Love Scandal

Love Scandal
Part 88 ~ Love Scandal



Mendapat telpon dari Aurora yang meminta untuk bertemu setelah pergi terburu-buru, tentu membuat Dito sangat antusias, terlebih sudah lama tidak bertukar kabar karena rasa egois dan gengsinya sendiri.


Pria itu sampai lebih dulu di tempat yang telah mereka tentukan saat telponan tadi. Melirik pintu sesekali hanya untuk menanti kemunculan Aurora yang tidak kunjung datang.


Entah dia yang terlalu cepat datang, atau Aurora yang sibuk dengan dunianya sendiri.


Mendengar suara bel di dekat pintu berdenting, membuat senyuman Dito merekah, pria itu beranjak hanya untuk menyambut Aurora.


"Kenapa lama? Maaf aku nggak bisa bawa Alana, dia lagi belajar," ucap Dito berusaha mengakrabkan diri setelah mendengar ocehan tidak jelas putrinya.


Alana terus meminta Dito agar menjadikan Aurora mommynya.


"Tadi kejebak macet sama sekalian nunggu Mommy. Maaf ya aku ganggu kamu malam-malam," sahut Aurora.


Dito mengelengkan kepalanya sebagai jawaban, tatapan pria itu tidak lepas dari Aurora yang terlihat semakin cantik.


"Mau makan malam dulu?"


"Boleh," sahut Dito, lantas melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan, memesan makanan yang dia tahu Aurora sukai, setelahnya fokus pada Aurora ketika sang pelayan telah pergi.


Dito menunggu Aurora membuka suara, sementara Aurora sendiri tampak ragu mengutarakan keinginnanya.


Seperti janjinya pada sang daddy, Aurora meminta bertemu malam ini untuk meminta Alana agar ikut bersamanya meski beberapa jam saja tanpa kehadiran Dito. Reputasi Dito sebagai pria egois telah tertanam di hati orang tua Aurora.


Padahal Aurora yakin Dito tidak ingin memberikan Alana karena banyaknya alasan yang mendasar, salah satunya mungkin musuh yang bertebaran di luar sana.


"Rora!" panggil Dito ketika Aurora tidak kunjung bicara. "Mau ngomong apa?"


"Bo-boleh aku bawa Alana kerumah sakit? Daddy sakit dan dia mau ketemu Alana, sebentar aja Dito. Setelahnya aku bakal bawa balik besok. Hanya satu malam," pinta Aurora akhirnya.


Dito tampak terdiam, sampai akhirnya mengangguk setelah lama berdialog dengan hati kecilnya. Seakan tidak punya kendali, Dito tiba-tiba mengenggam tangan Aurora yang saling meremas di atas meja.


"Apa kita bisa kembali?" tanya Dito tanpa diduga oleh siapapun.


Mata Aurora membulat. Kaget? Tentu saja.


"Ma-maksud kamu apa Dito? Kamu tahu sendiri kita nggak mungkin bisa bersama lagi. Karena Alana? Aku janji bakal jadi mommy yang baik kalau kamu ngizinin aku selalu ada di sampingnya. Nggak harus kembali bersama untuk membahagiakan Alana," jelas Aurora sesuai fakta yang ada.


"Su-suka?" Mata Aurora semakin membola.


"Hm."


"Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah hatiku berpaling kamu baru mengatakannya Dito?"


"Maksud kamu?" Kali ini Dito yang tidak mengerti ucapan mantan istrinya.


Atensi Dito teralihkan pada benda persegi panjang yang baru saja Aurora keluarkan dari tasnya.


"Satu minggu lagi aku bakal nikah sama Adam. Alasan aku kembali karena kangen sama Alana. Maaf karena aku nggak bisa setia menungu pada hal yang nggak mungkin akan terjadi. Aku janji bakal jadi mommy yang baik buat Alana."


Lidah Dito terasa keluh, lututnya seakan tidak memiliki tulang mendengar kenyataan yang ada. Baru saja dia punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan sebenarnya, dia malah dipatahkan oleh kebenaran yang ada.


"Dito, maaf ...."


"Ng-ngak, kamu nggak salah Rora. Aku yang salah karena egois. Semoga bahagia sama Adam, dan kamu nggak lupa sama Alana meski punya keluarga bahagia nantinya." Dito beranjak tanpa menunggu makanan yang dia pesan datang.


"Alana nggak bisa pergi malam ini. Kamu bisa jemput dia besok pagi dan kembalikan dimalam hari," ucap Dito.


"Maaf tapi aku harus pergi," lanjutnya meninggalkan meja tersebut. Tidak lupa menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran dan pergi.


Langkah Dito berhenti ketika tidak sengaja melihat Adam di parkiran, tanpa menyapa dia berlalu begitu saja, terlebih Adam tidak menyadari keberadaanya.


Dito memejamkan matanya sambil mencengkram setir kemudi. Mengatur nafas yang memburu, menikmati rasa sakit di dada yang terasa sesak.


"Seengaknya lo nggak punya beban di hati Dito. Lo sukses ngeluarin beban yang udah lama lo pendam selama bertahun-tahun," ucapnya pada diri sendiri.


Meski sakit mendapati kenyataan, ada rasa lega yang menyertai setelah mengakui isi hati yang sebenarnya pada Aurora.


Baru saja akan melajukan mobil, suara notifikasi ponselnya terdengar, dia lantas membaca chat dari Aurora.