Love Scandal

Love Scandal
Part 84 ~ Love Scandal



Gadis kecil berusia 5 tahun terus saja berlarian ke sana kemari hanya untuk mengejar laki-laki tampan berusia 6 tahun. Sayangnya laki-laki itu sangat cuek dan sering kali menghiraukan keberadaan Alana.


"Kara, tungguin Alana!" pekik gadis dengan seragam sekolah khusus kanak-kanak tersebut.


Laki-laki yang dipanggil lantas mendelik, tapi tetap saja berhenti melangkah setelah sampai di dekat pagar sekolah.


"Kara nggak suka sama Alana! Alana cerewet," ucap Angkara dengan wajah ditekuk.


Namun, itu tidak membuat Alana menyerah. Tanpa dosa dia memeluk lengan Angkara.


"Alana mau main sama Kara biar dapat masakan enak dari mamah."


"Mamah aku!"


"Tapi kata mamah Kara, Alana juga bisa panggil mamah."


Kedua bocah berbeda generasi itu terus saja berdebat sampai tidak menyadari orang tua mereka yang telah berdiri di depan pagar sekolah.


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, usia Alana telah memasuki tahun ke 5. Sekolah kanak-kanak adalah tempat untuk Alana saat ini.


Setelah pertemuan beberapa tahun yang lalu, Alana tidak pernah bertemu dengan mommynya meski lewat panggilan suara, sehingga sampai detik ini Alana tidak tahu bagaimana rupa wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Dito dan Salsa sedang berdiri di depan pagar, menatap anak-anak mereka yang tidak pernah akur. Alana yang cerewet dan Angkara yang tidak suka kebisukan adalah perpaduan yang mungkin tidak akan pernah bersatu nantinya.


"Daddy datang!" teriak Dito sambil merentangkan tangannya.


Alana yang mendengar lantas melepaskan rangkulan dari Angkara dan berlari untuk memeluk daddynya. Sepanjang berlari, rambut kepang dua menari-nari di kepala gadis kecil itu.


"Alana cantik udah pulang," ucap Alana setelah berada di pelukan daddynya. Begitupun dengan Angkara yang berada di pelukan mamahnya.


"Putrinya daddy yang cantik ini nggak boleh gangguin kak Kara. Kak Kara nggak suka, Sayang."


"Tapi Alana mau temanan sama kak Kara daddy." Mengembungkan pipinya.


Sementara yang dibahas hanya menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Angkara mendongak untuk menatap mamahnya.


"Papah Kara kok nggak ada?" tanya Angkara yang iri pada Alana. Setiap hari selalu dijemput oleh daddynya, sementara Angkara hanya dijemput oleh sang mamah.


"Kara boleh ambil daddy Alana, tapi Alana boleh ambil mamah Kara," ucap Alana mendekati Angkara yang terlihat sedih.


"Alana cantik!" pekik Alana berkacak pinggang, membuat Dito dan Salsa tertawa.


Keduanya akhirnya meninggalkan lingkungan sekolah. Dito mengemudikan mobilnya menuju perusahaan bersama sang putri.


Posisi Dito bukanlah presdir di perusahaan orang tuanya, melainkan karyawan biasa seperti yang lain.


Tatapan Alana tertuju pada jalanan yang terlihat lumayan padat.


"Alana mau mamah kayak Kara," lirih Alana dengan pipi mengembung.


Hal itu berhasil mengambil atensi Dito.


"Daddy bisa jadi mommy kok buat Alana. Memangnya Alana mau ngapain kalau punya mommy? Kan ada omah di rumah." Mengusap rambut putrinya.


"Kenapa Alana nggak punya Mommy?"


Skatmat, Dito tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan putrinya. Dito tidak ingin menyakiti apalagi menodai pikiran Alana dengan jawaban yang akan dia berikan nantinya.


Apalagi sudah bertahun-tahun Dito tidak tahu bagaimana kabar Aurora saat ini. Setelah tragedi persiapan ulang tahun, Dito tidak lagi mengurusi mantan istrinya karena yakin Aurora telah bahagia bersama orang baru dan tentu tidak egois sepertinya.


Dito mengendong Alana setelah sampai di perusahaan sang papah. Saat itu pula semua perhatian tertuju padanya, terutama kaum hawa yang sering kali ada keinginan untuk menjadi mommy Alana yang sangat mengemaskan dan cerewet.


"Alana mau keruangan Opah? Nanti daddy jemput setelah pulang," tanyanya setelah berada di dalam lift tanpa memperdulikan karyawan yang menyapa.


Dito benar-benar menutup hatinya pada perempuan.


"Alana mau nyari mommy."


"Heh?"


"Alana mau nyari mommy, Daddy!" ucap Alana penuh tekanan, meronta agar segera diturunkan dari gendongan.


Mau tidak mau Dito menurunkan putrinya dari gendongan. Tidak takut kalau saja Alana akan ke sasar, sebab putrinya sangatlah pintar dan mudah menghafal jalan.


"Dadah daddy!" Melambaikan tangan dan meninggalkan daddynya seorang diri.