
Seperti janji yang telah Aurora ucapkan pada putrinya. Wanita itu kini telah siap dengan setelan sederhana tapi terkesan angun di tubuhnya.
Aurora mengendarai mobil sendiri menuju sekolah Alana untuk menjemput putrinya yang sangat cantik.
Meski tidak bisa bersama atau kembali pada Dito, setidaknya dia bisa bertemu dengan putrinya secara leluasa.
Aurora turun dari mobil, berjalan memasuki lingkungan sekolah. Tersenyum pada wanita yang dulunya pernah membuat dia cemburu ketika masih bersama Dito.
Namun, kini perasaan itu berangsur-angsur telah menghilang dan tergantikan dengan orang lain.
Mudah jatuh cintai? Itulah kelemahan Aurora jika sudah mendapatkan perhatian-perhatian kecil dari seorang pria, sehingga seringkali dimanfaatkan atas nama cinta seperti yang Aron lakukan dulu padanya.
4 tahu adalah waktu yang cukup untuk Aurora berdamai dengan masa kelam dihidupnya. Selama itu pula orang tuanya memaafkan Aurora.
Namun, satu yang selalu sama sampai sekarang. Identitas Alana yang sebenarnya. Baik Aurora maupun Dito tidak ada yang ingin membocorkan pada siapapun demi masa depan si kecil.
Aurora duduk tepat di samping Salsa.
"Anaknya sekolah di sini juga?" tanya Aurora basa-basi dan dijawab anggukan oleh Salsa.
"Hm, sekalian aja biar Alana dan Kara akrab kayak papahnya dulu," sahut Salsa.
Aurora mengangguk-anggukkan kepalanya. Merasa gemas melihat Alana yang berlari ke arahnya setelah bel pulang sekolah berbunyi.
"Tante cantik nepatin janji," pekik Alana memeluk lutut Aurora yang lantas berdiri setelah melihat putrinya.
"Iya dong, kan tante sayang sama Alana." Mengusap kepala Alana yang selalu saja kuncir dua jika ke sekolah.
Bukan karena keinginan Dito, melainkan Alana sendiri. Katanya Angkara suka sama cewek cantik yang rambutnya diikat.
Di sisi lain Salsa menatap Aurora dan Alana dengan kening mengkerut.
"Bukannya mom ...."
"Nggak papa Sal, aku lebih nyaman dipanggil tante," potong Aurora.
Kening wanita itu mengernyit ketika anak laki-laki mendekati Alana sambil menyeret tas ranselnya. Bahkan bisa dibilang anak laki-laki berusia 5 tahun itu sedikit malas bergerak.
"Arga Sayang, kok mukanya cemberut?" sapa Salsa berjongkok.
"Kenapa nggak suka sama Kara?" tanya Angkara menghampiri Arga, bertepatan Alana-mommy Arga datang bersama suaminya.
"Mommy!" pekik Arga lantas memeluk mommynya.
Seketika tatapan Aurora tertuju pada wanita yang tengah hamil besar tersebut. Bibirnya seakan terasa kaku hanya untuk melempar senyum pada wanita yang dia kenali sebagai cinta pertama Dito.
Wanita yang selalu membayangi Dito saat masih berumah tangga dulu.
"Aduh putra gantengnya Mommy kok lusuh banget sih. Ayo sayang kita pulang," ucap Alana tanpa berjongkok.
Yang mengendong Arga adalah suaminya, sementara Alana beralih pada sahabatnya.
"Sal, aku duluan ya. Mau periksa ke dokter dulu."
"Hati-hati bumil." Melambaikan tangan dan lupa memperkenalkan Aurora.
Tepat setelah kepergian Alana, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan sekolah. Dito turun dan berpasasan dengan Salsa yang bersiap masuk ke mobilnya.
"Halo bro, gimana sekolahnya?" tanya Dito basa-basi.
"Baik Ayah, tapi Kara nggak suka sama Alana. Alana suka gangguin Kara menggambar." Adunya pada Dito.
"Maafin Alana yang bro." Mengusap kepala Angkara sebelum menemui dua bidadari tidak bersayapnya? Entahlah bagaimana perasaan Dito saat ini.
Pria itu tersenyum pada Aurora yang duduk bersama Alana, mungkin menunggunya.
"Langsung pergi?" tanya Dito dan dijawab anggukan oleh dua perempuan cantik di hadapannya.
Karena tahu akan pergi bersama Aurora, Dito sengaja datang bersama sopir yang telah membawa mobilnya pergi.
Dito mengemudikan mobil Aurora membelah padatnya jalan raya. Sesekali melirik Alana dan Aurora yang tampak sibuk di jok belakang.
"Daddy kayak sopir duduk sendirian di depan," celetuk Dito.
"Alana nggak butuh daddy, Alana mau main sama tante cantik," sahut gadis kecil itu, berhasil menerbitkan senyum di wajah Aurora.
"Andai aja dalam hubungan kita nggak ada kara perpisahan, mungkin kita adalah keluarga bahagia yang mungkin membuat semua orang iri."