
"Aurora udah pergi?"
Pertanyaan itu lantas Dito dapati setelah melewati pintu rumahnya. Dia mengeleng sebagai jawaban, membuat mamahnya tentu saja mengerutkan kening bingung.
Dito meminta izin keluar pagi-pagi sekali katanya mengantar kepergian Aurora ke luar negeri. Tapi saat ditanya malah tidak tahu, sungguh pria aneh.
"Nggak jadi?"
"Malas Mah, lagian Rora bukan urusan Dito lagi," jawab Dito dan berlalu pergi.
Tidak lupa pria itu mengambil putrinya yang berada di gendongan mamahnya. Alana sudah mandi dan terlihat sangat cantik. Dito akan tinggal dirumah untuk menemani putrinya bermain hingga puas.
"Huaaa daddy capek banget sayang," ucap Dito setelah sampai di dalam kamar, berbaring di ranjang, sementara Alana duduk sambil tertawa.
Entahlah, tapi balita di samping Dito sangatlah ceria. Sedikit-sedikit pasti tertawa dan jarang menangis. Kecuali merasakan sakit atau lapar barulah baby Alana menangis histeris.
Dito merubah posisinya menjadi tengkurap, menjadikan paha Alana bantalanl dengan menahan kapalanya. Dia tersenyum ketika Alana malah memainkan rambutnya.
"Mommy udah pergi Al, kok daddy sedih ya?"
"Tadi Daddy liat mommy pergi sama tetangganya dan hati daddy sakit liatnya. Padahal daddykan nggak cinta sama mommy." Dito terus saja mengajak putrinya bicara.
Alana yang tidak tahu apa-apa hanya menyahut dengan tawa atau gumaman tidak jelas pada daddynya.
Lama keduanya bermain bersama hingga akhirnya sama-sama tertidur tanpa memikirkan beban hidup di luar sana. Terlebih Dito, pria itu tidak memikirkan beban hidupnya. Yang dia perhatikan hanya bermain bersama Alana dan ke kampus.
Sakin terlelapnya Dito tidak menyadari bahwa baby Alana bangun lebih dulu.
Balita tersebut merangkak untuk melihat wajah daddynya yang tidur membelakangi.
Merasakan seseorang menyentuh lengannya, Dito menyerjapkan matanya. Tersenyum melihat wajah bantal sang putri.
"Putrinya Daddy udah bangun? Lapar ya Sayang?"
Seakan mengerti, Alana menganggukkan kepalanya pelan membuat Dito semakin melebarkan senyumnya.
Tanpa cuci muka atau merapikan rambutnya yang berantakan, Dito mengendong Alana menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Rumah sangat tenang, hanya pelayan yang berjalan ke sana-kemari. Tampaknya orang tua Dito telah pergi ketika pria itu tertidur.
"Bi, buatin Alana makanan ya," pinta Dito duduk di meja pantri.
Dito mendengus kesal ketika ponselnya berdering.
"Kenapa?" tanya Dito, menempelkan benda pipihnya ditelinga, sementara tangan sibuk menyuapi pisang pada Alana agar tidak terlalu lapar.
"Ngopi kuy, malas gue di rumah mulu."
"Yang lain gimana?"
"Udah gue kabarin, Samuel oke aja. Tapi Ricky sama Rayhan belum ada kabar."
Dito mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Keenan. Seketika dia jadi teringat dengan apa yang dia saksikan di dermaga tadi.
"Keknya Rayhan sibuk sama Giani. Tadi gue liat dia mau lompat ke laut njir!"
"Demi apa?" Suara Keenan melengking, membuat Dito lantas menjauhkan benda pipih tersenyum dari telinga.
Sungguh hampir saja gendang telinga Dito pecah. Mungkin jika mendengarnya sekali lagi, semua kotoran di telinga Dito akan keluar tanpa tersisa.
Pergerakan Dito yang dadakan tentu membuat Alana yang sibuk mengunyah pisang mendongak.
"Ayo makan lagi Sayang," ucap Dito, lalu kembali fokus pada Keenan.
"Nanti dah gue ceritain. Rencananya mau ngopi di mana ini? Aman nggak kalau gue bawa bayi?"
"Aman-aman, tenang aja dah. Warkop bu Warni. Sekalian mengenang masa lalu."
"Ck-ck mengenang di mana Samuel bentak-bentak Ara njir. Gue masih ingat." Tawa Dito pecah. Entahlah dia tidak tahu harus sedih jika mengingat hal tersebut.
Harus sedih melihat Ara dibentak, atau senang karena Samuel mendapatkan bogeman dari Rayhan, juga ceramah panjang lebar dari Azka.
"Sae lo senang diatas penderitaan sahabat sendiri. Dahlah, buru siap-siap! Gue dah di warkop dari tadi."
"Assiap!"
Dito lantas memutuskan sambungan telpon. Kembali fokus pada Alana yang sangat lahap. Kali ini Dito beralih pada mie khusus bayi yang telah dibuat bibi untuk Alana. Tentu saja sangat aman di tubuh putrinya.
Dia mendudukkan Alana di atas meja. Di atas meja tersebut ada tempat duduk khusus bayi.
Meletakkan mie tersebut dan membiarkan Alana memakannya sendiri. Dito hanya memantau. Dito sering kali menontom beberapa video tentang Baby and Mom agar tahu cara mengurus bayi dengan benar.