
Bangun pagi bukanlah keahlian bagi Alana, terlebih dia dibesarkan oleh pria yang sama-sama suka tidur sampai siang.
Padahal hari ini Alana harusnya bangun pagi sebab akan dijemput oleh Aurora untuk bertemu oma dan opa yang sebenarnya.
Sejak tadi Aurora telah berada di depan rumah Dito, tapi pria itu tidak menjawab panggilannya.
Aurora melirik Adam. "Aku nggak papa masuk?" tanyanya.
Aurora tersenyum mendapatkan anggukan dari calon suaminya. Memang pada dasarnya Adam tidak pernah membatasi Aurora akan hal apapun, termasuk untuk bertemu putri kecilnya.
Wanita itu berjalan dengan ragu memasuki halaman rumah mertuanya. Rumah yang dulunya adalah rumah yang sering kali dia kunjungi jika bosan di rumahnya sendiri.
Senyuman Aurora melebar melihat wanita paruh baya yang berada di dekat teras. Wanita paruh baya itu tengah menyiram bunga sambil bersenandung.
"Pagi, Mah," sapa Aurora sedikit tidak kaku.
Yang disapa lantas menoleh, tersenyum hangat pada wanita yang masih dia anggap sebagai menantu.
Mamah Dito meletakkan selang dan menghampiri Aurora yang tampak sangat cantik.
"Akhirnya menantu mamah datang juga."
"Mamah tahu Rora bakal datang?" Kening Aurora mengerut.
"Tentu saja, tadi pagi Dito ngasih tau mamah. Katanya kamu bakal datang jemput Alana, tapi Alananya belum bangun Sayang," ucap mamah Dito merangkul pundak Rora masuk ke rumah.
Sikap mamah Dito tidak pernah berubah pada Aurora maupun mantan besannya, hanya saja orang tua Auroralah yang menjauh sebab kesal Dito tidak mengizinkan siapapun mengambil Alana.
Padahal orang tua Aurora sering kali datang dan memohon untuk mengambil cucunya meski hanya beberapa minggu. Bahkan Alana tidak tahu bagaimana rupa keluarga mommynya.
"Oh iya, katanya kamu mau nikah?"
"Iy-iya, Mah." Mengangguk ragu.
"Jangan gugup gitu, nggak papa kok kalau kamu mau nikah. Lagian kamu berhak bahagia." Mamah Dito melepaskan rangkulannya pada Aurora setelah sampai di depan kamar Alana.
"Bangunin sendiri, pasti dia senang banget. Tenang aja, Dito nggak ada di rumah kok."
Aurora mengangguk, lantas memutar handel pintu lalu mendorongnya. Di dalam sana anak gadis berusia kurang lebih 5 tahun masih terlelap di balik selimut padahal jarum jam telah menunjukkan angka sembilan.
Dia mendudukkan diri di sisi ranjang, mengusap surai milik putrinya penuh kasih sayang. Aurora tidak akan merenungi apapun, apalagi bersedih Alana tidak tahu siapa dirinya.
Diizinkan untuk bertemu saja sudah cukup untuknya.
"Alana masih ngatuk," gumamnya.
"Ini tante cantik loh, mau jemput Alana."
Alana yang mendengar suara samar-samar tersebut lantas mengerjapkan matanya. Mata yang semula sipit semakin tertutup karena senyuman di wajahnya.
"Tante cantik?" gumam Alana mengusap matanya.
"Bangun tidur aja Alana cantik, gimana kalau udah mandi." Menguyel-uyel pipi Alana yang sangat mengemaskan.
Tidak ingin membuang waktu lama, Aurora membantu putrinya untuk bersiap-siap. Namun, saat akan menemani mandi, Alana menolak dengan kalimat.
"Alana nggak boleh dimandi sama siapapun, Tante. Kata daddy semua yang ada ditubuh Alana itu berharga dan nggak bisa disentuh sama orang lain apalagi laki-laki, diliat juga nggak boleh," ucap Alana dengan polosnya.
"Daddy juga ngomong, kalau ada yang maksa Alana bukan baju, harus ngasih tahu daddy atau kabur."
"Pintar banget sih," puji Aurora, dia tidak menyangka Dito sangat ahli dalam merawat Alana. Sejak kecil sudah diajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama menjaga tubuh sendiri.
"Alana mau jadi putri tante?"
"Anak tante? Kalau Alana jadi anak tante cantik, Alana boleh manggil mommy? Alana boleh tidur sama tante?" Mengerjapakan matanya lucu.
Aurora menganggukkan kepalanya, tidak lama kembali mengerakkan kepala menjadi sebuah gelengan.
"Alana boleh manggil mommy, tapi Alana dan tante nggak bisa tinggal atau tidur sama-sama. Soalnya nanti pacar tante marah."
"Tante punya pacar?"
Aurora mengangguk, di mana membuat Alana cemberut dan terlihat kecewa.
"Kenapa nggak jadi pacar daddy aja? Alana mau tante cantik pacaran sama daddy."
"Heh, kok tau pacaran itu apa?" Mata Aurora membulat sempurna. Gadis berusia 5 tahun sudah kenal pacaran, perlu pertanyaan besar.
"Arga bilang kalau pacaran bisa buat dedek, makanya Alana mau pacaran sama Kara, tapi Karanya nggak mau sama Alana."
"Yassalam." Aurora menghela nafas panjang, baru saja dia memuji Dito dalam hati eh malah tertampar dengan pergaulan putrinya.
Aurora yakin ini tidak jauh-jauh dari didikan sahabat Dito yang bernama Rayhan.