Love Scandal

Love Scandal
Part 92 ~ Love Scandal



Siapa yang mengira bahwa perkataan Alana yang Aurora dan Adam kira adalah candaan, benar adanya.


Gadis kecil itu benar-benar tidak ingin disentuh oleh Adam, bahkan terkesan membencinya. Padahal tidak ada yang pernah mengajari Alana tentang membenci seseorang. Mungkin jika Dito mengetahuinya pria itu akan marah pada putrinya.


Sudah setengah jam yang lalu Alana di rumah sakit, gadis kecil itu sangat mudah berdaptasi dan ramah ke orang yang menurutnya dia sukai.


Seperti saat ini, Alana berada di pangkuan oma yang sebenarnya sambil menatap opanya yang tengah berbaring di atas brangkar.


Tangannya dengan telaten mengusap kening opanya seperti yang Aurora perintahkan.


"Pintar banget sih cucu Oma." Mommy Aurora mengecup pipi Alana berulang kali karena teralu gemas.


Terlebih selama ini dia dan suaminya hanya bisa melihat perkembangan Alana dari jauh, karena tahu hak asuh jatuh ketangan Dito juga Aurora selingkuh, keduanya tidak berani menuntut hak lebih.


Andai tahu yang sebenarnya, mungkin orang tua Aurora akan mengambil paksa cucunya, terlebih Dito dan keluarganya tidak punya hubungan darah dengan Alana.


"Alana memang pintar Oma, daddy selalu ngajarin Alana tiap malam. Oma tahu?" Menatap mommy Aurora dengan mata berbinar. "Besok Alana sama Daddy bakal olahraga di Gym. Alana bisa angkat besi," ujarnya antusias, membuat semua orang tertawa.


Terutama Aurora dan Adam yang tengah duduk di sofa, membiarkan Alana menghambiskan waktu bersama oma dan opanya.


Aurora melirik Adam ketika sebuah tangan melingkar di pundaknya.


"Kenapa?" tanya Aurora.


"Aku mau keluar bentar ke temu Dito," izin Adam.


"Dito? Kenapa? Jangan pergi, aku nggak mau kamu kena pukul. Aku takut Dito belum berubah," pinta Aurora memegang tangan Adam agar tidak pergi menemui Dito.


"Neting mulu sama mantan sendiri. Dia nggak bakal ngapa-ngapain aku, percaya deh. Katanya Dito cuma mau ngomong hal penting." Adam mengusap pipi Aurora sambil tersenyum.


Pria itu baru saja mendapat pesan dari Dito yang katanya menunggu di basemen rumah sakit.


Aurora menghela nafas panjang. "Awas aja kamu pulang ada yang luka, kita musuhan!" Ancamnya.


Untung para orang tua dan Alana tidak melihat atau Aurora akan merasa malu. Semetara sang pelaku telah melangkah di lorong rumah sakit menuju basemen.


Tepat saat pintu lift terbuka, Adam melihat Dito duduk di atas kap mobilnya sambil bersedekap dada. Pria itu tampak rapi dengan setelan jas kerja ditubuhnya.


Berbeda dengan Adam yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek dengan ponsel di tangannya.


Adam melangkah mendekat. "Mau ngomong apa?" tanyanya.


"Nggak ada yang penting sih, cuma mau ngasih selamat aja." Dito mengelurkan tangannya pada Adam. Dengan ragu Adam menyambut uluran tangan tersebut.


"Makasih," ucap Adam dengan senyuman.


Alis Dito bertaut, rasanya pria itu tidak melakukan apapun tapi Adam malah berterimakasih.


"Makasih karena beri gue kesempatan buat bahagiain Aurora."


"Oh tentu! Awas aja kalau lo sampai buat dia nangis! Gue bakal rebut dia kembali apalagi dia punya alasan untuk kembali. Jadi berhati-hatilah." Dito senyum penuh arti.


"Akan gue pastikan nggak ada kesempatan untuk kalian kembali."


Kedua pria tampan itu lantas tertawa layaknya teman, padahal sama-sama sakit dengan pembicaraan yang mereka keluarkan sendiri.


Adam yang takut Aurora berpaling karena Alana dan cinta mungkin masih ada di hati calon istrinya, sementara Dito sakit hati sebab wanita yang dia cintai akan menikah dengan pria lain.


"Cuma itu sih yang mau gue omongin. Oh iya, jadi daddy yang baik buat putri gue. Jangan batasi Aurora dan Alana buat ketemu," ucap Dito, menepuk pundak Adam lalu masuk ke mobilnya.


Melajukan mobil hitam tersebut meninggalkan kawasan rumah sakit. Sekuat tenaga Dito menekan rasa sesak di dadanya saat berbicara dengan Adam.


Pria itu sukses mengendalikan dirinya. Ternyata yang hati Dito inginkan dari dulu adalah Aurora tahu perasaan yang sebenarnya. Terbukti setelah mengungkapkan rasa, hati Dito bisa berdamai dengan keadaan meski sesakit apapun itu.