Love Scandal

Love Scandal
Part 15 ~ Love Scandal



Mungkin menjadi teman lebih tepat di bandingkan sepasang suami istri untuk hubungan Dito dan Aurora. Terlebih Dito hanya menganggap Aurora sebagai adik yang harus dia jaga sebab sedang mengandung.


Namun, berbeda dengan Aurora yang sepertinya salah mengartikan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Dito. Hari demi hari perasaan Aurora pada Aron kian memudar, tergantikan dengan nama Dito yang mulai terukir dihatinya.


Sementara di sisi lain Dito tidak mengharapkan cinta siapapun, sebab belum siap mencintai kembali setelah ditinggal nikah.


Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan kampus bersama Aurora setelah kelas selesai. Rencananya Dito dan Aurora akan pindah dalam waktu dekat setelah bicara dengan orang tua masing-masing.


Dito melakukannya agar tidak terjadi kecanggungan satu sama lain, terlebih pria itu berencana pisah kamar. Bukan karena ada rencana akan berpisah setelah Aurora melahirkan, melainkan tidak ingin bersama sampai hatinya benar-benar telah dimiliki oleh wanita tersebut.


Cittttttttt


Ban mobil Dito berdecit sangat nyaring, membuat Aurora yang fokus pada ponselnya terkejut. Wanita itu menatap ke depan dan kembali dikejutkan akan keberadaan Aron bersama teman-temannya.


Aurora menelan salivanya kasar, refleks memegang hodie Dito di bagian perut ketika pria itu akan turun dari mobil.


"Ja-jangan turun," pinta Aurora dengan wajah piasnya.


Dito mengernyit, urung membuka pintu mobil. Sementara di depan sana Aron dan teman-temannya telah turun dari motor, menunggu Dito mendekat.


"Lo takut?" tanya Dito.


Aurora mengangguk cepat. "Gu-gue takut lo kenapa-napa. Dia geng motor berbahaya Dito."


Dito terkekeh, mengusap pipi Aurora yang seakan tidak dialiri darah. Pria itu mengira Aurora takut kalau saja terluka. Namun, nyatanya Aurora takut Dito terluka dan Aron memberitahukan rahasia besar yang dia miliki.


"Gue jauh lebih berbahaya," balas Dito.


"Jangan, gue mohon ...." Menatap Dito, bahkan Aurora langsung memeluk pria itu.


"Baiklah." Pasrah Dito. Tanpa menyuruh Aurora melepaskan pelukannya, Dito mengambil ponselnya untuk mengabari Avegas.


"Gue dihadang Aron dan gengnya di jalan ..., buru gue bawa cewek soalnya!"


Setelah mengabari, pria itu mengunci pintu mobil dan bersandar dengan santai. Kaca mobil Dito tidak bisa ditembus oleh apapun, bahkan sebuah peluru.


Jika Dito sedang senyum-senyum memperhatikan Aron yang mulai memukul-mukul mobilnya, berbeda dengan Aurora yang telah memejamkan mata, takut Aron bisa menerobos masuk begitu saja.


"Kenapa ketawa?" tanya Aurora menyadari Dito tertawa.


Anggota Avegas telah datang meski hanya sepertiganya saja. Namun, itu belum mampu dikalahkan oleh Aron.


"Mereka teman-teman lo?"


"Hm."


"Syukurlah."


"Udah nggak takut?" Aurora mengeleng. "Terus kapan lepas pelukannya?" tanya Dito mengulum senyum.


Sontak saja Aurora langsung menjauhi tubuh Dito, kembali ke tempatnya. Memperhatikan perkelahian yang telah terjadi di depan mobil. Sesekali Aurora meringis ketika Aron mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari anggota Avegas.


Wanita itu baru bernafas lega setelah perkelahian berhenti, Aron dan teman-temannya telah pergi. Sementara anggota Avegas berkerumun menghampiri mobil.


"Bentar ya." Dito turun dari mobil, bersalaman ala laki-laki pada anggotanya. Tidak lupa mengucapkan terimakasih karena datang tepat waktu.


"Thanks Bro, nanti malam kita pesta. Ah ya, Rayhan sama Keen kemana?" tanya Dito, karena yang memimpin barisan tadi adalah Ricky.


"Masih di kelas keknya."


"Keenan? Kita sekesal njir."


"Oh Keen mah sibuk kencang buta."


"Lupa." Dito dan Ricky tertawa sampai tidak menyadari Aurora juga ikut turun dan menghampiri mereka.


"Makasih ya Ky," ucap Aurora.


"Santai Nyonya Dito. Gue cabut dah, cewek gue nunggu di hotel njir!" Melambaikan tangan pada Dito dan Aurora.


Karena tidak ada hambatan lagi, Dito dan Aurora segera meningalkan jalanan yang sepi tersebut. Terlebih keduanya akan pindah rumah sore nanti.


Pindah hanya sekedar pindah, sebab rumah orang tua Dito telah siap ditinggali.