Love Scandal

Love Scandal
Part 47 ~ Love Scandal



Dito, pria itu terus menenangkan putrinya yang masih saja menangis akibat bentakan yang dia layangkan pada Aurora. Dia terus saja mengumamkan kata-kata penenang untuk Alana di dalam kamarnya tanpa memperdulikan Aurora yang terus memanggil di ambang pintu.


"Cantik banget sih putri daddy, hm? Jangan nangis ya Sayang? Maafin daddy," ucap Dito berjalan mondar-mondir untuk menenangkan putrinya.


Tangisan Alana mulai mereda, isakannya tidak lagi terdengar pilu membuat Dito sedikit tenang.


"Jangan tinggalin daddy, daddy sayang banget sama Alana." Mengelus pipi bayinya yang tidak lagi menangis, bahkan Alana kembali bermain di atas ranjang.


Dito lantas memasang penyanggah di seluruh pinggir ranjangnya, lalu menyusul Aurora yang terus saja mengetuk pintu tanpa henti. Dia menatap tajam wanita egois di hadapannya.


"Bisa nggak sih lo nggak buat masalah bentar aja?" tanya Dito dengan gigi bergemulutuk.


"Nggak bisa Dito!" jawab Aurora dengan mata berkaca-kaca. Memberontak ingin menemui Alana di dalam kamar tapi Dito malah menyeretnya ke kamar sebelah. Menghempaskan tubuh Aurora ke atas ranjang cukup keras.


"Kemasi barang-barang lo dan pergi secepatnya dari rumah gue!"


"Nggak!"


"Aurora, berhenti mancing emosi gue sialan!" Rahang Dito mengeras. Berjalan menuju lemari untuk mengeluarkan seluruh pakaian Aurora dari dalam sana.


"Gue bakal pergi tapi gue harus bawa Alana. Dia putri gue Dito, gue nggak sanggup pisah dari dia." Aurora berlutut di depan Dito yang masih sibuk menghaburkan isi lemari, bahkan memeluk kaki jengang suaminya.


"Jangan egois gue mohon ...."


"Lo yang egois karena cuma mikirin diri sendiri!" balas Dito.


Aurora mengelengkan kepalanya, semakin erat memeluk kaki Dito, tidak membiarkan suaminya bergerak meski sedikit saja.


"Hidup gue udah hancur sekarang, yang gue punya cuma Alana. Setelah keluar dari rumah ini gue nggak tau mau kemana lagi."


"Pulang ke orang tua lo!"


Yang terpenting saat ini dia harus membawa putrinya pergi agar tidak merasakan kesepian. Dito tidak lagi memaafkan dirinya dan sekarang kekuatannya hanya Alana.


"Pergi tanpa membawa Alana, maka hidup lo bakal baik-baik saja," ujar Dito. Berjongkok untuk membantu Aurora berdiri, menghapus air mata di pipi wanita yang sekarang telah menjadi mantan istrinya.


Sudah Dito katakan semarah apapun dirinya dia tidak sanggup jika harus melihat perempuan menderita.


"Dito, gue cinta sama lo tapi kita nggak mungkin bersama lagi kan? Lo bisa nikah dan punya anak lagi, tapi gimana sama gue?"


Dito mengelengkan kepalanya. "Mungkin ini terakhir dan pertama kalinya gue ngenal namanya hubungan dalam ikatan pernikahan Rora. Dulu gue menganggap pernikahan adalah hal yang menbahagiakan, tapi lo ngancurin semuanya."


"Maaf."


"Nggak masalah." Dito lantas memeluk tubuh bergetar Aurora. "Sekuat apapun sekarang lo mempertahankan, kita nggak bakal bisa bersatu lagi. Pergilah, jalani hidup lo sendiri. Nggak bakal ada yang tau tentang masa lalu lo bahkan para orang tua," bisik Dito.


Memang pada awalnya Dito tidak ada niatan untuk membongkar kebusukan Aurora pada siapapun. Cukup hatinya saja yang terluka, tidak untuk orang tuanya maupun orang tua Aurora.


Dito hanya kejam karena akan memisahkan seorang ibu dari anaknya. Namun, tentang perpisahan bukan nama Aurora yang akan rusak, bukan Rora yang akan dibenci oleh semua orang, tapi dirinya.


Perceraian terjadi karena Dito tidak mencintai istrinya, dia selingkuh dengan wanita lain selama Aurora hamil putrinya. Itulah yang akan orang ketahui tentang perpisahan Dito dan Aurora.


Dito hanya mengingingkan putrinya, bukan kerusakan dan penderitaan Aurora.


"Pergilah," ulang Dito.


Aurora mengeleng, mencengkram kemeja Dito di bagian dada. "Lo pernah ngomong kita bakal bersama seumur hidup, Dito."


"Seumur hidup terlalu lama buat kita yang sama-sama egois," balas Dito tertawa hambar.


"Pergilah tanpa membawa putri kita, jangan pisahin gue sama Alana. Karena lo nggak bakal tau apa yang bakal terjadi kalau gue marah kali ini."