
Menjadi ayah tunggal bukanlah hal yang mudah untuk Dito. Kadang kala pria itu harus bersikap seperti ibu yang harus memberikan pengertian pada putrinya, kadang pula menjadi sosok ayah yang tegas jika Alana membuat kesalahan.
Namun, sesulit apapun itu, Dito berhasil menjadi ayah yang hebat untuk putri kecilnya. Setiap kali Alana juara dan tampil di depan teman-temannya, maka Dito adalah orang pertama gadis kecil itu bangga-banggakan.
Terharu? Tentu. Ia merasa tidak sia-sia membesarkan putrinya.
Pria itu sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu yang telah kosong melompong. Semua barang termasuk kursi telah disingkirkan sebab akan ada acara ulang tahun nanti malam.
"Dito, kuenya gimana Nak?" tanya mamah Dito yang baru saja turun dari tangga.
"Beres Mah, sisa dekorasi aja. Parcel juga udah siap!" sahut Dito tanpa menoleh, pria itu sibuk pada notebok di tangannya.
Memeriksa apa yang telah selesai dan belum dikerjakan. Nanti malam adalah pesta ulang tahun putrinya yang k-6, dan ia akan pastikan Alana akan bahagia sampai tidak melupakan momen bahagia tersebut.
"To, ini kursi sebagian di luar kan?" tanya Rayhan yang ikut membantu.
Bukan hanya Rayhan, tapi anggota Avegas juga turut membantu, sehingga Dito tidak terlalu kerepotan mengurus semuanya.
"Hooh, di luar aja. Ntar di sini cuma buat potong kue sama foto-foto," sahut Dito.
Pria itu terus berjalan, menyuruh seseorang jika merasa tidak senang melihat dekorasinya. Bisa dibilang pria itu berubah menjadi mak-mak cerewet demi kelangsungan pesta putrinya.
Dito merongoh saku celananya saat ponselnya berdering, tersenyum melihat nama Aurora tertera di layar ponsel.
"Datangkan ntar malam? Jangan lupa bawa suami kamu," ucap Dito yang benar-benar telah berdamai dengan lukanya.
"Iya, makasih undangannya Dito. Aku pasti datang demi Alana."
"Harus. Oh iya udah dulu ya, Alana lagi manggil."
Tanpa menunggu persetujuan, Dito berlari untuk menghampiri putrinya yang tengah berdiri di lantai dua sambil memanggil namanya.
Dia berjongkok agar sejajar dengan tubuh mungil Alana.
"Alana mau jadi prinses, Daddy."
"Pasti dong, tuh istananya lagi dibangun sama teman-teman daddy."
"Kara bakal datang kan daddy?"
"Semua teman-teman Alana bakal datang, termasuk Kara dan Arga. Pokoknya nanti malam putri daddy bakal jadi prinses yang palinggggg cantiik!" Pancaran mata Dito tidak bisa berbohong bahwa sekarang dia sangat bahagai melihat Alana begitu antusias menyambut umurnya ke-6 tahun.
***
Semua persiapan telah selesai 100%, para anak-anak beserta orang tuanya telah datang sebab jarum jam telah menunjukkan angka 8 malam.
Rumah yang sering kali sepi kita sangat meriah akan pekikan bahagia anak-anak yang saling kejar mengejar di ruang tamu yang telah dibangun istana balon bertema Forzen.
Sementara para orang tua berada di dekat kolam renang saling menyapa, mereka baru bergabung ketika waktunya tiup lilin dan pemotongan kue.
Tepuk tangan dan suara nyanyian mulai bergemuruh di ruangan tersebut. Membuat gadis kecil yang berada di gendongan daddynya tersenyum lebar.
Di hadapan Alana ada sebuah kue princes Elza, sebab tema malam ini adalah prozen.
"Sebelum tiup lilin Alana mau doa apa?" tanya Dito.
Di samping pria itu ada Aurora dan Adam, Dito menyuruhnya mendekat sebab Aurora mempunyai hak atas Alana.
"Alana mau Daddy selalu sayang sama Alana. Daddy harus sehat terus biar bisa jaga Alana," ucap gadis kecil itu.
Semua tamu terharu mendengarnya, terutama inti Avegas yang merasa bangga pada sahabatnya yang berhasil membesarkan Alana layaknya putri sendiri.
Kembali pada pemilik acara yang mulai memotong kue di hadapannya usai meniup lilin.
Potongan pertama tentu Alana berikan pada daddy tercintanya, dan potongan kedua Alana bingung harus memberikannya kepada siapa. Dito yang menyadarinya segera berbisik di telinga sang putri.
"Buat tante cantik," bisik Dito.
Alana mengangguk, berjalan mendekati Aurora setelah turun dari gendongan daddynya.
"Potongan kedua buat tante cantik, makasih udah hadir di pesta Alana," ucapnya.
"Makasih Sayang," ucap Aurora dengan suara seraknya. Mengecup pipi Alana sambil menahan isakan. Merasa terharu Alana masih menganggapnya orang penting.
"Potongan ketiga?" tanya inti Avegas serempak. Mereka tidak berdiskusi, tapi yakin isi pikiran mereka kini sama.
"Buat Kara!" ucap Alana riang berlari menuju laki-laki tampan dengan wajah datarnya. Memberikan kue yang engang diambil oleh Angkara.
"Nggak boleh nolak rezeki," bisik mamah Angkara.
"Kara nggak suka kue," jawab Angkara membuat Alana cemberut.
"Arga mau!" seru Arga langsung menerobos barisan, hendak merebut piring kue di tangan Alana tapi lebih dulu diambil oleh Angkara.
"Nggak boleh nolak kata mamah," ucap Angkara langsung melahap kue tersebut.
Aksi ketiga bocah itu membuat para tamu tertawa dan merasa terhibur. Sesi terakhir untuk Alana dan teman-teman Dito adalah foto bersama, sementara tamu yang tidak berkepentingan mulai sibuk dengan dunia masih-masing dan mencicipi hidangan yang ada.
Rayhan yang menjadi fotografer berdecak ketika merasa ada yang kurang.
"Ck, kayak ada yang kurang nggak sih?" celetuk Rayhan dan diangguki oleh teman-temannya.
"Masa Dito cuma sama Alana, ya kan Ray?" sahut Ricky.
"Terus?" Keenan mengerutkan keningnya.
Berbeda dengan Samuel yang menarik tangan sosok wanita yang sejak tadi menatap Alana tanpa berkedip. "Sorry," ucap Samuel pada Adam.
"Nggak masalah, Aurora berhak mendapatkannya," sahut Adam tersenyum.
Menganggukan kepala ketika Aurora menatapnya, mungkin tidak enak padanya sebagai seorang suami.
"Nahkan seru kalau daddy dan mommynya hadir!" seru Rayhan dan Ricky, langsung mengambil gambar usai memberikan intruksi berbagai gaya.
Foto bertiga Dito, Alana dan Aurora berhasil diabadikan. Foto keluarga untuk pertama dan terakhir kalinya. Namun, Dito berjanji akan menyimpannya dengan baik.
...ENDING...
...****************...
Pagi readers bucin, menurut otor ini adalah ending terbaik untuk Aurora dan Dito. Menurut kalian gimana?
Hubungan yang di dasari oleh kebohongan tidak akan berakhir bahagia.
Mungkin itulah kalimat yang bisa mewakili cerita "Love Scandal."
Terimakasih untuk kebersamaanya selama satu bulan lebih. Jangan bosan ikutin cerita otor terus ya.
Kalian adalah semangat otor.
Sampai jumpa di cerita "Asa di bintang Altair." cerita ini mengisahkan anak Rayhan dan Samuel.