
"Gue nggak peduli lo mau tanggung jawab atau nggak sama janin yang ada di perut gue Ron. Gue datang cuma minta satu hal ...." Aurora menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian yang mulai menghilang karena tatapan tajam Aron.
Terlebih pria itu mendekat dan mencengkram rahang Aurora.
"Apa, hm?"
"Jangan ganggu Dito, jangan buat dia terluka. Gue mohon .... Gue rela ngelakuin apa aja asal lo nggak nyakitin dia, Aron. Ini masalah kita berdua," lirih Aurora dengan air mata berderai. Menahan rasa sakit di rahangnya yang mungkin sudah memerah.
"Sialan!" Melepas cengkramannya kasar sehingga kepala Aurora tertoleh. "Dito lagi Dito lagi! Gue muak dengarnya Rora! Lo itu milik gue!"
"Gue milik lo, tapi jangan sakiti Dito!" ucap Aurora tanpa pikir panjang. Wanita itu lelah melihat suaminya selalu terluka. Dito tidak tahu apapun, pria itu pantas bahagia.
"Gue janji bakal nurutin semua kemauan lo, kalau lo nggak nyakitin Dito lagi," lirih Aurora mengusap air matanya kasar.
"Kalau gue nggak mau?"
"Gue bakal bunuh diri."
Aron tertawa, tidak percaya Aurora akan melakukan aksi gila tersebut. Namun, tawa itu perlahan menghilang ketika Aurora melempar gelas di atas nakas lalu mengambil pecahannya.
"Lo mau anak kita mati kan? Ya udah sekalian aja sama gue ...."
"Dasar gila!" maki Aron meremas pecahan kaca tersebut sehingga darah segar mengalir layaknya air.
Meski sering menyiksa Aurora, Aron tidak akan bisa jika wanita yang dia cintai meregang nyawa. Pria itu melempar pecahan kaca yang hampir mengores urat di leher Aurora.
"Gue butuh lo," gumam Aron memeluk Aurora, menyembunyikan wanita itu dalam pelukannya. "Gue cinta tapi gue takut, Rora. Cuma lo rumah gue," bisik Aron.
"Gue rela disiksa, gue rela terluka dan nangis tiap hari, tapi tolong tanggung jawab sama anak kita Aron." Pinta Aurora yang sudah tidak sanggung menahan semua kebohongan yang dia ciptakan.
Mungkin jika Dito kasar dan memperlakukannya tidak baik, maka Aurora tidak ada merasa bersalah sebesar ini.
"Nggak!"
"Egois." Mencengram jaket Aron cukup erat. Ternyata sejahat apapun Aron, tetap saja Aurora merasakan nyaman berada di pelukan pria itu. Terlebih sekarang Aron adalah ayah dari janin yang ada di dalam perutnya.
"Gue emang egois," lirih Aron.
"Jangan sakitin Dito atau gue benar-benar bunuh diri."
"Gue janji, tapi lo juga harus janji sama gue."
"Apa?" tanya Aurora.
"Setiap bulan, temenin gue sehari aja. Gue butuh lo."
"Ta-tapi ...."
"Keputusan ada di tangan lo!" Aron bangkit, suaranya kembali seperti semula. Kasar, berat dan sedikit tinggi. Aura yang tadinya hangat menghilang begitu saja.
"Selama lo nepatin janji, gue bakal nepatin janji," ucap Aurora akhirnya.
Wanita itu pulang kerumah setelah hari mulai gelap, padahal pergi jam 9 pagi. Ini semua karena Aron tidak ingin membuka pintu kamar. Pria itu memaksa Aurora agar tinggal hanya untuk menjadikan pahanya bantal agar tidur dengan tenang.
Aurora mengambil nafas dalam-dalam, sebelum memasuki rumah. Ternggorokannya tercekat melihat Dito duduk dengan tatapan fokus pada Tv.
"Lama banget," celetuk Dito. "Mamah tadi datang nyariin tapi lo nggak ada."
"Gu-gue keasikan main sama teman."
"Oh."
"Maaf."
"Nggak masalah." Beranjak dan meninggalkan Aurora tanpa menatapnya meski sekilas.
Sepertinya Dito marah karena Aurora pulang malam dan tidak menepati janji bahwa akan pulang sebelum dia berada di rumah.
"Dito," panggil Aurora berdiri di depan pintu kamar Dito, mengetuknya berulang kali tapi tidak ada sahutan apapun. "Maaf," lirihnya dan kembali ke kamar.
Hampir satu bulan menikah, baru kali ini Dito terlihat sangat cuek padanya. Aurora mengigit bibir bawahnya, berjalan menuju balkon setelah berganti baju.
Dia tersenyum melihat Dito berdiri di balkon kamar sambil mendongak menatap bintang yang bersinar terang di langit.
"Bintangnya cantik," ucap Aurora yang pastinya di dengar oleh Dito.
Namun, pria itu tampak acuh. Masih menatap bintang tanpa ada keinginan berpaling sedikitpun.
"Mamah ngapain ngariin gue?" tanya Aurora lagi.
"Cuma nanya," sahut Dito tanpa menoleh. "Masuk gih, udaranya dingin!"