
Aurora tidak pernah menyangka bahwa kini dia benar-benar telah berpisah dengan pria yang dulunya sangat perhatian dan baik padanya.
Sejak tadi tatapan Aurora tidak pernah terlepas dari Dito yang tampak asik bermain capit boneka dengan Alana. Senyuman tidak pernah pudar di wajah Aurora melihat kebahagiaan Dito dan putrinya.
Kini mereka sedang berada Timezone setelah dari rumah sakit memeriksakan kondisi Alana. Dokter mengatakan Alana sehat dan pertumbuhannya normal.
Hal itu membuat Aurora tidak terlalu khawatir meninggalkan putrinya untuk waktu yang lama.
Aurora mendekat ketika tiga boneka kelinci berhasil dicapit oleh Dito.
"Yey Daddy dapat banyak boneka!" pekik Aurora memeluk tiga boneka tersebut. Tidak peduli akan perhatian orang-orang yang mungkin menatap aneh.
Senyuman Aurora semakin melebar saat Alana dan Dito ikut tertawa bersama.
Usai menghabiskan waktu di bagian capit boneka, akhirnya dia dan Dito menuju istana balon. Keduanya berjalan beriringan layaknya pasangan romantis.
Aurora memeluk sebelah tangan Dito, sebelahnya lagi tengah mengendong Alana. Risih? Dito tidak risih sama sekali, bahkan suka. Setidaknya dia bisa merasakan kebersamaan sebelum berpisah dan entah akan bertemu kapan.
Mungkin jika bertemu suatu hari nanti, belum tentu Aurora masih sendiri.
"Dito, gue bahagia banget hari ini. Lo gimana?" tanya Aurora menatap Dito yang sejak tadi menatapnya tanpa dia sadari.
"Biasa aja."
"Berarti yang bahagia cuma gue ya? Nggak papa kok, kan gue egois." Aurora tertawa untuk menutupi lukanya.
Wanita itu melepaskan rangkulan ketika melihat boneka besar yang sedang berjalan kesana-kemari sambil menari. Dia berlari untuk menghampiri boneka tersebut tanpa memperhatikan jalan hingga hampir menabrak troli barang lumayan besar.
Dito yang melihatnya dengan sigap mengapai pinggang Aurora. Menempelkan tubuh keduanya sehingga nafas Aurora terasa di leher Dito.
"Nggak usah bertingkah! Pas nikah juga nggak gini amat tingkah lo," omel Dito melepaskan rangkulannya, berbeda dengan Aurora yang mematung.
Jantung wanita itu berdetak tidak karuan. Kaget dan salah tingkah bercampur menjadi satu dalam hati wanita tersebut.
***
Jam 5 sore, barulah Aurora dan Dito pulang kerumah. Sebenarnya Aurora belum puas bermain dengan Dito dan Alana, tapi Dito meminta untuk pulang cepat.
Mobil sudah berhenti beberapa menit yang lalu di depan rumahnya, tapi Aurora urung untuk turun.
"Beneran pisah sekaran? Kok cepat banget ya? Padahal gue belum puas."
"Alana cape." Dito melirik putrinya yang tertidur di jok belakang. Bayi tersebut menggunakan tempat duduk khusus bayi sehingga Dito tidak takut kalau saja putrinya jatuh.
"Ya udah," ucap Aurora.
Wanita itu menghela nafas panjang, terpaksa turun dari mobil. Namun, dia tersentak ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh Dito.
"Berangkat jam berapa?"
"Sembilan pagi."
"Hati-hati, semoga hidup bahagia," ucap Dito lalu mengecup kening Aurora membuat jantung mantan istrinya semakin tidak terkendali.
"Ke-kenapa lo nyium kening gue, Dito?" tanya Aurora gugup.
"Salam perpisahan."
"Seharusnya lo nggak cium gue kayak tadi, karena itu cuma nambah harapan gue." Aurora lantas turun dari mobil.
Langkahnya berhenti ketika tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tetangganya yang lagi-lagi berdiri di depan pagar. Sepertinya pria itu punya profesi menghitung mobil yang melewati rumahnya.
"Aneh," gumam pria itu yang tidak sengaja melihat Dito mengecup kening Aurora di dalam mobil. "Ngapain juga gue ngurusin tetangga galak kayak dia."
Tetangga Aurora yang bernama Adam itu lantas menutup pagar rumahnya. Dia keluar untuk mengambil paket dan kebetulan melihat mobil berhenti di samping rumahnya.
"Adam, kenapa lama sekali Nak?" tanya wanita paruh baya.
"Tadi ada orang aneh di depan Mom."
"Orang gila?"
"Kayaknya," sahut Adam. Pria itu mengecup pipi Mommynya sebelum berlalu.
Adam baru saja tiba di indonesia satu minggu yang lalu karena sedang libur, dan akan berangkat besok jam 9 pagi.
Selama berada di rumah orang tuanya, Adam sering kali melihat tetangganya duduk di balkon hingga tengah malam. Namun, baru semalam menegur sebab tidak tahan dengan teriakan Aurora. Bukan karena menganggu, tapi suara Aurora sangat cempreng.