
Usai bertemu dengan orang tua Dito, Aurora akhirnya diantar pulang kerumah orang tuanya tanpa kehadiran Alana di dalam mobil. Keheningan tercipta di mobil tersebut, baik Dito maupun Aurora sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aurora melirik mantan suaminya sebentar ketika teringat akan perkataan orang tuanya.
"Lo nggak ada niatan buat nikah lagi?" tanya Aurora akhirnya.
"Nggak."
Aurora mengangguk mengerti. "Kalau suatu hari nanti lo mau nikah dan Alana masih kecil, serahin ke gue ya? Gue nggak mau dia punya mommy tiri."
"Lo nggak ada niatan nikah?" Kali ini Dito yang bertanya, membuat Aurora terkesiap. Meski begitu dia menjawab dengan gelengan.
"Nggak, gue nggak bakal nikah entah sampa kapan. Gue takut ngecewain pria lain. Dari sini gue bisa belajar kalau nggak semua keinginan kita harus dimiliki. Ada kalanya kita harus kehilangan sesuatu untuk hidup lebih baik." Mencoba tersenyum meski sulit. Biarkan Aurora saja yang memendam sakit hatinya.
Biarkan dia sendiri yang merasakan tanpa melibatkan orang lain, sebab sejak awal yang memulai adalah dirinya. Yang terpenting sekarang hidup putrinya baik-baik saja dan tidak dihantui masa lalu ibunya yang suram.
Aurora tersentak ketika sebuah tangan mengelus kepalanya.
"Jalani hidup lo dengan baik dan jangan terbebani apapun. Lo tenang aja semuanya bakal baik. Kuliah, Alana dan hubungan kita. Yang berubah hanya status saja," ucap Dito yang mulai berdamai dengan rasa sakit di hatinya.
Mungkin jika dia tidak jatuh cinta pada Aurora sakitnya tidak akan sedalam ini.
Dito hendak membanting setir kemudi memasuki halaman rumah Aurora, tapi wanita itu malah menghentikan dan meminta Dito berhenti di depan pagar.
"Kenapa?"
"Lo nggak usah masuk. Gue bisa jelasin sendiri sama mommy dan daddy."
"Tapi ...."
"Gue nggak papa, gue baik-baik aja dan mau istirahat dengan tenang. Kehadiran lo bakal buat keributan di rumah. Gue mau tidur."
Meski ragu Dito menganggukkan kepalanya, memandangi punggung Aurora melintas pagar tinggi sambil membawa koper. Pria itu menghela nafas panjang, melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang dulu sering kali dia kunjungi.
Tidak terasa mata Dito berembun. Perpisahan tentu membuatnya merasa sedih. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Talak telah jatuh dimana tidak ada kesempatan untuk bersama lagi.
Ini semua karena Ego Dito yang menjunjung tinggi ketika tahu Aurora tidak pernah menghargainya.
Dito terus melajukan mobilnya tidak tentu arah, berbeda dengan Aurora yang membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu dapat istirahat dengan tenang tanpa mendapatkan pertanyaan orang tuanya yang ternyata berada di luar negeri.
Air mata mengalir membasahi bantal Aurora.
"Ini terakhir kalinya gue menangis. Gue harus bangkit, usia gue masih 20 tahun," gumam Aurora.
"Pada dasarnya setiap pertemuan pasti ada perpisahan jadi kenapa harus sedih?" batin Aurora memandangi langit-langit kamarnya.
Dito benar, tidak ada yang berubah dalam hidupnya selain status yang tidak lagi menjadi istri seseorang. Hubungannya dengan Dito juga baik-baik saja layaknya teman biasa meski ada rasa canggung sebab saling mencintai. Hanya keadaalah yang membuat mereka berpisah.
Seandainya
Sepertinya hanya kalimat itu yang terus menemani setiap kalimat Aurora untuk saat ini. Kata Seandainya akan hadir jika penyesalan telah datang dan Aurora sekarang sedang menyesal.
Wanita itu melirik ponselnya yang bergetar. Tersenyum ketika sebuah pesan masuk dari sahabat Dito bernama Keenan.
Are you oke, Cantik? Percayalah setelah hujan akan ada pelangi yang indah. Tetap tersenyum.
Makasih semangatnya Keen.
Dari semua teman-teman Dito, hanya Keenanlah yang tidak pernah berubah. Pria yang selalu memberikan energi positif di tengah-tengah masalah yang melanda.
"Sekarang Dito lagi apa ya? Apa dia ke markas? Apa dia sama Alana? Semoga dia baik-baik aja dan nggak tawuran sama Aron."
Baru berpisah beberapa menit pikiran Aurora telah tertuju pada mantan suaminya. Mungkin karena sudah menjadi kebiasan untuknya saat bersama.