
Satu bulan kemudian
Waktu tidak terasa begitu cepat berlalu, tapi Dito tidak kunjung mendapatkan restu dari orang tuanya, begitupun dengan orang tua Aurora yang tidak mengizinkan putri mereka menikah sebelum gelar sarjana dia dapatkan.
Kini, Aurora sedang berada di meja makan bersama kedua orang tuanya, menyantap makanan yang terasa hambar dimulut. Entah, tapi beberapa hari terakhir selera makan Aurora tidaklah seperti dulu.
Sang mamah yang sejak tadi diam-diam memperhatikan akhirnya angkat bicara. "Kamu terlihat sangat pucat Nak, apa kurang enak badan?" tanya Mamah Aurora.
Gadis itu lantas mengelengkan kepalanya. "Rora baik-baik aja Mah. Rora berangkat kuliah dulu, Dito udah nunggu di depan." Menyalimi punggung tangan kedua orang tuanya dan berlari menghampiri Dito yang berada di depan pagar setelah menerima pesan dari pria itu.
Peringatan Aron yang menyuruh dia untuk menjauhi Dito tidak Aurora hiraukan, toh dia bebas memilih pendamping hidupnya, terlebih Dito jauh lebih dari Aron. Meski sama-sama anggota geng motor, Dito lebih memanusiakan seorang perempuan dibanding dengan Aron yang hanya menganggap wanita sebagai boneka yang bisa dimainkan kapan saja.
"Dito," sapa Aurora dengan senyuman di bibir pucatnya.
Dito lantas membuka pintu mobil dari dalam. Langsung menyerahkan bekal yang telah dia buat sendiri sebelum menjemput calon ibu dari anaknya. Tidak lupa Dito menyerahkan Liptip yang baru saja dia beli kemarin. "Buat bibir lo."
Ya, Aurora dinyatakan hamil oleh dokter setelah memeriksakan diri bersama Dito. Keduanya tidak kaget karena memang sudah mengira ini sejak awal.
Aurora mengambil bekal tersebut lalu memakannya. "Makasih udah perhatian sama janin gue"
"Harus, diakan juga anak gue. Ah yah, kapan lo mau kabur? Takutnya perut lo makin besar dan ...."
"Maaf To, tapi gue takut sama orang tua gue. Apa kita jujur aja yang sebenarnya?"
Dito mengelengkan kepalanya cepat, ayahnya mempunyai riwayat jantung. Mengetahui putranya telah menghamili anak gadis orang lain mungkin akan menguji adrenalin jantung ayah Dito.
"Satu minggu, kalau kita belum juga dapat restu, maka kita pergi dari kota ini. Lo tenang aja, gue punya tabungan cukup buat kita berdua." Tersenyum tulus. Tidak lupa mengusap kepala Aurora.
Semua kasih sayang dan perhatian telah Dito berikan pada Aurora karena mengerti wanita hamil membutuhkan itu semua. Bukan hanya Aurora yang Dito perhatian, tapi istri ketuanya yang sedang hamil pun Dito jaga layaknya adik sendiri. Sepenyayang itulah pria tampan nan kaya tersebut.
Dito memutar setir kemudi setelah sampai di lingkungan kampus. Buru-buru turun dari mobil hanya untuk membukakan pintu.
Aurora benar-benar sangat beruntung bertemu dengan Dito yang ingin bertanggung jawab atas kehamilannya, mungkin jika Aron atau pria lain mereka tidak akan melakukan hal yang sama.
Keduanya berjalan beriringan memasuki kawasan kampus. Tidak perlu ada drama berpisah untuk keduanya sebab berada di kelas yang sama.
Dito mendelik ketika melihat Keenan dan Ricky berdiri di ambang pintu kelasnya.
"Makin lengket aja kek perangko," sindir Ricky sambil bersedekap dada.
"Harus dong Ky, kan ada .... Ampun bro, nggak jadi kok." Cengir Keenan yang hampir keceplosan akan kehamilan Aurora.
Memang semua teman-teman Dito tahu kalau sekarang Aurora sedang hamil, tentu saja Dito yang menceritakan semuanya dan meminta agar tidak disebarkan, dimana Aurora mungkin saja malu dan stres.
"Nggak udah dengerin mereka, sana masuk!" Mendorong tubuh Aurora pelan memasuki kelas, setelahnya pergi bersama Keenan dan Ricky yang mempunyai jurusan yang sama dengannya.
Berbeda dengan Samuel yang telah berangkat beberapa minggu yang lalu setelah masa cutinya berakhir. Sementara Rayhan mengambil jurusan Teknik Infomatika.
"Katanya Aurora ada hubungan ya sama Aron? Gimana tuh?" celetuk Ricky sambil berjalan.
"Mana gue tau, keknya bakal ada perang deh kalau lo benar-benar nikah sana Aurora."
"Mau gimana lagi orang gue yang hamilin. Mau ngelak jelas-jelas malam itu gue nikmatin tubuh dia."
"Sialan lo nodai pikiran gue!" Keenan lantas mengemplak kepala Dito.
...****************...