
Mendapatkan ceramah panjang lebar tentang kebersihan dan cara mengurus rumah yang benar dari mamah mertuanya, membuat pikiran Aurora sedikit terbuka sebagai anak yang sangat manja.
Wanita itu menguatkan tekatnya untuk berubah lebih baik. Bukan hanya membuktikan pada mamah mertuanya bahwa dia bisa seperti yang wanita paruh baya itu inginkan, melainkan berusaha merebut hati Dito agar mau mencintainya.
Semakin lama tinggal bersama, semakin membuat Aurora sulit untuk melepaskan Dito suatu hari nanti. Dan hal yang perlu dia lakukan hanya menyembunyikan kenyataan serapat mungkin, juga merebut hati suaminya.
Aurora kini berada di dapur membantu bibi membereskan sesuatu yang bisa dibereskan, sesekali bertanya hal apa yang perlu dia lakukan agar tidak diam saja seperti patung.
Wanita itu mengusap peluh di keningnya yang terus bercucuran setelah mengerjakan pekerjaan rumah membantu bibi. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa, menyesap susu dengan campuran es batu di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Aurora melakukan hal yang sangat berat seperti saat ini.
"Capek banget ternyata," guman Aurora meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
***
Dito, pria itu menghela nafas panjang setelah papahnya memberi perintah agar dia segera pulang setelah berhasil mengerjakan salah satu proposal dari kantor. Untung saja Dito adalah anggota inti Avegas, dimana anggotanya dikenal orang-orang pintar yang IQ nya di atas rata-rata.
"Jadi Dito boleh pulang kan Pah? Nggak bakal ke kantor lagi?" tanya Dito memastikan. Pria itu mengulung kemejanya hingga siku, karena memang tidak terbiasa memakai kemeja.
"Minggu depan harus datang!"
"Pah!" Mend*esah panjang.
"Jadwal kamu satu kali dalam seminggu, gajinya 20 jt perbulan lain uang bulanan. Kalau kamu nggak mau ya udah."
"Dito mau pah!" sahutnya spontan. Sekarang pria itu tidak bisa menolak uang sebab ada orang yang harus dia tanggung hidupnya. Ya meski Aurora juga mendapatkan tanggungan dari orangtuanya, bukan berarti harus lepas tangan.
Dito meneluk papahnya sekilas lalu meninggalkan kantor yang membuatnya sangat sesak. Entahlah tapi setelah menikah, mendapatkan uang adalah kebahagian untuk Dito.
Pria itu melajukan mobilnya membelah padanya jalan raya, singgah di sebuah restoran untuk membeli dua porsi makanan karena tahu Aurora tidak mungkin memasak.
Memarkirkan mobilnya setelah sampai di rumah, berjalan dengan langkah lebarnya memasuki rumah minimalis berlantai dua. Hanya terdapat dua kamar di rumah tersebut, itupun di lantai atas.
Kening pria itu mengernyit mendapati Aurora tertidur di sofa. Dito menghampiri dan berlutut di sisi sofa, menyingkirkan anak rambut yang menganggu tidur istrinya.
Dito telah berganti baju di kantor sebelum pulang karena sangat kegerahan.
"Neng Roranya kecapean, Den," ucap bibi membawakan minuman dingin pada Dito, tidak lupa mengambil kresek yang dibawa majikannya. Bibi sudah lama bekerja dengan Dito, jadi tahu betul apa yang diinginkan dan tidak disukai pria itu.
"Memangnya dia ngapain, Bi?"
"Bantu saya beres-beres rumah Den. Nguras kolam renang, beresin gudang. Neng Rora juga nyetrika ulang isi lemarin Aden, katanya biar lebih rapi."
Dito menggela nafas mendengar penuturan Bibi. Mengendong tubuh Aurora menuju kamar agar istirahat dengan nyaman, terlebih hari sudah gelap.
Sesekali Dito melirik wajah ayu Aurora, tersenyum mendapati wanita itu membuka mata. "Tidur lagi, pasti cape!"
"Turunin gue! Gue bisa jalan sendiri."
"Ck, udah kepalang." Menendang pintu kamar pelan dan membaringkan Aurora di ranjang. Duduk di sisi pembaringan sambil mengulum senyum.
"Baperan banget sih, sampai dengerin omelan Mamah. Gue udah bilang jangan lakuin apapun, hidup layaknya di rumah dan kehidupan lo sebelumnya."
"Tapi nggak bisa Dito. Mamah lo benar, jadi istri jangan setengah-tengah. Lagiankan gue bukan istri sementara."
Dito tertawa mendengar kalimat terahir Aurora, membuat gadis itu mengerutkan keningnya. "Jadi istri sementara ya? Setelah lahiran kita cerai?"
"Nggak. Kita bakal sama-sama seumur hidup. Ikatan pernikahan bukan permainan, Rora. Lagian kalau kita pisah nantinya, kita bakal memulai dari awal lagi. Mengenal satu sama lain sama pasangan baru yang belum tentu buat kita nyaman."
"Tapi seumur hidup terlalu lama Dito, apa lo yakin mau seumur hidup sama gue?"