
Dito, pria itu sesekali meringis ketika kapas yang telah dicelupkan pada alkohol menyentuh luka goresan yang diciptakan Aron beberapa menit yang lalu.
Hampir saja Dito masuk rumah sakit kalau saja Keenan dan beberapa anggota Avegas telat datang satu menit saja. Namun, nasib baik masih berpihak pada Dito. Di saat dia kewalahan melawan anggota Aron, Keenan datang untuk menolong.
Tidak sia-sia dia pernah mengusulkan untuk memasamg GPS di setiap motor anggota Avegas agar bisa memantau kalau saja teman-teman mereka dalam bahaya.
Seperti saat ini, Keenan yang tahu di mana Dito berada segera menyusul sebab tahu betul tempat yang Dito kunjungi adalah sarang Aron.
"Sok kuat sih," celetuk Rayhan tidur tengkurap di atas sofa.
"Maklumin Ray, ada yang bucin tapi tolol." Ricky tertawa puas tanpa ada rasa kasihan pada sahabatnya.
"Diam lo pada!" tegur Dito menikmati perawatan dari Keenan.
"Di suruh diam kita Ky, padahal kitakan punya mulut." Bukannya berhenti Rayhan malah semakin menjadi bersama Ricky.
Kalau saja bukan lemparan bungkus rokok yang berasal dari Samuel, keduanya mungkin tidak akan diam.
"Dah selesai," ucap Keenan. "Lain kali kalau mau nyerang kabarin kita. Lo luka kita juga yang susah," omel Keenan penuh kasih sayang.
"Aelah cuma luka goresan gini doang. Besok juga sembuh." Dito memilih menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil menghisap sebang rokok yang baru saja dia bakar.
Pria baik? Dito bukan pria baik apalagi suci, mungkin organ tubuhnya sudah rusak sebab minuman keras dan rokok yang dia konsumsi hampir setiap harinya jika datang ke markas.
"Lo beneran udah nggak cinta sama Rora? Kok rela belain dia sampai segitunya." Rayhan kembali menyeletuk. Kini pria itu merubah posisinya menjadi duduk.
"Gue bukan belain dia, gue belain diri sendiri njir. Kalau bukan Aron gue nggak mungkin ditipu sama Rora!"
"Emang iya?"
"Iyalah, bodoh!"
Inti Avegas lantas tertawa melihat wajah Dito yang memerah, mungkin karena menahan malu.
"Mau kemana lo Keen?" tanya Samuel.
"Ada urusan bentar!" Keenan meninggalkan teman-temannya, berjalan menuju halaman rumah untuk menghubungi seseorang.
"Udah liat?" tanya Keenan setelah Aurora menjawab panggilannya.
"Sekarang Dito di mana? Di rumah sakit? Kok bisa luka?"
Keenan mengulum senyum mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Aurora.
"Markas, dia baik-baik aja mungkin. Katanya cuma lula goresan kecil. Udah ya Rora, gue nyampein tentang Dito sampai di sini aja, lagian kalian nggak mungkin bersama lagi kan?"
Keenan mulai tidak enak pada sahabatnya jika terus melaporkan pada Aurora setiap kali Dito terluka.
"Makasih ya udah bantuin gue bangkit sampai saat ini. Jaga Dito buat gue, dah."
Keenan mengangguk, kembali masuk ke markas setelah memutuskan sambungan telpon dengan Aurora. Pria itu menyengir ketika melihat Dito bersedekap dada tidak jauh dari pintu.
"Dikasih uang berapa?" tanya Dito.
"Amal tabungan akhirat!"
"Cielah tabungan akhirat, mau ke akhirat paket undangan kagak?" tanya Dito dengan wajah songongnya membuat Keenan terkekeh.
"Sorry bro, Rora yang minta, jadi gue nurut aja."
"Di suruh makan taik mau lo?"
"Anjir!" Keenan lantas memukul kepala Dito. Berjalan beriringan saling merangkul mendekati teman-temannya yang lain.
"Jangan kasih tau dia kalau gue luka. Gue bukan tanggung jawab dia lagi, kita udah pisah Keen. Gue mau dia hidup bahagia tanpa tekanan dari gue maupun masa lalunya," ucap Dito tiba-tiba serius.
"Tau kok."
Dito dan Keenan kembali bergabung dengan teman-temannya, seru-seruan bersama. Membahas hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Seperti Ricky yang lagi-lagi menjadi selingkuhan. Rayhan yang tidak kunjung berbaikan dengan Giani. Juga Samuel sampai sekarang belum bertemu dengan Aranya.
Banyak hal yang mereka bicarakan, sampai mengenang masa-masa SMA di mana inti Avegas masih lengkap. Avegas yang selalu kokoh karena ketuanya yang tidak mudah tumbang.
Jujur saja ke limat inti Avegas merindukan ketuanya. Mereka seakan kehilangan arah tanpa Azka.