
Kondisi Aurora jauh lebih baik setelah diperiksa oleh dokter. Wanita itu sakit karena malas makan dan kurang tidur.
Wanita itu kini duduk lesehan di depan Tv dengan berbagai makanan dan cemilan di hadapannya. Tentu yang menyediakan semua itu adalah Adam. Pria yang sejak pagi tidak meninggalkan apartemen hanya untuk mengaja Aurora.
Bahkan Adam rela absen satu kelas demi menemani wanita yang merupakan tanggung jawabnya di negara orang.
Hal tersebut tentu membuat Aurora sedikit tersentuh akan kebaikan Adam terlepas dari sikap menyebalkan yang tiba-tiba kambuh kapan saja.
Aurora diam-diam menatap pria yang mempunyai rahang tegas, rambut sedikit gonrong ala oppa korea yang tengah duduk di sofa sambil memangku laptop.
"Kenapa amanah banget? Padahal lo bisa aja nggak ngurusin gue. Nggak bakal ada yang marah juga," ucap Aurora.
"Tanggung jawab harus diperhatikan, kalau nggak rasanya nggak tenang," sahut Adam masih fokus pada layar laptopnya.
Aurora berdiri untuk menghampiri Adam, hendak duduk di samping pria itu. Namun, urung ketika suara bel apartemen berbunyi.
Dia lantas melirik Adam. "Lo pesan makanan lagi? Dam, gue udah kenyang!"
"Nggak, orang dari tadi belajar," sahut Adam memperlihatkan apa yang ada di layar laptopnya.
"Berarti tamu? Apa daddy?" gumam Aurora. Wanita itu hendak melangkah, tapi tangannya ditarik oleh Adam.
"Duduk! Biar gue aja." Beranjak setelah meletakkan laptop di atas meja.
Aurora mengangguk patuh, terlebih lututnya masih sedikit lemas setelah demam seharian. Wanita itu melirik ponselnya untuk melihat jam.
Terjanya sudah jam 10 malam, pantas saja kelopak matanya mulai berat. Atensi Aurora teralihkan pada pintu karena Adam tidak kunjung muncul padahal beberapa menit telah berlalu.
Karena penasaran, akhirnya Aurora menyusul. Langkah kaki wanita itu memelan, seiring detakan jantung yang mulai tidak normal melihat siapa sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Jangan ngaku-ngaku anda! Teman saya memang punya mantan suami dan anak tapi di indonesia, ya kali tiba-tiba ada di korea," ucap Adam pada Dito yang berdiri di depan pintu bersama Alana di gendongannya.
"D-dito?" lirih Aurora berdiri tepat di belakang Adam.
Lantas Adam membalikkan tubuhnya. "Jadi dia benar suami lo? Maksudnya mantan suami?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Aurora.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo masuk!" ajak Adam tanpa dosa padahal tadi berusaha mengusir Dito.
Bukan apanya, sekarang sudah tengah malam. Banyak kejadian pembunuhan di dalam rumah. Ayolah Adam tidak ingin hidup layaknya drama yang harus disaksikan semua orang.
"A-ayo masuk," lirih Aurora masih dengan degup jantung yang sama.
Wanita itu mengikuti langkah mantan suaminya. Sungguh, Aurora tidak percaya bahwa Dito dan Alana benar-benar ada di hadapannya.
Rasa rindu yang bersemayang di hati selama seminggu, seakan terbayarkan dengan kehadiran keduanya di apartemen.
"Siniin Alana, pasti dia cape banget sampai ketiduran," ucap Aurora mendekati Dito yang masih mengendong Alana.
Senyumnya melebar ketika Dito dengan suka rela menyerahkan putrinya. Dengan sigap Aurora membawa Alana ke kamar dan menidurkannya di atas ranjang.
Perasaanya menghangat, semangat ditubuhnya yang sempat menghilang kembali lagi. Dia memandangi putrinya dengan mata berkaca-kaca, tidak pernah berpikir bahwa mereka akan bertemu dalam waktu dekat.
"Putri mommy cantik banget. Mana pertumbuhannya cepat banget lagi. Andai mommy bisa ada di samping kamu Nak. Melihat perkembangan kamu. Bisa jadi orang pertama yang mendengar kamu manggil mamah atau papah," lirih Aurora.
Wanita itu turun dari ranjang karena ketukan pintu yang terdengar. Tersenyum pada Adam yang berada di depan kamar.
"Gue ke sebelah dulu, kalau ada apa-apa telpon aja oke? Oh iya, dia beneran mantan suami lo kan? Lo baik-baik aja kalau gue tinggal?"
Aurora mengangguk. "Makasih Adam udah baik banget sama gue. Gue baik-baik aja kok, Dito bukan orang jahat apalagi kasar."