
Mengorbankan waktu istirahat demi sebuah misi untuk memberantas kejahatan. Tidak pulang selama beberapa hari, tidak sia-sia bagi Dito dan teman-temannya yang telah berhasil mendapatkan bukti tentang dalang dibalik penculikan para perempuan cantik.
Dito sangat terkejut ketika tahu dalang dibalik semuanya adalah daddy Aron yang usianya sudah 50 tahun ke atas. Usia 50 tahun sudah seharusnya bertobat dan menikmati hasil di rumah.
Namun, yang daddy Aron lakukan malah sebaliknya. Semakin tua semakin serakah akan kekayaan yang tidak akan dibawa mati suatu hari nanti.
Hari ini, tepat hari ketiga setelah berkutat dengan layar yang lumayan membuat mata pegal, akhirnya suara nyanyian para anggota Avegas terdengar hingga keluar rumah.
Keenan, tengah mengadakan pesta perayaan setelah mendapatkan bayaran cukup fantastis dari polisi usai menyerahkan bukti-bukti yang langsung memberatkan tersangka.
Bahkan inti Avegas membarikan alamat yang sangat lengkap, bukan hanya di satu tempat, tapi di beberapa yang menurut mereka adalah tempat persembunyian dari polisi.
Di tengah-tengah kebisingan yang terjadi, Dito pamit undur diri pada teman-temannya untuk mengurus sesuatu.
Pria itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju lapas untuk bertemu Aron. Di tas pria itu ada hal penting yang menentukan masa depan putrinya suatu hari nanti.
Dito memarkirkan motornya dan berjalan memasuki lapas tanpa takut apalagi goyah dalam hatinya. Tidak ada yang mengenali Dito sebagai anggota Bayangan, sebab indetitas itu terkunci sangat rapat.
Setelah berbicara dengan petugas lapas, Dito mendudukkan diri di bangku khusus penunggu. Memperhatikan sekitar ruangan yang lumayan bersih.
Seutas senyum terlihat di wajahnya ketika melihat petugas membawa Aron dengan pakaian narapi*dana.
"Udah lama gue mau penjarain lo, akhirnya terkabul juga," ucap Dito membuat Aron tentu saja kesal.
"Mau apa lo ke sini hah? Gue bakal nuntut hak asuh ...."
"Bukan lo tapi daddy, lo kan?"
"Maksud lo apa?" Tangan Aron mengepal.
"Daddy lo mau jual darah dagingnya sendiri! Miris banget." Dito menatap sinis Aron yang membeku ditempatnya.
Mungkin pria itu tidak menyangka Dito bisa mengetahui rahasia besar yang selama ini daddynya sembunyikan.
"Lo nggak pernah nyentuh narkoba, lo nggak pernah jual atau pakai benda kayak gitu tapi tiba-tiba masuk penjara. Adil nggak menurut lo?" Salah satu alis Dito terangkat.
"Tanda tangani surat perjanjian ini dan lo bakal bebas dari penjara," ucap Dito akhirnya.
Aron bergeming, terlebih ketika melihat isi surat perjanjian. Di mana jika dia tanda tangan, artinya dia menyerahkan seluruh hidup Alana pada Dito. Hak asuh tidak bisa diganggu gugat. Alana akan menjadi putri Dito, bukan putrinya.
"Kesabaran gue setipis tisu." Menarik kertas untuk memancing pegerakan Aron. Dito kembali tersenyum ketika Aron merebutnya dan menandatangi kertas tersebut.
"Bebasin gue!" pinta Aron.
"Sesuai perjanjian, besok lo bakal bebas dan digantiin sama daddy lo." Beranjak dari duduknya.
Meninggalkan Aron dengan segala pikiran bingung. Sampai saat ini Aron belum tahu jika kebusukan daddynya telah dicium oleh polisi.
Sementara di tempat lain, Dito mengepalkan tangannya kuat-kuat. Merasa bahagia karena Alana benar-benar akan menjadi miliknya. Tidak ada yang bisa merebut putrinya bahkan ayah kandungnya sekalipun.
Tidak lupa Dito memfoto kertas tersebut lalu mengirimkan pada Aurora.
Semuanya udah beres, Aron nggak bakal nyakitin Alana.
Itulah isi pesan yang dikirimkan oleh Dito.
Satu kali mendayu, dua tiga pulau terlampaui. Mungkin itulah pepatah yang sedang Dito alami saat ini.
Tidak menyangka menjalankan misi dengan bayaran lumayan fantastis, membuat Dito menemukan kelemahan Aron untuk menandatangani sebuah perjanjian.
"Mari berpesta," gumam Dito meninggalkan lapas yang menurut orang-orang bersalah sangat menyeramkan.
Kali ini tujuan Dito bukan markas, melainkan rumah untuk melihat putrinya yang selama tiga hari tidak dia lihat. Melihat Alana sama saja Dito melihat Aurora karena keduanya sangatlah mirip.
Entah sampai kapan kemiripan itu akan berakhir. Di usia 2 tahun? 7 tahun, 16 tahun atau hingga dewasa nanti?