
Pesta telah berakhir beberapa jam yang lalu, semua tamu sudah pulang begitupun dengan pemilik acara yang langsung istirahat sebab ke lelahan.
Di dalam kamar yang telah dihias secantik mungkin, terdapat wanita yang duduk di pinggir ranjang dengan piyama tidur membungkus tubuhnya.
Sejak tadi dia tidak menyadari bawah pria yang baru saja menjadi suaminya tengah memperhatikan. Pikiran Aurora terlalu kacau. Rasa bahagia dan sedih campur aduk dalam hatinya untuk saat ini.
Bahagia karena menikah dengan pria yang dia cintai dan mencintainya, tapi dia harus mendapatkan kebencian dari putri yang sejak lama dia rindukan.
"Lagi-lagi aku egois, aku bahagia diatas penderitaan putriku," lirih Aurora yang tentu didengar jelas oleh Adam, padahal dia tidak ada niatan memperjelas semuanya.
Aurora menoleh saat Adam mengelus pundaknya. Dia memaksakan senyum pada pria yang duduk tepat di sampingnya.
"Mau nangis dulu sebelum tidur?" tanya Adam membawa kepala Aurora ke pundaknya.
"Maaf, harusnya aku nggak gangu malam pertama kita dengan masa lalu yang ...."
"Nggak ganggu sama sekali, Sayang. Ibu sedih karena anaknya ngambek adalah hal yang wajar. Aku ngerti banget perasaan kamu. Aku cuma nggak suka liat kamu sedih terus-terusan."
"Adam?" Membalas tatapan teduh Adam yang mampu menengelamkannya pada lautan kenyamanan.
"Istirahatlah! Kamu lelah banget kayaknya. Jangan terlalu mikirin Alana untuk saat ini, putri kita butuh waktu untuk menerima semuanya. Aku yakin Dito nggak selicik itu untuk memanfaatkan keadaan putrinya." Mengelus pipi Aurora.
"Cepat atau lambat, hati Alana akan luluh. Kita beri waktu selama seminggu, setelahnya bertemu lagi."
"Mau bantu aku?"
"Tentu, kita ambil hati putri kita. Putrimu juga putriku Rora."
Mata Aurora memejam saat Adam mendaratkan bibirnya tepat di kening. Tidak ada malam spesial kali ini, bahkan untuk malam-malam selanjutnya sebab Aurora sedang datang bulan.
***
Jika Adam dan Aurora membicarakan banyak hal tentang rumah tangga, maka berbeda dengan Dito yang sedang berada di markas.
Bukan galau akan pernikahan mantan istrinya, melainkan repon Alana yang sangat kecewa. Andai tahu putrinya akan terluka cukup dalam sampai menangis, Dito tidak akan membawa putrinya ke pesta.
"Diam-diam bae!" pekik Rayhan tepat di telinga Dito.
Dito mendelik, melepar gitar di pangkuannya pada Rayhan.
"Santai aja dong, mentang-mentang lagi sakit hati," cibir Rayhan.
Di markas hanya ada Dito dan Rayhan sebab jarum jam baru menunjukkan angka 8 malam, terlebih sekarang malam minggu.
Tentu Keenan dan Ricky sedang malam minguan bersama pasangan masing-masing, berbeda dengan Dito, Rayhan dan Samuel yang mungkin datang sebentar lagi.
Malam ini Rayhan tobat, ntah malam-malam selanjutnya.
"Lo ngerjain Keen, tadi?"
"Nggak, sotoy lo!"
"Emang benar! Tadi Kara cerita sama gue! Katanya ngajak ketemu di pesta tapi malah pulang duluan, untung Keen sama Kara sabar, kalau titisan Azka udah kelar hidup lo!"
"Oh itu, sorry!" cengir Dito tanpa ada rasa sesal di hatinya.
Memang Dito tidak menunggu Keenan karena Alana menangis tanpa suara. Tahukan bagaimana sakitnya menangis tanpa suara?
Sepanjang jalan gadis kecil Dito duduk bergeming sambil mengigit bibir bawahnya. Tidak ada suara tangisan dari Alana, tapi air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa dicegah.
Atensi Dito teralihkan pada benda pipihnya yang berada di atas meja. Dengan sigap menjawab telpon dari sang mamah.
"Pulang sekarang Dito, Alana ...."