
Dengan langkah kecilnya Aurora terus saja berlari menuju toilet yang cukup jauh dari kelasnya. Wanita itu ingin segera memuntahkan isi perutnya setelah mencium aroma parfum yang berbeda-beda dari setiap orang.
Huek
Aurora langsung saja menunduk setelah sampai di toilet, memuntahkan isi perutnya sepuas mungkin.
"Ah lega banget," guman Aurora mengeringkan mulutnya dengan tisu. Berdiri dari kloset dan berjalan keluar.
Langkah Aurora berhenti ketika mendapati beberapa teman kelasnya, juga kakak tingkat yang menjadi fans dari Dito Deandy Yudantara. Aurora menunduk hormat hanya untuk menghindari masalah.
"Hamil nggak sih?" celetuk salah satu kakak tingkat yang jengkel melihat Aurora setiap harinya jalan bersama Dito. Gadis itu tengah merapikan make up setelah makan siang tadi.
"Kayaknya sih iya, wajah pucat dan muntah-muntah mulu."
"Hah ternyata selera Dito yang murah ya? Apa jangan-jangan dia hamil sama laki-laki lain lagi. Gue sih yakin Dito nggak mungkin seliar itu." Lagi celetukan kembali terdengar di telinga Arurora.
Wanita itu tidak menanggapi dan buru-buru keluar dari kamar mandi. Sayangnya, langkah Aurora dihadang di depan kamar mandi dengan 3 orang gadis lainnya.
"Lo beneran hamil anak Dito?" Suara melengking yang menjadi ketua dari fansnya Dito mengelegar membuat beberapa perhatian mahasiswa tertuju pada Aurora yang kini mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bisik-bisik mulai terjadi di sekitar Aurora, membuat pelupuk mata wanita itu mulai memerah, terlebih sekarang dia lebih perasa karena hormon kehamilannya.
"Gue sih yakin bukan anak Dito. Diakan murah." Mendorong tubuh Aurora sehingga tas tangan wanita itu terjatuh. Isinya berserakan kemana-mana.
Tatapan seluruh mahasiswa yang berada di depan kamar mandi tertuju pada benda persegi panjang dengan garis dua samar di dalamnya. Dengan sigap ketua Fanbase Dito mengambil dan memperlihatkan pada yang lainnya.
"Gila dia benar-benar hamil cuy, keknya sengaja deh jebak Dito biar ...."
"Cukup!" Dito yang baru saja datang langsung merebut tespek tersebut dari tangan gadis yang sering kali menganggu tengah malam.
"Jangan dengarkan mereka," bisik Dito menarik Aurora masuk ke pelukannya.
Pria itu menatap satu persatu mahasiswa yang masih diam ingin menyaksikan sesuatu.
"Hamil atau nggaknya Rora itu bukan urusan kalian. Toh gue ayah anaknya, terus apa yang harus dipermasalahkan? Dan lo!" Melirik ketua fanbase yang tidak jelas menurut Dito.
"Sekali lagi lo permaluin calon istri gue, maka lo habis ditangan Rayhan!" ancamnya dan berlalu pergi membawa Aurora yang mulai terisak.
Dito membawa wanita itu menuju roftop yang jarang di kunjungi banyak orang. Menenangkan hati wanita yang telah dia hancurkan masa depannya dengan kesahalan semalam akibat alkohon dan pesta sialan di usianya 19 tahun.
"Nangis sekencang mungkin Ra, luapin emosi yang lo tahan sejak tadi." Mengusap pundak Aurora yang masih bersembunyi dalam pelukannya.
Wanita mana saja akan merasakan malu sangat besar jika dipermalukan seperti tadi, terlebih status Aurora masilah mahasiswa semester 2.
"Maaf karena gue, lo harus nanggung aib," bisik Dito.
Aurora mengelengkan kepalanya cepat. "Bukan salah lo kok, To. Ini salah gue karena nggak bisa jaga diri padahal masih gadis."
"Oke, nggak ada yang salah di sini. Yang salah takdir karena menyatukan kita dengan hal tak terduga kayak gini." Dito terkekeh geli meski dadanya sedang bergemuruh hebat. Amarah seakan mengusai pria itu, tidak terima Aurora dipermalukan hanya karena hamil di luar nikah.
"Besok kita urus cuti masing-masing sebelum pergi jauh. Persetan sama restu orang tua, Rora. Gue nggak mau lo dan anak gue jadi bahan bulyan siapapun."
Aurora tersenyum. "Gue senang To, lo baik banget sama gue. Lo perjuangin harga diri gue padahal ini bukan kesahalan lo tapi kesalahan gue." Aurora semakin mengeratkan pelukannya karena sangat nyaman.
"Dulu gue ngira bakal sulit lupain Aron, nyatanya nggak sesulit itu setelah kenal lo," batin Aurora.