
Aurora, wanita itu menandangi kopernya dengan perasaan tidak menentu. Kalau boleh jujur dia tidak ingin pergi kemanapun. Setidaknya jika tidak bersama Dito, dia bisa melihat putrinya setiap hari.
Namun, di sisi lain dia harus menuruti kedua orang tuanya untuk menebus kesalahan yang telah dia lakukan di masa lalu. Juga menjauh dari Aron yang terus menerornya melalui berbagai pesan di sosial media.
Aurora tidak percaya bahwa pria itu mencintainya. Aron bukan cinta tapi obsesi yang bisa saja melukai Aurora kapan saja.
Wanita itu menghela nafas panjang, menarik kopernya keluar kamar. Memaksakan senyuman pada daddynya yang sejak tadi menunggu di anak tangga.
"Daddy yakin putri daddy bisa melewati semuanya," ucap pria paruh baya itu mengelus kepala Aurora. Mengambil alih koper dan menariknya keluar dari rumah.
Sedangkan Aurora neneliti rumah tempatnya dibesarkan, sekaligus mencari wanita yang telah melahirkannya. Sampai sekarang mommynya belum menyapa Aurora. Mungkin karena rasa kecewa pada putrinya.
Bukan karena perpisahan, melainkan kalimat di mana Aurora tidak mengingingkan seorang anak. Aurora memberikan hak asuh sepenuhnya kepala Dito.
Tidak ada yang terlupa lagi, akhirnya Aurora menyusul ayahnya di halaman rumah. Keningnya mengkerut, langkahnya memelan melihat pria yang tidak asing baginya berdiri di sisi mobil.
"Daddy, kenapa dia ada di sini?" tanya Aurora menunjuk Adam.
"Ah dia anaknya om Dikta, karena jadwal keberangkatan kalian sama jadi sekalian satu mobil. Om Dikta dan istri lagi ke sekolah ambil raport."
"Hay?" Sapa Adam tersenyum menyebalkan di mata Aurora.
"Rora nggak mau satu mobil sama cowok aneh ini, Daddy!"
"Rora, jangan bertingkah! Kamu bukan anak kecil lagi. Lagi pula cepat atau lambat kalian bakal akrab kok. Bukan di sini saja kalian tetanggaan, tapi di korea pun sama. Adam bakal jaga kamu selama di sana!"
"Daddy!" bentak Aurora tidak habis pikir, sementara Adam telah masuk ke mobil dan duduk anteng seperti tidak punya salah sama sekali. Pria itu memasang headset di telinganya.
Sebenarnya Adam juga baru tahu kalau Aurora akan tinggal tepat di samping apartemennya.
Adam Melirik sebentar ketika Aurora duduk tepat di sampingnya. Sedangkan jok samping kemudi diisi oleh ayah Aurora.
Sepanjang perjalanan menuju bandara keheningan tercipta. Mungkin karena Adam dan Aurora tidak mempunyai kesan baik saat pertama kali bertemu.
Adam yang menyadarinya segera menyeletuk. "Bisa senyum juga lo?"
Daddy Aurora yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyum. Aurora yang notabenya tidak suka diganggu akan digaja dengan pria yang sejak kecil sudah jahil dan mengurusi hidup orang lain karena rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Sh*ibal anny*eong," sapa Aurora menatap Adam dengan senyuman jenakanya.
Adam yang tahu arti sapaan Aurora tentu saja kesal. "Kamp*ret!"
"Makanya jangan ngurusin hidup orang! Ingat ya gue udah punya anak!"
"Tapi lo nggak punya suami!"
Seketika suasana menjadi hening kembali. Perubaha air muka Aurorapun tampak jelas jika sedang sedih.
Adam yang merasa bersalah tentu saja harus meminta maaf bukan?
"Mianhae," ucap Adam.
"Sok korea lo, padahal namanya indo banget!" Ejek Aurora. Seketika Adam menyesal telah meminta maaf pada gadis yang akan menyusahkannya nanti. Entah di kampus atau di apartemen.
***
Di sisi lain, tepatnya di bandara. Seorang pria telah tiba setengah jam sebelum waktu keberangkatan Aurora. Pria itu tidak lain adalah Dito.
Setidaknya dia ingin memberi kesan baik pada mantan istrinya jika harus berpisah. Dito masih berada di dalam mobil, menunggu kedatangan Aurora yang tidak kunjung nampak padahal jarum jam hampir mendekati angka 9.
Melihat mobil yang sangat dia kenali berhenti di depan bandara. Dito hendak turun untuk menyapa, tapi urung ketika Aurora turun dari mobil bersama seorang pria yang kemarin dia dapati terus menatap Aurora tanpa kedip.
Dito kembali mengunci pintu mobilnya. Memperhatikan Aurora yang berjalan di samping Adam, bahkan pria itu membantu Aurora membawa koper.
"Kayaknya keputusan gue buat nganter dia pergi kurang tepat," gumam Dito. Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan area bandara. Tanpa tahu kalau Aurora sangat menginginkan kehadirannya untuk saat ini.