
Entah Dito harus menganggap hari ini adalah hari bahagia untuknya, atau malah sebelaliknya.
Hari ini tepat satu minggu dia telah menerima undangan dari Aurora, dengan kata lain hari ini adalah wanita yang dia cintai akan menikah bersama pria lain.
Tubuh kekar terbalut jas berwarna putih tersebut sedang terlihat dari pantulan cermin. Dito telah lama berdiri di sana hanya untuk mengatur ekspersi wajahnya.
Dito ingin terlihat baik-baik saja di depan Aurora, itulah mengapa berusaha berakting senatural mungkin.
Ketukan pintu yang terdengar berulan kali membuat Dito mengakhiri sesi dramanya di depan cermin. Membuka pintu kamar dan mendapati mamahnya telah rapi dengan dress moca di bawah lutut.
Meski sudah tua, mamah Dito masih terlihat sangat menawan jika sudah berdandan.
"Alana belum selesai siap-siap, katanya nggak mau ikut. Mamah udah bujuk dari tadi," ucap wanita paruh baya.
Dito menghela nafas panjang, sejak pagi Alana memang bersembunyi di kamarnya. Gadis kecil itu jika sudah marah maka akan sulit untuk dibujuk.
"Mamah dan papah berangkat duluan aja, nanti Dito sama Alana nyusul," sahut Dito dijawab anggukan oleh mamahnya.
Sementara dia sendiri menghampiri kamar putrinya yang tampak rapi, tapi tidak dengan gadis kecil yang duduk di meja belajar. Dito menghampiri, berjongkok di depan ratunya.
"Kok belum siap-siap? Padahal daddy udah tampan gini loh," ucapnya.
Mungkin jika Aurora tidak memohon untuk membawa Alana ke pesta, Dito akan membiarkan gadis kecil itu tinggal di rumah sendirian. Sayangnya sejak kemarin sampai hari ini Aurora terus menghubungi agar Alana datang meski sebentar saja.
"Daddy sedih loh kalau Alana ngambek terus. Daddy cuma punya Alana." Dito memanyunkan bibirnya sambil menarik-narik ujung piyama Alana.
"Alana marah sama mommy cantik, Daddy! Alana mau mommy cantik jadi mommy Alana."
"Tapi Sayang ...."
"Alana nggak mau ikut! Alana nggak mau liat tante cantik lagi!" Bersedekap dada seolah benar-benar marah.
Dito menghela nafas panjang, terus memutar otak, memikirkan dengan cara apa dia bisa membawa Alana ke pesta tersebut.
Senyuman Dito mengembang sempurna ketika satu ide terlintas di kepalanya.
"Yakin nggak mau ikut sama daddy? Kara ada dipesta loh. Kalau ada yang godain Kara terus Karanya punya teman cantik, Alana bakal di ...."
"Kara mau pergi?" Alana lantas membalik tubuhnya menatap daddynya.
"Kalau gitu Alana mau ikut daddy, tapi nggak mau ketemu mommy cantik."
Alana lantas turun dari kursi lalu berlari ke kamar mandi, membuat Dito yang melihatnya bernafas lega.
Pria itu berdiri dari jongkoknya. Merapikan jas lalu duduk di sisi ranjang.
Memilihkan Gaun? Dito sudah menyiapkan beberapa untuk putrinya, dan akan memberi Alana kesempatan untuk memilih sesuai keinginan sendiri.
Beberapa menit menuggu, akhirnya Alana kembali dengan handuk yang melilit tubuhnya seperti yang selalu Dito ajarkan.
Dengan seksama Dito memperhatikan putrinya yang berjalan menuju lemari, memilih gaun yang menurut Alana cantik.
Dari banyaknya gaun cantik, gadis kecil itu memilih dress moca senada dengan omanya. Dress tersebut sangat simple tapi terlihat cantik ditubuh mungilnya.
"Alana udah siap, Daddy!" Berlari ke arah Dito.
"Yakin mau pakai itu?" Alis Dito saling bertaut.
Alana mengangguk cepat. "Alana suka ini. Ayo ikat rambut Alana biar cantik," pintanya dan langsung dilaksanakan oleh Dito.
Usai membantu putrinya bersiap-siap, akhirnya Dito meninggalkan rumah yang sudah sepi tersebut. Sebelum melajukan mobil, tidak lupa menghubungi Keenan.
"Tumben," celetuk Keenan setelah menjawab panggilan dari Dito.
"Udah berangkat belum? Jangan lupa jemput Kara ya, gue udah ngabarin Salsa."
"Lah?"
"Alana nggak mau hadir kalau nggak ada Kara, buruan! Awas lo lupa bawa pangeran putri gue!" ucapnya lalu memutuskan telpon begitu saja.
Sementara di samping kemudi Alana tersenyum lebar pada daddynya. Entahlah, tapi Alana selalu bersemangat setiap kali mendengar nama Angkara di sebut.
Anak laki-laki cuek, jarang bicara dan hanya sayang pada satu perempuan. Di sekolah Angkara tidak mempunyai banyak teman, bukan karena banyak yang memusuhi, melainkan Angkaralah yang tidak menerima pertemanan dengan siapapun kecuali Arga yang sering kali membuat kesal.