
Dito yang hendak membaringkan tubuhnya di samping Alana, mengurungkan niatnya ketika mendengar ponselnya bergetar.
Kening pria itu mengerut melihat siapa pemanggil tersebut. Dia lantas berjalan menuju balkon kamarnya, lalu menjawab panggilan dari Aurora. Jarum jam telah menunjukkan angka 11 malam, bukankah Dito harus menjabnya? Mungkin saja Aurora membutuhkan bantuan.
"Akhirnya dijawab juga. Gue ganggu ya?" tanya Aurora di seberang telpon, suaranya terdegar serak di telinga Dito.
"Lo habis nangis atau lagi flu?" tanya balik Dito. Duduk di kursi santai sambil menikmati angin yang mungkin membawa panyakit untuknya.
Jika boleh jujur ada rasa senang bisa mendengar suara Aurora lagi.
"Flu."
"Ya udah tidur! Ngapain malah nelpon gue. Gue bukan suami lo lagi!"
"Tau kok, tapi kita teman kan? Gue cuma mau pamit sama teman gue sebelum pergi."
Kening Dito semakin menggerut, tidak ingin percaya dengan ucapan mantan istrinya.
"Lo mau pergi?"
"Iya, gue bakal pindah. Mungkin ini yang terbaik buat kita. Lo sama Alana nggak bakal dalam bahaya karena Aron setelah gue pergi."
"Ya udah."
"Cuma itu?" Terdengar helaan nafas di seberang telpon.
"Gue harus nangis?"
"Sekarang vibesnya beda ya To? Nggak kayak dulu lagi. Lo yang perhatian, selalu ngajak bicara lebih dulu. Apa-apa cerewet, sekarang jadi cuek."
"Nggak usah ngenang masa lalu! Kalau nggak ada keperluan gue mau tidur, takut Alana bangun."
Mematikan sambungan telpon sepihak? Dito tidak senekat itu karena masih ingin mendengar suara Aurora mungkin untuk terakhir kalinya.
Bodoh bukan? Menceraikan tanpa pikir panjang padahal masih mencintai. Itulah Dito jika sedang kecewa dan marah, sikap anak-anaknya akan muncul di permukaan.
"Lusa gue bakal pergi. Boleh nggak kita jalan sama Alana besok? Gue mau ciptain momen sama kalian sebelum pergi."
"Gue sibuk, besok mau ngajak Alana periksa bulanan."
"Ya udah sekalian aja. Kita ketemu besok ya? Ketemu di mana?" Suara Aurora terdengar antusias di seberang telpon, padahal sedang menahan sesak karena harus meninggalkan putrinya terlalu jauh.
Tut
Dito lantas memutuskan telpon setelah berucap. Mengusap wajahnya kasar karena tidak mengerti dengan keinginan hatinya.
Mungkin karena saat kejadian itu hati Dito masih bimbang akan cintanya pada Aurora. Tetapi setelah pisah rumah, Dito baru menyadari sedalam apa perasaan yang dia miliki.
Alana-sahabatnya dengan Aurora? Entahlah, rasa yang Dito miliki untuk keduanya berbeda.
Pria itu kembali masuk ke kamar. Membaringkan tubuhnya tepat di samping balita berusai 6 bulan lebih tersebut. Mengecup pipi cubinya berulang kali sebelum memejamkan mata.
Mungkin menikah tidak ada lagi dalam daftar perjalanan hidup Dito. Semuanya tergantikan dengan daftar masa depan putri kecilnya. Kebahagiaan Alana kedepannya adalah kebahagian Dito.
***
Di tengah kegelapan dengan bintang yang menghiasi malam. Seorang wanita dengan piyama tipis di tubuhnya masih setia berdiri di balkon kamar padahal jarum jam telah menunjukkan angka setengah 12 malam.
Wanita itu tidak lain adalah Aurora. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata meski harus meninggalkan semua orang yang dia sayangi.
Setelah bicara panjang lebar dengan sang daddy, Aurora akhirnya memutuskan untuk pergi. Selain memenuhi keinginan orang tuanya, Aurora ingin menata hidupnya kembali, karena sadar sekuat apapun dia berusaha, Dito tidak akan menjadi miliknya lagi.
Yang membuat hubungan keduanya dekat hanya karena bayi yang menjadi jembatan mereka untuk selalu bertemu.
"Gue cinta sama lo Dito! Tapi gue bakal berusaha lupain lo dan cari yang lebih baik, meski gue tau nggak ada pria sesempurna lo di dunia ini!" pekik Aurora. Mendonggakan kepalanya ke langit dengan mata terpejam.
"Andai waktu bisa diulang kembali, gue bakal jatuh cinta sama lo untuk pertama dan terakhir kalinya! Andai reinkarnasi itu ada, gue bakal berdoa di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama!"
Malam ini, Aurora benar-benar mengeluarkan semua isi hatinya tanpa memperdulikan akan menganggu penghuni lain di kompleks tersebut.
"Berisik!" Sahut seseorang dari sebelah rumah Aurora.
Jaraknya cukup jauh, sekitar sepuluh meter karena kamar Aurora terletak pada sisi kanan bagian depan.
"Bukan urusan lo!"
"Dasar gadis aneh!"
"Gue bukan gadis, gue udah punya anak. Wle!" Menjulurkan lidahnya sebelum masuk ke kamar. Aurora baru tahu kalau mempunyai tetangga menyebalkan seperti pria tadi.