Love Scandal

Love Scandal
Part 12 ~ Love Scandal



Aurora terus memundurkan langkahnya membentur lemari lumayan tinggi di dalam kamarnya. Keringat dingin membanjiri tubuh wanita tersebut, karena Dito terus saja maju dengan tatapan yang sulit di artikan.


Aurora relah menyerahkan segalanya untuk Dito malam ini juga, tapi dia tidak kuasa melihat tatapan suaminya yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta.


"Di-dito," lirih Aurora ketika pinggangnya langsung ditarik oleh sang suami.


"Ngapain mundur terus sih? Gue mau liat pipi lo!" kesal Dito yang tidak mengerti dengan tingkah Aurora yang terus saja menghindarinya.


Pria itu hanya ingin mengelus pipi Aurora yang memerah.


"P-pipi?" Aurora mengerjapkan matanya perlahan.


"Hm." Mengelus pipi Aurora yang memerah. "Bukannya tadi yang ditampar sama Daddy sebelah kanan ya? Kok yang merah banget sebelah kiri? Ujung bibir lo juga sobek gini."


"It-itu karena gue-gue ... Minggir Dito, gue sesak!" Mendorong tubuh kekar Dito agar menjauh darinya.


Tidak tahukan pria itu bahwa kini jantung Aurora sedang tidak baik-baik saja? Terlebih sikap Dito selama sebulan terakhir sangatlah manis, membuat siapa saja akan jatuh cinta dalam waktu dekat.


"Lo salah tingkah? Tenang aja gue nggak bakal suka kok sama lo. Gue cuma khawatir saja. Sebaiknya lo kompres tuh pipi biar nggak lebab nantinya," ucap Dito santai.


Aurora mengeleng. "Nggak mau, kita mau pergi kerumah orang tua lo. Udah nggak ada waktu buat kompres air es. Lagipula bakal ditutupin bedak kok," sahut Aurora duduk di meja riasnya.


"Ya udalah terserah lo."


***


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Dito dan Aurora untuk sampai di rumah orang tuanya, terlebih jalanan sangat lengang dan jaraknya yang cukup dekat.


Dito dengan setia mengenggam tangan Aurora memasuki rumah karena tahu wanita itu mungkin akan merasakan canggung bertemu kedua orang tuanya, terlebih papah yang menentang pernikahan terjadi meski sudah tahu putranya telah menghamili seorang gadis.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo sapa papah dulu."


"Kayaknya tangan papah masih kaku habis serangan jantung," ucap Dito, menarik kursi untuk Aurora duduk.


Mungkin Aurora adalah wanita paling beruntung karena menjadi istri Dito. Pria yang sangat penyayang, pengertian dan apa adanya. Bahkan di antara 6 bersahabat hanya Ditolah yang tidak brsengsek menjadi pria. Sayangnya Dito harus bertemu wanita licik seperti Aurora.


Wanita licik yang bersembunyi di balik wajah lugunya hanya karena mempertahankan egonya sendiri.


Makan malam terjadi di rumah mewah yang terkesan gelap dan menyeramkan tersebut. Makan malam berjalan dengan tenang tanpa adanya pembicaraan satu sama lain.


Hanya suara dentingan sendok yang saling bersahutan satu sama lain. Usai makan malam Aurora dan Dito tidak langsung pulang, melainkan tinggal karena permintaan sang mamah yang menyuruh mereka bermalam.


"Mau bicara sama mama nggak? Atau mau langsung ke kamar?"


"Bicara sama Mamah aja deh." Aurora tersenyum cangung, melirik Dito yang telah rapi dengan jaket bertuliskan Avegas dengan lambang api membentuk bintang di punggungnya.


"Mau kemana?" tanya Aurora urung duduk di samping mamah Dito.


"Markas, bentar aja kok. Jam sepuluh gue balik."


Aurora lagi-lagi hanya mengangguk, duduk di samping wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik. Andai saja pernikahan mereka murni keinginan tanpa adanya kebohongan, mungkin Aurora sangat bahagia dan tidak akan merasa bersalah pada keluarga Dito yang sangat menyayanginya.


"Mamah boleh tau nggak dimana Dito pertama kali mengambil kesucian kamu? Dia mabuk atau sadar?"


"Kenapa, Mah?" Aurora terkesiap mendengar pertanyaan ibu mertuanya.


"Mamah yakin kamu pasti dengar." Mengusap pundak Aurora sambil tersenyum. "Awalnya mamah nggak mau percaya kalau Dito hamilin kamu, soalnya Dito kalau suka sama cewek tuh nggak mau di apa-apain. Jangankan peluk atau pegangan tangan, dia ngungkapin perasaan aja nggak mau karena takut nyakitin hati orang yang dia suka."