata sayunya, Dito menatap Rayhan yang menyengir tanpa dosa.
"Taik lo, gue ngantuk njir!" Kembali berbaring dengan mata tertutup.
Namun, bukan Rayhan namanya jika membuat teman-temannya hidup tenang. Pria itu mangambil air yang ada di atas nakas lalu meminumnya.
"Mau ngapain lo njir?" tanya Keenan ketika melihat Rayhan kumur-kumur.
Rayhan tidak menjawab, pria itu memposisikan layaknya dukun yang siap mengobati pasiennya.
Baru saja akan menyemprotkan air dimulutnya pada wajah Dito, pria itu mendapatkan tendangan dari Dito sehingga tubuhnya terhuyung dan kepalanya mengantung di sisi ranjang.
Air kumur-kumur yang ada dimulutnya malah menyemprot wajah sendiri.
"Mampus lo!" ejek Dito dengan seringai liciknya.