Love Scandal

Love Scandal
Part 25 ~ Love Scandal



Langkah Dito dan Aurora memelan saat akan memasuki rumah. Sebuah kotak ukuran kecil tergeletak di depan rumah mereka.


Aurora hendak melangkah untuk memeriksa isinya, sebab curiga kotak tersebut dari Aron. Namun, dengan sigap Dito menarik tangan wanita itu.


"Jangan ceroboh, lo masuk lewat pintu belakang aja!" perintah Dito melirik Aurora yang mengelengkan kepalanya. "Rora?"


"Gu-gue penasaran sama isinya," jawab Aurora.


Dito menghela nafas panjang, meski begitu tetap saja memeriksa isi kotak tersebut. Pria itu terkejut melihat isinya sebuah tikus mati dengan darah segar. Tanganya mengepal, tidak suka ada yang berani menganggu dirinya termasuk ibu dari calon anaknnya.


"Isinya apa?" tanya Aurora berjinjit untuk melihat, tapi Dito malah menjauhkan. Pria itu membuangnya ke tempat sampah dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Membuat Aron yang sejak tadi mengintip menggunakan teropon mengeram kesal.


Tujuan Aron mengirim teror terus menerus agar Dito curiga pada Aurora dan mencari tahu apa yang terjadi. Jika boleh jujur, berbagai ancaman yang Aron berikan pada Aurora bukanlah hal yang bisa dia lakukan sebab Aron mencintai wanita itu, hanya saja tidak ingin bertanggung jawab pada janin yang tidak dia inginkan.


Video? Aron tidak mungkin mempertontongkan tubuh wanita yang dia cintai pada orang lain, termasuk Dito. Pria itu menyimpannya hanya sebagai ancaman untuk Aurora saja.


Jika Aron sedang kesal, berbeda dengan Dito yang bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya. Kepala pria itu langsung pusing melihat darah tadi.


"Minum dulu," ucap Aurora setelah bibi membawakan segelas jus untuk Dito.


Dito melirik Aurora. "Siapa?"


"Apanya?"


"Yang neror lo? Jangan bilang Aron?"


"D-dito."


Dito tertawa. "Benar kan dugaan gue? Maksud lo apa nyembunyiin ini dari gue? Lo kira bagus, lo kira hebat?"


"D-Dito, gue bisa jelasin semuanya. Gu-gue ... Aron masih cinta sama gue." Aurora lantas pindah duduk di samping Dito.


Menatap pria itu dengan tatapan ketakutan yang memancar. "Maaf."


"Ma-maaf, gue nggak mau lo salah paham. Gue nggak mau lo tahu kalau gue ...." Aurora terdiam merasakan elusan Dito di pipinya.


"Sejak kapan dia mulai neror, lo?"


"Sebelum kita nikah. Dito, dia nggak terima kita nikah. Dia terus maksa gue buat ninggalin lo."


Dito memejamkan matanya, tangan pria itu terkepal.


"Gu-gue pernah pacaran sama Aron, tapi putus sebelum kita berakhir di kamar hotel. Sekarang gue sama dia nggak punya hubungan apa-apa lagi. Gue takut setiap kali lo keluar rumah To, Aron selalu datang ganggu gue." Mata Aurora mulai berembun menceritakan apa yang dia alami selama ini.


Sayangnya wanita itu tidak siap memberitahukan kalau Aron ingin membunuh anak yang ada di perutnya.


Aurora terkesiap ketika Dito bangkit begitu saja. "Mau kemana?"


"Ngasih pelajaran sama Aron."


"Jangan!" Menarik tangan Dito agar tidak pergi. Namun, sia-sia saja, pria itu tetap meninggalkan rumah dalam keadaan emosi. Membuat Aurora semakin tidak tenang. Dia takut Dito kenapa-napa atau yang dia sembunyikan terbongkar padahal dia baru saja akan bahagia bersama Dito.


Aurora menwguk jus yang dia berikan pada Dito hingga setengahnya. Tenggorakan wanita itu terasa sangat kering.


"Neng Rora baik-baik saja?"


"Saya baik-baik aja," sahur Aurora berjalan menuju kamarnya sambil menahan rasa nyeri di kepala juga pinggangnya.


Banyak rasa sakit yang Aurora tanggung sendirian, tapi tidak pernah menceritakan pada Dito sebab tidak ingin merepotkan pria itu terlalu jauh. Membongi Dito tentang kehamilannya saja sudah hal paling hina yang dia lakukan.


Aurora membaringkan tubuhnya di ranjang, berusaha memejamkan mata ketika pikiran untuk bunuh diri kembali menyelimuti hatinya.


"Nggak Rora, bunuh diri belum tentu lo langsung mati. Bisa aja lo ngerasain sakit berkepanjang sebelum meregang nyawa," ucapnya memperingatkan diri sendiri.