
Sebelum menemui istrinya yang telah dipindahkan ke ruang perawatan, Dito mengunjungi ruangan Nicu, mengintip dari balik jendela kaca hanya untuk melihat bayinya yang kata dokter adalah parempuan.
Dito menyentuh jendela kaca tersebut seakan meraba tubuh putrinya. Entah kenapa tapi hati Dito terasa sangat sakit melihat makhluk mungil dipasangi sesuatu di tubuhnya.
"Daddy nggak becus jaga kamu," lirih Dito. "Maafin Daddy ya."
Dito menoleh ketika pundaknya ditepuk oleh Keenan yang juga datang ke rumah sakit bersama inti Avegas lainnya.
"Bayi lo pasti baik-baik aja. Nggak ada niatan mau ngasih nama?"
Dito terdiam.
"Mau diskusi dulu sama Aurora?"
Lagi Dito hanya diam saja membuat Keenan menghela nafas panjang. "Gue nggak tau rasanya jadi ayah gimana, tapi gue bisa rasain penderitaan lo, apalagi selama ini lo berusaha banget buat jaga Aurora biar kandungannya baik-baik aja, dimana resikonya lo harus jatuh cinta pada wanita yang telah membuat kebohongan sangat banyak. Gue salut sama lo, To. Bisa nerima semua kebohongan Aurora dan nerima dia apa adanya."
"Demi putri gue." Dito akhirnya bersuara.
Pria itu melempar senyum pada sahabatnya, berjalan beriringan menuju ruangan Aurora sambil menunggu para orang tua datang karena Dito telah memberi kabar.
Dito memandangi Aurora yang masih tertidur dengan selang infus di tangannya, sementara para sahabatnya tengah duduk di sofa saling menyenggol satu sama lain.
"Andai aja sepupu gue nikahnya sama Dito, pasti bahagia banget," celetuk Rayhan tanpa difilter sebab terlena melihat betapa sayangnya Dito pada wanita jahat bernama Aurora.
Sejak mengetahui kebusukan Aurora yang pernah tidur dengan Aron. Anggota Avegas, terutama intinya tidak ada yang respek pada wanita itu. Terlebih fakta tentang Aurora yang menjebak Dito agar bisa tidur bersama.
Fakta yang belum terungkap sampai saat ini adalah usia kandungan dan siapa ayah dari anak Aurora yang wanita itu sembunyikan rapat-rapat.
Rayhan mengusap kepalanya ketika mendapat pukulan secara bersamaan dari Keenan dan Samuel. Keduanya keberatan akan perkataan Rayhan.
"Sekarang Alana juga udah bahagia sama pak Alvi."
"Lagian jodoh udah diatur," celetuk Samuel.
"Iya kek lo sama Ara nggak bakal jodoh sampai kapanpun!" sinis Rayhan pada sapupunya.
Tatapan keduanya beradu siap untuk saling melayangkan tinju, tapi urung ketika orang tua Aurora dan Dito datang dengan raut wajah paniknya.
Mengerti dengan keadaan, sahabat-sahabat Dito akhirnya keluar tanpa berpamitan pada Dito.
"Ya ampun ini kenapa bisa terjadi Nak? Kasian banget menantu mamah." Mata mamah Dito sudah berkaca-kaca. Teringat akan putrinya.
"Dito belum tahu kejadian pastinya Mah, tapi kata polisi ditabrak," jawab Dito. Pria itu melirik ibu mertuanya yang tidak bergeming menatap Aurora.
"Maaf, Mom. Harusnya Dito lebih ketat lagi jaga Rora."
"Nggak papa Nak, musibah nggak ada yang tau kapan bakal datang." Sahutnya. "Bayi kalian mana?"
"Ruangan Nicu, Mom."
"Memangnya anak kalian kenapa?" Kini yang bertanya mamah Dito.
"Katanya sejak lahir belum nangis, Mah. Dikira udah meninggal tapi masih bernafas. Dito nggak ngerti," lirihnya. Masih merasa bersalah karena gagal menjaga dua orang dalam hidupnya.
Mamah Dito mengangguk, mengusap pundak putranya yang wajahnya sangat pucat. "Istirahat dulu Nak!"
"Iya Mah." Dito mundur dan duduk di sofa, memberi waktu para orang tua melihat keadaan Aurora yang sebenarnya tidak parah. Hanya luka di kening dan goresan di lengan.
"Jangan terlalu banyak mikir, apalagi nyalahin diri sendiri! Daddy tahu gimana kamu selama ini jaga Rora. Nggak mungkin juga ada ayah yang mau nyelakain anaknya." Daddy Aurora tersenyum menenangkan tanpa menyalahkan siapapun atas kecelakaan yang terjadi pada putrinya.
Terlebih tahu betul kalau putrinya sedikit ceroboh jika melakukan sesuatu.
"Kamu gagal jadi suami dan ayah yang baik!" ucap Papah Dito.
"Maaf Pah."
"Sudah-sudah. Jangan marahin menantu saya seperti itu! Menantumu yang nggak becus jaga diri makanya kecelakaan terjadi!"
Papah Dito mendengus kesal mendengar besanya yang membela Dito.