Love Scandal

Love Scandal
Part 100 ~ Love Scandal



Senyuman indah terlihat jelas di wajah cantik Alana saat keluar dari lingkungan sekolah mendapati mommy Diandra menunggunya.


Gadis kecil itu sangat senang sebab bisa merakan kasih sayang seorang mommy. Ia lantas memeluk leher mommy Diandra yang berjongkok tepat di hadapannya.


"Alana senang dijemput sama mommy," ucapnya tanpa ada kebohongan.


Tatapan gadis kecil itu tertuju pada Angkara yang dijemput oleh mamahnya. Dia menjulurkan lidah penuh dendam pada Angkara yang selalu membuatnya iri dulu.


"Sekarang Alana udah punya mommy!" ucapnya.


"Kara juga udah punya papah," sahut Angkara. Mendelik tidak suka pada gadis yang tingkahnya sangat menyebalkan.


Angkara berjalan lebih dulu masuk ke mobil, menunggu mamahnya yang tengah berbincang sebentar dengan Diandra.


"Sampai nanti," ucap Salsa, tidak lupa mengelus pipi Alana, membuat gadis itu tersenyum senang.


Tidak ada yang diperlukan lagi, akhirnya Alana dan mommy Diandra meninggalkan sekolah.


"Alana mau telpon daddy," ucapnya pada Diandra.


Gadis yang sedang serius menyetir tersebut lantas mengambil ponselnya, lalu menghubungi Dito. Setelahnya memberikan pada gadis kecil mengemaskan di sampinganya.


Diandra fokus pada jalanan, berbeda dengan Alana yang memperhatikan benda pipih di tangannya.


"Daddy dimana?" tanya Alana setelah panggilan videonya di jawab.


"Daddy lagi sibuk kerja Sayang, kenapa?"


"Kok tadi Daddy pergi nggak nunggu Alana bangun? Daddy juga nggak antar atau jemput Alana. Alana sedih tau," ucapnya jujur dengan pipi mengembung.


Dito yang melihatnya tertawa di seberang telpon.


"Kan Alana udah ada mommy, daddy harus kerja buat nafkahin kalian. Punya mommy cantik harus banyak uang Sayang," canda Dito tapi ditanggapi dengan serius oleh Alana.


"Ih Alana kesal sama daddy!" Memutuskan sambungan telpon sepihak, lalu melempar tatapannya keluar jendela, seperti orang dewasa yang sedang bersedih.


Diandra yang menyadari hal tersebut lantas menghentikan mobilnya di depan indo april untuk menyenangkan hati keponakan mengemaskannya.


"Mau Es krim nggak? Mommy beliin yang banyak."


"Mau mommy!"


Alana mengikuti langkah mommynya memasuki indo april, berlari menuju Frezeer untuk mengambil es krim sepuasnya, berebeda dengan mommy Diandra yang tampak sibuk menerima telpon dari seseorang.


"Kemana sih? Kangen tau, tadi dikampus nggak sempet ketemu, kamunya pulang lebih awal." Canra merengut di seberang telpon.


"Sabar Sayang, nanti kita makan siang bareng."


"Janji?"


"Hm."


"Baiklah, dadah calon istriku!"


Diandra tersenyum geli ketika mendengar kecupan di seberang telpon, gadis itu segera menghampiri Alana yang ternyata memeluk banyak cemilan berukuran jumbo, belum lagi es krim di kedua tangannya.


"Aduh Sayang, kenapa nggak ambil keranjang? Tunggu bentar ya." Diandra lantas mengelilingi rak-rak untuk mencari keranjang berlanjaan, dan saat itulah dia tidak sengaja bertemu wanita yang telah melahirkan Alana ke dunia.


Diandra meneliti penampilan Aurora bersama pria yang baru saja memasuki indo april.


"Diandra ya? Yang sering Dito ceritain dulu." Aurora tersenyum ramah.


Berbeda dengan Diandra yang mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu berdecak saat mengingat sesuatu.


"Jangan-jangan Dito jadiin gue bahan buat mastiin udah move on, benar-benar tuh duda nggak tau diri," omel Diandra dalam hari, berbeda dengan wajahnya yang menampilkan senyum.


"Tebakan lo benar, gue Diandra. Mommynya Alana, salam kenal," ucap Diandra, bertepatan datangnya Alana memeluk beberapa belanjaan.


"Kenapa mommy lama? Alana cape ...," ucapan gadis kecil itu memelan melihat wajah mommy Aurora yang tersenyum padanya.


"Hay Sayang?" sapa Aurora.


"Tante cantik? Kenalin ini mommy baru Alana! Mommy Dian mau tinggal dirumah daddy dan nemenin Alana bobo. Alana udah nggak sedih lagi karena tante cantik nggak mau jadi mommy Alana," ucap gadis kecil itu apa adanya.


Menjatuhkan belanjaan yang ada dipelukan lalu memeluk Diandra tepat di hadapan Aurora.


"Sukurlah kalau Alana udah punya mommy baru, maaf ya Sayang nggak bisa jadi mommy Alana." Aurora berjongkok untuk mengelus pipi Alana sambil tersenyum.


"Alana maafin, kata Daddy nggak boleh musuhan lama-lama," ucapnya dan berlalu pergi, membuat perasaan Aurora sedikit lega.


Alana tidak lagi menghindar seperti tadi pagi saat dia datang ke sekolah.


"Mommy Dian, ayo sini!" panggil Alana.