Love Scandal

Love Scandal
Part 38 ~ Love Scandal



Tanpa memperdulikan apapun sebab merasakan terpuruk yang begitu dalam mendapati kenyataan yang sebenarnya. Lebih tepatnya tidak ingin menerima kenyataan bahwa bayi yang sangat dia nantikan bukanlah darah dagingnya. Dito memutuskan untuk menangkan diri di Rooftop rumah sakit.


"Sampai kapan lo bakal terpuruk?" tanya Keenan yang wajahnya terlihat pucat setelah mendonorkan darahnya.


Tidak sia-sia pria itu berkorban, kini kondisi putri Dito sudah mulai stabil. Keenan menghampiri Dito yang sedang berdiri di rooftop rumah sakit sambil menikmati bintang di langit.


Sebenarnya Keenan berkunjung tengah malam karena ingin membicarakan hal serius, tapi urung melihat kondisi sahabatnya.


"Woy, sejak kapan sih sahabat gue terpuruk gini karena cewek? Bahkan pas Alana nikah aja nggak gini juga," canda Keenan.


"Sakit banget, Keen. Gue nepis semua tuduhan dari kalian buat percaya kalau itu anak gue, tapi apa?"


"Namanya juga yakin To. Lagian belum tentu kan Aurora tahu kalau itu bukan anak lo? Bisa aja dia nggak sadar."


Dito tertawa sumbang, semakin mendongak, menatap bintang paling terang di atas sana.


"Azka nggak sih?"


"Mungkin."


"Azka, lo pasti ngeledek gue karena bodoh kan?" teriak Dito.


"Udah pasti sih." Cengir Keenan tanpa dosa.


Keheningan tercipta di antara mereka beberapa saat. Masing-masing memikirkan beban yang ada di isi kepala.


"Beri kesempatan nggak ada salahnya," celetuk Keenan. "Itupun kalau Aurora nggak tau apa-apa."


"Nggak mungkin sih, sebelum kecelakaan aja dia nemuin Aron."


Keenan mengambil nafas dalam-dalam, ternyata beban sahabatnya jauh lebih berat dibandingkan dirinya yang tiba-tiba dijodohkan oleh orang tuanya pada gadis yang belum pernah dia tamui. Padahal sampai sekarang Keenan masih mencintai Salsa, meski tahu tidak akan pernah bersama sebab menghormati ketuanya yang telah pergi.


Lagi pula yang meninggalkan lebih dulu adalah dirinya, sehingga Salsa jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.


"Intinya gue dukung semua keputusan lo. Usia kita udah mau 20 tahun, yakali nentuin masa depan aja nggak becus." Menepuk pundak Dito agar merasa tenang.


"Nggak mau liat baby, lo?"


Dito melirik sahabatnya. "Boleh nggak sih gue egois sekali aja? Gue benar-benar nggak bisa pisah dari dia."


"Lo emang teman gue paling berguna!" Memeluk Keenan ala laki-laki sebelum meninggalian roftoop.


Pria itu akan mengunjungi ruangan putrinya, ya putrinya bukan putri Aron maupun Aurora.


Meski tidak bisa menemui secara langsung, setidaknya sekarang Dito bisa melihat tangan dan kaki bayinya bergerak secara perlahan, belum lagi suara tangisan.


"Pak Dito?"


"Iya ada apa suster?"


"Bapak boleh masuk tapi hanya sebentar."


"Makasih, Suster."


***


Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah tiga hari sejak Aurora melahirkan. Dan selama itu pula Dito seakan menghilang ditelan bumi.


Malam setelah Dito meninggalkan ruang perawatan Aurora, pria itu tidak pernah kembali, membuat Aurora tentu gusar akan kondisi suaminya.


Seperti biasa Aurora selalu menatap pintu ruangannya berharap Dito datang dengan senyuman. Namun, pintu itu tidak kunjung terbuka, bahkan ketika jarum jam sudah menunjukkan angka jam 9 pagi.


"Dito ...." Senyuman Aurora ketika melihat handel pintu bergerak berubah menjadi murung ketika tahu yang datang adalah Mommynya.


"Kata dokter kamu udah boleh pulang nanti sore, Nak."


"Mommy udah tahu di mana Dito?" tanya Aurora. Keluar dari rumah sakit bukan hal membahagiakan untuk Aurora, kecuali yang akan membawanya pergi dari sini adalah Dito, mungkin lain cerita.


Mommy Aurora mengeleng. "Belum Nak, bahkan mertua kamu nggak tau kemana Dito. Mommy sangat kesal padanya, harusnya disaat-saat seperti ini dia ngerawat kamu sama anak kamu. Ini malah menghilang tanpa jejak. Dasar pria nggak tanggung jawab!"


"Mommy." Mengenggam tangan mommynya agar tidak mengomel, apalagi menjelek-jelekkan Dito. "Mungkin aja Dito sibuk di kampus."


"Mana ada, dia udah tiga hari nggak masuk kuliah Rora!"


Aurora menghela nafas panjang, wanita itu memutuskan untuk berbaring sambil memunggungi mommynya yang sedang kesal karena Dito.


Bukan hanya orang tua Aurora yang kesal, bahkan orang tua Dito pun sudah murka tahu putranya tidak bertanggung jawab pada istri dan putrinya. Bahkan memberi nama untuk putrinya, Dito belum melakukan.